Smartwatch di Pergelangan Bangsa: Membaca Indonesia Melalui Heidegger, Merleau-Ponty, dan Simondon

Selasa, 12 Mei 2026 - 19:12 WIB
loading...
Smartwatch di Pergelangan...
Dr Ressa Uli Patrissia, Pemerhati Komunikasi dan Teknologi Universitas Muhammadiyah Palangka Raya, Kalimantan Tengah. Foto/Dok. SindoNews
A A A
Dr. Ressa Uli Patrissia
Pemerhati Komunikasi dan Teknologi
Universitas Muhammadiyah Palangka Raya, Kalimantan Tengah

PAGI hari di Jakarta, tahun 2026. Sebelum kopi disesap, sebelum mata sepenuhnya terbuka, sebuah getar lembut di pergelangan tangan sudah menyampaikan vonis: “Skor tidur Anda 62. Stres tinggi terdeteksi. Mulai latihan pernapasan?”

Pemandangan ini tidak lagi futuristik. Dari Garmin Fenix 8 Pro di tangan eksekutif Sudirman, Apple Watch Series 11 di pergelangan content creator, sampai Redmi Watch 5 di tangan mahasiswa Depok dan Vivan VWF18 dua ratus ribuan di tangan pengemudi ojek online—jam tangan pintar telah menjadi pemandangan biasa Indonesia hari ini.

Pasar smartwatch di Tanah Air tahun ini didorong oleh narasi kesehatan: deteksi dini risiko diabetes pada Huawei Watch FIT 5 Pro yang baru saja meluncur di Indonesia, EKG bersertifikasi, monitoring stres berbasis HRV, mood tracking, sampai jurnal singkat yang ditenun ke dalam pergelangan.

Diskusi publik tentang perangkat ini biasanya berhenti di ulasan konsumen: baterai berapa hari, fitur apa yang baru, harga seberapa masuk akal. Tetapi smartwatch bukan sekadar gadget. Ia adalah peristiwa filosofis. Ia mengubah cara kita “ada”, cara kita “bertubuh”, dan cara kita berhubungan dengan teknologi itu sendiri. Tiga filsuf—Martin Heidegger, Maurice Merleau-Ponty, dan Gilbert Simondon—membantu kita melihat apa yang sedang terjadi di pergelangan kita.

Ketika Tubuh Menjadi “Persediaan”
Dalam Die Frage nach der Technik, Heidegger menolak pandangan bahwa teknologi adalah alat netral yang baik atau buruk tergantung penggunanya. Bagi Heidegger, teknologi modern adalah sebuah cara menyingkapkan dunia—sebuah Gestell (penjebakan atau pembingkaian) yang membuat segala sesuatu tampil sebagai Bestand: cadangan, persediaan, sumber daya yang siap dikelola dan dioptimalkan. Sungai disingkapkan sebagai potensi listrik. Hutan menjadi stok kayu. Manusia menjadi “human resources”.

Smartwatch melakukan hal serupa terhadap tubuh. Di pergelangan tangan kita, jantung tidak lagi sekadar berdetak; ia menghasilkan grafik HRV. Tidur tidak lagi sekadar tidur; ia menjadi “skor tidur” dengan persentase REM dan deep sleep. Napas tidak lagi sekadar napas; ia adalah variabel yang dilatih lewat guided breathing. Tubuh, dalam pembingkaian ini, adalah Bestand—gudang data biometrik yang harus terus dipantau, diukur, dan dioptimalkan agar tidak “merugi”.

Bahaya yang dilihat Heidegger bukan teknologi itu sendiri, melainkan kemenangan cara-membingkai ini sebagai cara-tunggal memandang realitas. Ketika smartwatch menjadi penengah utama hubungan kita dengan tubuh, kita berisiko lupa bahwa ada cara lain mengenal tubuh—lewat rasa, intuisi, ritme bersama orang lain, kelelahan yang punya makna bukan sekadar angka.

Di Indonesia 2026, ini bukan kekhawatiran abstrak. Laporan Workplace Mental Health menyebut lebih dari separuh karyawan kita mengalami burnout kronis. Hustle culture masih kuat, sambil semakin banyak anak muda yang mencoba slow living.

Di tengah paradoks ini, smartwatch yang menjanjikan “manajemen stres” justru rawan menjadi alat untuk memforsir tubuh lebih efisien lagi. “Healing” pun harus dioptimalkan; istirahat harus trackable; bahkan menarik napas dalam-dalam adalah aktivitas yang punya skor harian. Inilah Gestell yang sempurna: bahkan resistensi terhadap produktivisme dimasukkan kembali ke dalam logika produktivisme.

Smartwatch yang Menubuh
Jika Heidegger menyoroti bahaya pembingkaian, Maurice Merleau-Ponty mengajak kita melihat sisi yang lebih intim. Dalam Phénoménologie de la perception, ia menulis bahwa tubuh bukanlah objek yang kita miliki, melainkan medium tempat kita menjangkau dunia. Tubuh adalah subjek persepsi itu sendiri. Dan yang menarik, skema tubuh (schéma corporel) bisa diperluas: tongkat orang buta, setelah dipakai cukup lama, berhenti menjadi objek terpisah dan menjadi perpanjangan persepsi—lewat tongkat itu ia “menyentuh” lantai, “merasakan” trotoar.
Halaman :
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Lanjut Baca Berita Terkait Lainnya
Berita Terkait
Smartwatch AI, Kala...
Smartwatch AI, Kala Algoritma Mulai Membentuk Cara Kita Menilai Diri
Masalah Perampasan Aset...
Masalah Perampasan Aset Tindak Pidana
Mahalnya Harga Stabilitas
Mahalnya Harga Stabilitas
Perang Iran Menjadi...
Perang Iran Menjadi Warisan Buruk Kebijakan Luar Negeri Amerika Serikat
Apakah Pengadilan Tengah...
Apakah Pengadilan Tengah Mengadili Metode Berpikir dr Tifa dan Roy Suryo?
Perubahan UU Pemilu:...
Perubahan UU Pemilu: Membangun Sistem Pemilu yang Demokratis, Berkeadilan, dan Berintegritas
Plogging Jadi Tren Gaya...
Plogging Jadi Tren Gaya Hidup Aktif yang Padukan Olahraga dan Peduli Lingkungan
Perlindungan Kacamata...
Perlindungan Kacamata Kini Jadi Kebutuhan Penunjang Gaya Hidup Modern
Gaya Hidup Praktis dan...
Gaya Hidup Praktis dan Estetis Jadi Tren Hunian Generasi Muda
Rekomendasi
PLN EPI Bidik Pasar...
PLN EPI Bidik Pasar Hidrogen Hijau untuk Industri dan Penerbangan
Sambut Hari Kemerdekaan,...
Sambut Hari Kemerdekaan, The Margo Hotel Hadirkan Kuliner Bertema Harmony of Indonesia
Video Viral di Lubuk...
Video Viral di Lubuk Pakam Jadi Pengingat, Begini Prosedur Aktivasi Rekening PIP
Berita Terkini
Jubir Otorita IKN Troy...
Jubir Otorita IKN Troy Pantouw Dimakamkan di TPU Tanah Kusir Besok
Kapolri Cup Shooting...
Kapolri Cup Shooting Championship 2026, Ajang Perkuat Sinergitas dan Pembinaan Atlet
Satgas Ketenagakerjaan...
Satgas Ketenagakerjaan Polri Tangani 97 Kasus, Pakar: Komitmen Kapolri Lindungi Buruh
Jaksa Agung Minta Maaf...
Jaksa Agung Minta Maaf ke Publik, Sebut Kasus Eks Jampidus Jadi Momentum Berbenah
DPR Usul Kemenhaj Bentuk...
DPR Usul Kemenhaj Bentuk BLU untuk Kelola Asrama Haji
Diduga Langgar Etik,...
Diduga Langgar Etik, Ketua KPU RI Dilaporkan ke DKPP Terkait Pembiaran Dokumen Ijazah Jokowi
Infografis
10 Negara dengan Jalan...
10 Negara dengan Jalan Terbaik di Dunia, Juaranya Tetangga Indonesia
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved