Meniti Jalan Pancasila dalam Ekologi Spiritual
Rabu, 07 Juni 2023 - 11:37 WIB
loading...
A
A
A
Salah satu isu yang sentral adalah masalah ekologi dan perubahan iklim, sehingga Hari Lingkungan Hidup Sedunia yang diperingati setiap 5 Juni ini perlu dijadikan momentum merefleksikan sejauh mana kontribusi kita dalam mengatasi masalah-masalah tersebut. Bertautan dengan Pancasila sebagai ideologi bangsa yang seharusnya menjadi sumber kekuatan dalam menyemai rumusan solusinya.
Pada tanggal 2-4 Juni 2023, Lembaga Penanggulanganan Bencana dan Perubahan Iklim Nahdlatul Ulama (LPBI NU) menyelenggarakan Rapat Koordinasi Nasional (Rakornas). Acara itu menjadi momen silaturahmi untuk melihat lebih dalam bagaimana kontribusi kita secara individu dan struktural dalam menanggulangi bencana dan perubahan iklim (climate change).
Kegiatan ini bertujuan melakukan konsolidasi, penguatan kelembagaan LPBI NU se-Indonesia, juga memperkuat sinergi dan kolaborasi dalam penanggulangan bencana serta perubahan iklim. Ikhtiar ini untuk memperkokoh Nahdlatul Ulama sebagai organisasi Islam terbesar di dunia yang telah berusia satu abad dalam merawat jagat dan membangun peradaban.
Bagi Ketum PB NU Gus Yahya, masalah bencana dan perubahan iklim merupakan masalah fundamental dan kompleks sehingga harus didekati dari beragam perspektif, menyangkut berbagai kehidupan masyarakat. Artinya perlu respons dari hulu ke hilir, mulai dari kebijakan hingga pemberdayaan masyarakat dan lingkungan sekitar.
Kenyataan-kenyataan besar dalam peradaban yang harus dihadapi dengan menyesuaikan diri, cara berpikir, berjalan, dan bertindak. Kita perlu menerima gagasan baru, tanpa meninggalkan akar tradisi dan agama. Bahkan menggalinya untuk bertemu pada titik temu antara ketiganya, yakni agama, perubahan zaman (modernitas) dan kebijaksanaan tradisi demi kemaslahatan bersama.
Islam akan terus membawa solusi dari perubahan zaman, sesuai konteks budaya-sosialnya. Dalam ekologi spiritual, gagasan dasarnya yakni melihat alam dan lingkungan hidup bukan hanya sebagai objek, tapi juga subjek yang setara dengan manusia dan makhluk lain. Alam tidak boleh dieksploitasi, melainkan tanggung jawab moril kita menjaganya demi menciptakan keseimbangan (equilibrium).
Pada tanggal 2-4 Juni 2023, Lembaga Penanggulanganan Bencana dan Perubahan Iklim Nahdlatul Ulama (LPBI NU) menyelenggarakan Rapat Koordinasi Nasional (Rakornas). Acara itu menjadi momen silaturahmi untuk melihat lebih dalam bagaimana kontribusi kita secara individu dan struktural dalam menanggulangi bencana dan perubahan iklim (climate change).
Kegiatan ini bertujuan melakukan konsolidasi, penguatan kelembagaan LPBI NU se-Indonesia, juga memperkuat sinergi dan kolaborasi dalam penanggulangan bencana serta perubahan iklim. Ikhtiar ini untuk memperkokoh Nahdlatul Ulama sebagai organisasi Islam terbesar di dunia yang telah berusia satu abad dalam merawat jagat dan membangun peradaban.
Bagi Ketum PB NU Gus Yahya, masalah bencana dan perubahan iklim merupakan masalah fundamental dan kompleks sehingga harus didekati dari beragam perspektif, menyangkut berbagai kehidupan masyarakat. Artinya perlu respons dari hulu ke hilir, mulai dari kebijakan hingga pemberdayaan masyarakat dan lingkungan sekitar.
Ekologi Spiritual
Kenyataan-kenyataan besar dalam peradaban yang harus dihadapi dengan menyesuaikan diri, cara berpikir, berjalan, dan bertindak. Kita perlu menerima gagasan baru, tanpa meninggalkan akar tradisi dan agama. Bahkan menggalinya untuk bertemu pada titik temu antara ketiganya, yakni agama, perubahan zaman (modernitas) dan kebijaksanaan tradisi demi kemaslahatan bersama.
Islam akan terus membawa solusi dari perubahan zaman, sesuai konteks budaya-sosialnya. Dalam ekologi spiritual, gagasan dasarnya yakni melihat alam dan lingkungan hidup bukan hanya sebagai objek, tapi juga subjek yang setara dengan manusia dan makhluk lain. Alam tidak boleh dieksploitasi, melainkan tanggung jawab moril kita menjaganya demi menciptakan keseimbangan (equilibrium).
Lihat Juga :