Arogansi dan Egoisme yang Radikal

Senin, 11 September 2023 - 11:39 WIB
loading...
A A A
Jadi, individu harus menjadi pusat segala hal dalam kehidupan mereka, dan mereka harus mengutamakan kepentingan dan kebahagiaan pribadi mereka sendiri di atas segala sesuatu. Stirner menganggap bahwa konsep-konsep abstrak seperti moralitas, agama, dan ideologi hanya membatasi individu dan menghambat ekspresi dari keinginan dan ambisi individu. Stirner sangat kritis terhadap otoritas eksternal, baik dalam bentuk pemerintah, agama, maupun moralitas yang diberlakukan oleh masyarakat. Ia menganggap bahwa individu harus membebaskan diri dari kendali eksternal ini dan tidak boleh terikat oleh norma-norma yang ditetapkan oleh masyarakat atau lembaga-lembaga sosial.

Sudah pasti banyak pemikir lain yang tidak sependapat dengan Stirner. Mulai dari yang halus sampai yang lumayan keras. Menurut Emanuel Levinas, filosof Prancis, egoisme begitu saja terkandung dalam keberadaan manusiai karena kegiatan kita yang mentotalisasi. Totalisasi yang dimaksudkan adalah sikap dasar yang kita ambil untuk memandang dan menguasai segala-galanya dengan diri kita sendiri sebagai titik pusatnya. Kita bersikap dan mengubah realitas di sekitar kita menjadi suatu obyek. Dan kita menjadikan diri kita sebagai subyek yang mendominasi segalanya.

Dalam stadium awal, totalisasi ini masih dianggap tak bersalah. Sebab hanya semacam egosentrisme dan egoisme yang naif. Sikap semacam itu juga sering dapat dilihat pada diri anak-anak. Sikap ini tak menjadi soal selama tidak disajikan kemungkinan untuk "berjumpa" dengan orang lain.

Tapi, sikap egois yang radikal itu menjadi salah dan tidak etis bila saya menolak perjumpaan dengan orang lain. Dan orang lain itu juga mengajukan tuntutan untuk diakui. Maka dimensi etis pun muncul. Dan hanya dengan "mendengarkan" orang lain kita mendobrak totalisasi kita. Dengan mendengarkan, maka pemikiran, kebenaran dan hak saya, tidak lagi merupakan satu-satunya pemikiran, kebenaran dan hak untuk saya. Sebab inti keadilan, menurut Levinas, adalah sungguh-sungguh menerima orang serbagai yang lain, mendengarkan dia, dan mengucapkan selamat datang kepadanya – justru karena dia orang lain.

Sementara Karl Max mengertitik Stirner sebagai "Individualisme Borjuis" dan menganggap pemikirannya sebagai ekspresi dari ideologi borjuis yang berusaha mempertahankan status quo kapitalisme. Marx berpendapat bahwa pemikiran Stirner bertentangan dengan tujuan revolusioner untuk menggulingkan kapitalisme dan membebaskan kelas pekerja. Lalu Friedrich Engels, mengkritik Stirner sebagai seorang "petualang mental" yang tidak memiliki dasar materialis dalam analisisnya tentang masyarakat.

Piierre-Joseph Proudhon memandang pemikiran Stirner sebagai "egoisme yang nihilistik" dan menganggapnya tidak memadai sebagai dasar untuk membangun masyarakat yang adil. Intinya, banyak pemikir modern yang menganggap pemikiran Stirner tentang egoisme dan individualisme ekstrem terlalu sempit dan tidak memadai untuk memahami kompleksitas masyarakat modern.

Setuju dengan Levinas, pandangan Stirner itu hanya cocok buat mereka yang belum dewasa alias masih anak-anak. Sebagai bocah cilik (bocil), tentunya mereka belum memahami aneka norma dalam kehidupan orang dewasa. Pandangan Stirner menyiratkan sebuah kepribadian yang tidak berkembang. Nah, apakah Anda sering menyaksikan kepribadian seperti bocil itu di sekitar Anda?
(wur)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Lanjut Baca Berita Terkait Lainnya
Berita Terkait
Terima Kunjungan Sekjen...
Terima Kunjungan Sekjen ICAPP, PKB Perkuat Jembatan Diplomasi Politik dengan Korsel
Momen Hangat Prabowo-Megawati,...
Momen Hangat Prabowo-Megawati, Tertawa hingga Bergandeng Tangan
Usulan KPK soal Capres-Cawapres...
Usulan KPK soal Capres-Cawapres dari Kader Partai Dinilai Keliru
Usulan KPK soal Bakal...
Usulan KPK soal Bakal Capres-Cawapres dari Kader Partai Tidak Mudah
Kilas Balik Perjalanan...
Kilas Balik Perjalanan Politik Prabowo Diputar di Istana, Termasuk saat Bersama Megawati di Pilpres 2009
Seskab Teddy Temui Wapres...
Seskab Teddy Temui Wapres Gibran, Silaturahmi dan Bahas Kondisi Tanah Air
Wapres Filipina Sara...
Wapres Filipina Sara Duterte Maju sebagai Calon Presiden pada Pemilu 2028
Dalam 24 Jam, Ferry...
Dalam 24 Jam, Ferry Irwandi Kumpulkan Dana Rp8,2 Miliar untuk Pemulihan Banjir dan Longsor Sumatra
Siapa Nasry Asfura?...
Siapa Nasry Asfura? Capres Honduras Keturunan Palestina yang Didukung Trump
Rekomendasi
Brasil vs Maroko: Peluang...
Brasil vs Maroko: Peluang Selecao Kalahkan Singa Atlas Capai 58,6 Persen
Penasihat Mojtaba Khamenei:...
Penasihat Mojtaba Khamenei: Trump Setuju Cairkan Aset Iran Rp426,7 Triliun yang Dibekukan AS
Koridor Dagang Ankara...
Koridor Dagang Ankara dan Riyadh Buat Israel Ketar-ketir, Ini 3 Pemicunya
Berita Terkini
MUI Desak Hukuman Tegas...
MUI Desak Hukuman Tegas Bagi Pelaku dan Pengkampanye LGBT
Kemenhaj: 76.829 Jemaah...
Kemenhaj: 76.829 Jemaah Haji dari 195 Kloter Telah Tiba di Indonesia
Prabowo Bakal Hadiri...
Prabowo Bakal Hadiri KTT ASEAN-Rusia di Kazan 17 Juni, Ini Kata Wamenlu
Kasus Muara Enim, Eks...
Kasus Muara Enim, Eks Penyidik KPK: WTP Penting Bagi Pemda, Malah Jadi Ajang Negosiasi
Peduli Lingkungan, Aliansi...
Peduli Lingkungan, Aliansi Lintas Agama-Kementerian LH Serukan Tobat Ekologis Nasional
Diseminasi Eksaminasi...
Diseminasi Eksaminasi Ungkap Dugaan Kekeliruan Penegakan Hukum dalam Kasus Eks Dirut Indofarma
Infografis
5 Alasan Perdamaian...
5 Alasan Perdamaian Amerika Serikat dan Iran Sulit Terwujud
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved