Diplomasi dan Tantangan Hubungan Taiwan-China-AS di Tengah Ketegangan Regional

Rabu, 12 April 2023 - 13:17 WIB
loading...
A A A
Pertemuan antara Presiden Tsai dan Ketua DPR AS Kevin McCarthy di California menunjukkan keseimbangan antara kebutuhan Taiwan akan pengakuan internasional dan upaya mereka untuk menghindari memprovokasi China. Sementara Taiwan berupaya memperkuat hubungannya dengan AS, sekutunya yang paling kuat, Taiwan juga harus menghindari tindakan yang dapat meningkatkan ketegangan dan memicu konflik dengan China.

Baca Juga: China Kepung Taiwan, AS Kirim Kapal Perang

"Diplomasi transit" telah menjadi strategi yang penting bagi Taiwan untuk mempertahankan kehadirannya dan visibilitas internasionalnya di tengah upaya China untuk mengisolasi Taiwan secara diplomatis. Meskipun China terus mencoba menarik sekutu resmi atau negara yang mempunyai hubungan diplomatik dengan Taiwan, Taiwan tetap bergantung pada hubungan informal dan dukungan simbolis dari negara-negara lain untuk mempertahankan statusnya sebagai negara yang merdeka. Oleh karena itu, Taiwan harus mempertahankan keseimbangan antara menjaga hubungan dengan mitra dagang penting seperti China, sambil tetap mendapatkan dukungan politik dari negara-negara lain di arena internasional.

Kedua pihak, Taiwan maupun China, sedang berusaha mencari cara untuk memenangkan dukungan internasional dan memperkuat posisi mereka di kawasan. Taiwan ingin menunjukkan kepada China bahwa mereka masih memiliki dukungan dari sekutu terdekat mereka, AS, sementara China mencoba menunjukkan sikap yang lebih lunak terhadap Taiwan untuk menghindari meningkatnya sukuisme dan decinalisasi di Taiwan dan mempertahankan stabilitas di kawasan.

Pertemuan antara Presiden Tsai dan Ketua DPR AS Kevin McCarthy menjadi bagian dari strategi "diplomasi transit" yang penting bagi Taiwan untuk memperoleh pengakuan internasional. Sementara itu, kunjungan mantan Presiden Taiwan Ma Ying-jeou ke China daratan diharapkan memberikan Beijing isyarat bahwa masih banyak penduduk Taiwan yang ingin bersatu dengan daratan China.

Saat ini yang terpenting adalah dibutuhkannya sikap dari Bejing untuk melunakkan nadanya terhadap Taiwan. Namun, strategi mantan presiden Ma juga memiliki risiko karena mayoritas penduduk Taiwan mengidentifikasi diri mereka sebagai orang Taiwan, dan bukan China. Selain itu, survei menunjukkan bahwa lebih dari separuh penduduk Taiwan percaya bahwa perang dengan China dapat terjadi di masa depan.

Hubungan yang memburuk antara AS dan China menjadi tantangan bagi upaya diplomasi Taiwan. Bonnie Glaser, kepala program Asia di German Marshall Fund of the United States, mengatakan bahwa hubungan antara kedua negara saat ini lebih buruk daripada sebelumnya sejak mereka secara resmi saling mengakui pada tahun 1979. Selama beberapa dekade, AS telah mengakui tetapi tidak mendukung posisi Beijing bahwa hanya ada satu pemerintah China, yaitu di daratan, sambil mempertahankan hubungan tidak resmi dengan Taiwan. Namun, China sekarang khawatir AS akan mengubah status quo yang telah membantu menjaga perdamaian di Selat Taiwan selama lebih dari 40 tahun.

Sementara Presiden Biden telah meyakinkan Presiden Xi bahwa dia tidak mendukung pemisahan Taiwan dari China. Pengakuan ini mungkin tidak cukup untuk mencegah ketegangan lebih lanjut jika terjadi kunjungan kenegaraan yang kontroversial atau pertemuan resmi dengan para pemimpin Taiwan.

Oleh karena itu, selain upaya diplomasi dengan negara lain, Taiwan juga membutuhkan China untuk berdialog. Meskipun China menolak untuk mengakui kedaulatan Taiwan, ada kemungkinan bahwa dialog dapat dilakukan pada masalah ekonomi atau keamanan regional. Namun, ini memerlukan komitmen dan kerja sama dari kedua belah pihak untuk memperkuat hubungan dan mencegah konflik yang tidak diinginkan.
(zik)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Lanjut Baca Berita Terkait Lainnya
Berita Terkait
Bos FBI Temui Prabowo,...
Bos FBI Temui Prabowo, Artefak Papua yang Diselundupkan ke AS Kembali ke Indonesia
Perang Iran Menjadi...
Perang Iran Menjadi Warisan Buruk Kebijakan Luar Negeri Amerika Serikat
Airlangga Bertolak ke...
Airlangga Bertolak ke Shanghai Tanda Tangani Pendirian WAICO
Kritik Baru terhadap...
Kritik Baru terhadap Putusan Arbitrase Laut China Selatan: Perspektif Realisme
Satu Dekade Laut China...
Satu Dekade Laut China Selatan: Stabilitas Kawasan Ketimbang Kontestasi
UMKM Nasional Miliki...
UMKM Nasional Miliki Ketangguhan Hadapi Serbuan Produk China
Trump Getok Tarif Impor...
Trump Getok Tarif Impor Baru ke 60 Negara, Sekutu di Asia Protes Keras
Iran Desak Warga di...
Iran Desak Warga di Negara-negara Teluk Jaga Jarak 500 Meter dari Akomodasi Rahasia Pasukan AS
Pasokan Minyak Global...
Pasokan Minyak Global Semakin Ketat, India dan China Berebut Diskon dari Rusia
Rekomendasi
Wali Kota Semarang:...
Wali Kota Semarang: Butuh Komitmen Bersama dalam Pemberantasan Korupsi
Tingkatkan Nilai Jual...
Tingkatkan Nilai Jual TBS, 133 Pekebun Muara Enim Ikuti Pelatihan Panen Sawit
Baku Tembak Pecah di...
Baku Tembak Pecah di Tepi Barat, 1 Ekstremis Israel Tewas, 4 Warga Palestina Meninggal
Berita Terkini
PWNU Jateng dan Konjen...
PWNU Jateng dan Konjen Tiongkok Jalin Kerja Sama Pendidikan, Gus Rozin Ikuti Jejak Gus Dur
Pakar Kebijakan Publik...
Pakar Kebijakan Publik Soroti Ego Sektoral Penegakan Hukum, Sarankan Pelibatan KPK
Smartwatch AI, Kala...
Smartwatch AI, Kala Algoritma Mulai Membentuk Cara Kita Menilai Diri
Ditahan di Rutan KPK,...
Ditahan di Rutan KPK, Febrie Adriansyah: Alat Bukti Masih Didalami, Belum Cukup Dilakukan Penahanan
Masalah Perampasan Aset...
Masalah Perampasan Aset Tindak Pidana
Eks Jubir KPK Febri...
Eks Jubir KPK Febri Diansyah Resmi Jadi Kuasa Hukum Febrie Adriansyah
Infografis
True Promise 4 Mengamuk!...
True Promise 4 Mengamuk! Pangkalan Militer AS di Timur Tengah Jadi Rongsokan
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved