ASEAN Benteng Stabilitas Indo-Pasifik

Senin, 11 September 2023 - 07:38 WIB
loading...
A A A
Saat menyerahkan tongkat estafet kepemimpinan ASEAN kepad Laos, Presiden Jokowi mengingatkan bahwa pekerjaan besar ASEAN tidak mungkin selesai karena akan terus menghadapi beragam dinamika dan kompleksitas global. Karena itulah, mantan Wali Kota Solo itu mengajak negara-negara anggota untuk bahu membahu menavigasi tantangan menjadi peluang, rivalitas menjadi kolaborasi, eksklusifitas menjadi inklusifitas, dan perbedaan menjadi persatuan.

Pada momen KTT ASEAN, Jokowi juga menyampaikan pesan langsung kepada para pemimpin perwakilan negara ASEAN untuk tidak menciptakan konflik dan ketegangan baru, guna menjaga perdamaian. Jokowi juga mengingatkan bahwa negara-negara ASEAN memiliki tanggung jawab menurunkan tensi yang panas untuk mencairkan suasana yang beku, untuk menciptakan ruang dialog.

"Dan saya bisa pastikan bahwa sampai saat ini ASEAN telah berada pada track yang benar untuk bisa menjalankan peran tersebut, menjadi kontributor stabilitas dan perdamaian, serta menjadi epicentrum of growth," ucapnya.

Ajakan yang disampaikan Jokowi sangat tepat bila melihat turbulensi dinamika yang berkembangan belakangan. Pertarungan kepentingan negara-negara besar, dalam hal ini AS dengan sekutunya -terutama AUKUS- versus China, untuk memperebutkan pengaruhnya di kawasan Indo-Pasifik sangat berpotensi menyeret negara-negara ASEAN ke dalam medan konflik, bahkan perang terbuka. Perbedaan kepentingan dan orientasi politik antar-negara ASEAN plus konflik LCS rawan menjadi pintu masuk.

Bisa dibayangkan, jika perang terjadi di Selat Taiwan antara Taiwan dengan sekutu barat-nya versus China atau Korea Selatan berhadap dengan Korea Utara, area pertempuran relatif bisa dibatasi di wilayah perbatasan sengketa. Namun bila pecah perang di LCS, maka perang akan melebar ke kawasan lebih luas di Indo-Pasifik.

Potensi ini terjadi karena posisi strategis LCS dan sumberdaya di dalamnya, serta terkoneksi langsung dengan Indo-Pasifik. Sangat mungkin, perang yang melibatkan beberapa negara yang bersengketa plus intervensi kekuatan adi daya di LCS dan ambisi memperebutkan kekuasaan di kawasan Indo-Pasifik akan melebar dan memicu perang dunia ketiga.

Karena itulah, sangat penting bagi negara-negara ASEAN untuk tetap berpegang teguh pada tujuan berdirinya ASEAN seperti termaktub dalam Deklarasi Bangkok maupun prinsip hubungan antar-anggota seperti tercantum dalam TAC. Setiap konflik di internal negara atau antar-negara ASEAN diselesaikan dengan cara dialog, tanpa kekerasan, dan menghindari campur tangan asing walaupun dari sesama negara ASEAN.

Pun bila masing-masing negara ASEAN sudah memiliki aliansi seperti dilakukan Malaysia dan Singapura dalam FPDA atau memiliki kerjasama militer dengan negara-negara besar seperti ditunjukkan Filipina yang membuka negara untuk dijadikan pangkalan militer AS dan beberapa negara di Indo China dengan China, jangan sampai menabrak rambu-rambu dasar berdirinya ASEAN.

baca juga: Wapres Ajak ASEAN Perkuat Ketahanan Pangan

Dalam perjalanan sejarahnya, ASEAN memiliki track record positif menyelesaikan konflik di masing-masing negara atau antar-negara anggota. Bahkan ASEAN menjadi bagian dari resolusi konflik. Fakta ini bisa diverifikasi pada perang saudara di Kamboja yang didalamnya melibatkan kekuatan Vietnam Utara dan China, serta AS. Selain PBB, ASEAN -terutama yang diwakili Menlu Ali Alatas- terlibat aktif perjanjian damai yang berlangsung pada sekitar tahun 1980.

Begitu juga pada konflik Filipina dengan Moro Nationalism Liberation Front (MNLF) Moro, ASEAN dengan dimotori Indonesia menjadi bagian penting resolusi konflik, hingga perdamaian Filipina terwujud dan berlangsung hingga saat ini.

Kohesivitas yang terbangun kuat di antara anggota ASEAN dan komitmen untuk menjaga cita-cita berdirinya ASEAN modal kuat untuk menghadapi dinamika internal ASEAN, konflik LCS dan pertarungan geopolitik dan geostrategi di Indo-Pasifik. Jangan sampai di antara anggota ASEAN terperangkap menjadi pion dan proxy negara-negara besar untuk memainkan kepentingan dan membenturkannya dengan kekuatan lain, terutama dalam konteks rivalitas AS versus China dalam konflik LCS,

Bila kondisi tersebut terpenuhi, maka ASEAN benar-benar menjadi centrum membentengi stabilitas di kawasan Indo-Pasifik, dan kawasan tersebut bisa menjadi teater perdamaian dan inklusivitas. Dalam konteks kepentingan ASEAN, hadirnya stabitas di Indo-Pasifik menjadi prasarat mutlak membangun kontinuitas ASEAN sebagai center of growth hingga harapan kesejahteraan bangsa-bangsa ASEAN dan masyarakatnya bisa terwujud. (*)
(hdr)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Lanjut Baca Berita Terkait Lainnya
Berita Terkait
UPI YAI dan Shinawatra...
UPI YAI dan Shinawatra University Thailand Kerja Sama Tingkatkan Kualitas Pendidikan
Mobil Maung Dibawa ke...
Mobil Maung Dibawa ke KTT ASEAN di Filipina, Seskab: Jadi Simbol Diplomasi Indonesia
Prabowo Dorong Penyelesaian...
Prabowo Dorong Penyelesaian Damai Thailand-Kamboja di KTT ASEAN
Momen Prabowo Kenakan...
Momen Prabowo Kenakan Barong Motif Batik saat Gala Dinner KTT ke-48 ASEAN
Maung Presiden Prabowo...
'Maung' Presiden Prabowo Curi Perhatian Delegasi ASEAN dan Warga Filipina
Prabowo Dorong Pemimpin...
Prabowo Dorong Pemimpin ASEAN Bersatu Tegakkan Hukum Internasional
6 Jet Tempur Canggih...
6 Jet Tempur Canggih yang Bakal Panaskan Langit ASEAN: F-35 Singapura hingga Rafale Indonesia
5 Kapal Perang Paling...
5 Kapal Perang Paling Canggih di ASEAN, Termasuk Kapal Malaysia yang Batal Miliki NSM
Daftar 11 Pemimpin ASEAN...
Daftar 11 Pemimpin ASEAN yang Paling Sering Bepergian ke Luar Negeri, Prabowo Nomor Satu
Rekomendasi
Rekomendasi Microdrama...
Rekomendasi Microdrama V+Short Bertema Perselingkuhan, Konfliknya Bikin Emosi!
Cerita Fulviana, Mahasiswa...
Cerita Fulviana, Mahasiswa UGM yang Lulus Kedokteran di Usia 20 Tahun
Pengadilan Tolak Seluruh...
Pengadilan Tolak Seluruh Gugatan Nikita Mirzani, Reza Gladys Menang Telak
Berita Terkini
Dadan Hindayana Cs Terjerat...
Dadan Hindayana Cs Terjerat Korupsi, DPR Perketat Pengawasan Tata Kelola di BGN
Noel Jelang Vonis Kasus...
Noel Jelang Vonis Kasus Pemerasan di Kemnaker: Naik Asam Lambung Saya
Kejagung Ungkap Tersangka...
Kejagung Ungkap Tersangka Dadan Hindayana dan 2 Eks Waka BGN Bekerja Sama dan Saling Mengetahui
Tersangka Korupsi, Silmy...
Tersangka Korupsi, Silmy Karim dan Pejabat Imigrasi Dinonaktifkan dari Jabatan
Silmy Karim Tersangka...
Silmy Karim Tersangka Korupsi, Menteri Imipas Dukung Proses Penegakan Hukum
Harta Kekayaan Silmy...
Harta Kekayaan Silmy Karim Rp234,5 Miliar, Kini Jadi Tersangka Dugaan Pemerasan
Infografis
Daftar Negara dengan...
Daftar Negara dengan Pengangguran Terbanyak di ASEAN, Indonesia Urutan Pertama
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved