Capres-Cawapres Paket Nasionalis-Religius

Minggu, 18 Juni 2023 - 12:55 WIB
loading...
A A A
Selebihnya 70% atau sekitar 109 juta suara tergolong pemilih emosional. Dari jumlah ini, termasuk kalangan Ibu-ibu muslimah fanatis khususnya dan pemuda muslim dari kelompok santri dipastikan cenderung akan memilih TGB. Ada berapa juta jumlah alumni dan santri aktif milenial yang punya hak pilih di semua pesantren NU di seluruh Indonesia saat ini. Mereka berpotensi kuat mendukung dan akan memilih TGB pada Pilpres 2024.

Pada kalangan pemilih Islam tingkat pengaruh TGB dan Sandiaga Uno sangat berbeda pada klaster wilayah tertentu seperti di NTB, Jawa Timur, Jawa Barat, Sulawesi, Maluku, Kalimantan, hingga Sumatera. Basis pemilih di setiap wilayah ini diyakini didominasi oleh TGB sebagai tokoh intelektual muslim yang memiliki pengaruh jauh lebih unggul dibanding Sandiaga Uno.

TGB memiliki kapasitas memadai dan kredibilitas untuk memanfaatkan secara maksimal jaringan semua lembaga dakwah dan lembaga-lembaga Islam lainnya, kalangan rohaniawan muslim, para ustaz, ulama dan basis massa Islam yang tersebar di luar pemilih tradisional PDIP adalah lahan hijau bagi TGB untuk membantu kemenangan Ganjar. Keterwakilan kelompok berbasis religi yang pemilihnya mencapai 40% di seluruh Indonesia tentu akan memilih TGB. Kelebihan ini tidak dimiliki oleh Sandiaga Uno. Karena itu, TGB bisa menjadikan dia sebagai perisai bagi Ganjar menghadapi serangan lawan yang sewaktu-waktu bisa muncul dari kelompok agama khususnya Islam.

TGB seorang nasionalis–religius yang tidak diragukan keasliannya. Ini bisa dilihat dari latar politik perjuangan sang kakek TGB. Muhammad Zainuddin Abdul Majid (Tuan Guru Pancor) dan Tuan Guru Haji (TGH) adalah keturunan Sultan Selaparang, sebuah kerajaan Islam di Lombok. Dari sanalah, darah kepemimpinan TGB mengalir.

Pada awal abad 20, tepatnya tahun 1937 masa kolonial Belanda, TGH mendirikan madrasah-madrasah NW di Pancor. Madrasah NW ini sebagai base-camp latihan perang para santri untuk melawan kolonialis Belanda di wilayah Lombok. Pengibaran bendera perang melawan kolonialis Belanda oleh sang kakek TGB menjadikan keluarga ini berstatus pejuang terhormat di kalangan masyarakat NTB khususnya. Kemudian pada tahun 1953 sang kakek mendirikan organisasi Islam terbesar di NTB bernama Nahdlatul Wathan (NW adalah NU yang ada Lombok) yang berdiri kokoh hingga sekarang.

Dari berbagai kelebihan dimaksud, TGB efektif bisa menutupi kekurangan Ganjar. TGB sangat menguntungkan Ganjar pada aspek ideologis ini. Ganjar yang berwarna “Nasionalis” ketika disandingkan dengan TGB, maka warna politiknya ikut berubah menjadi “Nasionalis –Religius”. Sebaliknya, jika Ganjar berpasangan dengan Sandiaga Uno, maka warna politik mereka menjadi “Nasionalis – Sekuler”. Di kalangan pemilih berbasis agama yang jumlahnya sangat besar, warna politik “Nasionalis – Sekuler” ini tidak akan mampu mendorong kemenangan Ganjar.

Analisis dari aspek kekuatan media komunikasi, sebesar 30% kemenangan pemilu (pilpres atau pilkada) karena dorongan kekuatan media massa (mainstream), media konvergensi, media online dan media portal yang dimanage dengan efektif dalam strategi marketing politik. Sementara, Sandiaga Uno tidak memiliki kekuatan riil media seperti ini.

Dari aspek logistik, pilpres membutuhkan ongkos politik yang relatif besar untuk membiayai proses politik. Karena itu, persiapan logistik (ongkos politik) menjadi sesuatu keniscayaan. Keberadaan kursi partai di Senayan juga tidak selalu mutlak berkolerasi positif atau negatif terhadap menang atau kalah seorang kandidat dalam pilpres. Tingkat popularitas, nilai ketokohan dan kredibilitas personal calon seperti TGB sangat menentukan jumlah perolehan suara di setiap segmen pemilih di hari H.

"TGB belum tentu bisa mendongkrak kemenangan di Pilpres 2024," kata Awiek. Ia membandingkan perolehan suara TGB di Nusa Tenggara Barat (NTB) dengan pencapaian Sandiaga di Pilpres 2019 dan Pilkada DKI Jakarta 2017 silam. Dalam konteks ini Awiek tidak sadar menyamakan pemilihan gubernur yang terbatas dalam wilayah provinsi dengan event pilpres yang melibatkan hampir semua warga di seluruh Indonesia yang telah memiliki hak pilih. Antara proses pilkada dan pilpres banyak faktor berbeda secara signifikan. Semua faktor dimaksud berpengaruh terhadap pilihan setiap voters dan hasil akhir.

Awiek menyinggung soal kekuatan suara pendukung TGB dalam pemilihan Gubernur di NTB, jumlah penduduk NTB, jumlah perolehan suara di Dapil saat TGB menang menjadi anggota DPR RI. Awiek seakan tidak memahami jumlah voter dan faktor motif partisipasi pemilih pada pilkada, pileg, dan pilpres adalah jauh berbeda. Awiek tidak tahu bahwa TGB memiliki lembaga pendidikan politik bernama "Akademi Perindo". Lembaga ini adalah turbolensi kekuatan kaderisasi yang sangat penting untuk mewarnai semangat dukungan semua pengurus, timses, relawan dan anggota Partai Perindo di semua tingkat hingga akar rumput.

Soal kemampuan jaringan di luar negeri, lebih berpotensi TGB dibanding Sandiaga Uno. Membangun jaringan politik berbicara soal kemampuan PR masing-masing kandidat. Sandiaga Uno maupun TGB memiliki pengalaman hidup di negara lain, sama-sama pernah sekolah di luar negeri. Sandiaga Uno pernah kuliah S1 dan S2 di Washington. Ia pernah kerja di Malaysia, lalu di Kanada. Sementara TGB sangat potensial untuk menggalang kekuatan memulai dari Kairo kemudian merebak ke berbagai negara lain melalui jaringan pendidikan Al-Azhar yang ada di seluruh dunia.
Halaman :
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Lanjut Baca Berita Terkait Lainnya
Berita Terkait
Usulan KPK soal Capres-Cawapres...
Usulan KPK soal Capres-Cawapres dari Kader Partai Dinilai Keliru
Usulan KPK soal Bakal...
Usulan KPK soal Bakal Capres-Cawapres dari Kader Partai Tidak Mudah
TGB Zainul Majdi dan...
TGB Zainul Majdi dan Dubes Iran Gelar Pertemuan, Bahas Apa?
UU Pemilu Digugat 2...
UU Pemilu Digugat 2 Advokat, MK Diminta Larang Keluarga Presiden-Wapres Jadi Capres-Cawapres
Peluang Sjafrie Sjamsoeddin...
Peluang Sjafrie Sjamsoeddin di Bursa Capres-Cawapres 2029, Ini Analisis Ray Rangkuti
Gibran Berpotensi Jadi...
Gibran Berpotensi Jadi Capres 2029, Jokowi: Prabowo-Gibran 2 Periode, Sudah Itu Saja
Wapres Filipina Sara...
Wapres Filipina Sara Duterte Maju sebagai Calon Presiden pada Pemilu 2028
Siapa Nasry Asfura?...
Siapa Nasry Asfura? Capres Honduras Keturunan Palestina yang Didukung Trump
Politikus yang Dituding...
Politikus yang Dituding sebagai Pengkhianat oleh Trump Ingin Jadi Capres 2028
Rekomendasi
Link Live Streaming...
Link Live Streaming Timnas Indonesia vs Oman di FIFA Matchday
Timnas Indonesia dan...
Timnas Indonesia dan Oman Tiba, Lautan Suporter Padati Stadion GBK
Youth ESG Maritime 2026...
Youth ESG Maritime 2026 Dorong Generasi Muda Ciptakan Solusi Nyata bagi Krisis Lingkungan Laut
Berita Terkini
KontraS Kritik Tuntutan...
KontraS Kritik Tuntutan 2,5 Tahun Penjara untuk Terdakwa Penyiraman Andrie Yunus
Revisi UU Polri, Menteri...
Revisi UU Polri, Menteri Pigai Usulkan Sejumlah Jabatan Utama Bisa Diisi Sipil
Film Pesta Babi Bergeser...
Film Pesta Babi Bergeser dari Kritik Sosial Jadi Instrumen Kampanye Disintegrasi Papua
KPK Angkut Moge, Mobil...
KPK Angkut Moge, Mobil Mewah, dan Sepeda usai Geledah Rumah Silmy Karim
Ancam 6 Juta Tenaga...
Ancam 6 Juta Tenaga Kerja, Wacana Kemasan Polos Harus Dibatalkan
DPR Minta KAI Bereskan...
DPR Minta KAI Bereskan Dulu Konektivitas Sebelum Bangun Jalur Kereta Aceh-Lampung
Infografis
Paket Senjata Rp1.684...
Paket Senjata Rp1.684 Triliun Ditawarkan Trump ke Arab Saudi
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved