Transformasi Struktural: Teknologi dan SDM Kunci?
Kamis, 17 Maret 2022 - 14:58 WIB
Belanja untuk Kualitas SDM
Seiring dengan pemulihan ekonomi yang masih berjalan, tekad kuat Indonesia dalam mewujudkan visi Indonesia Maju 2045 juga tak padam. Meski tak mudah, karena saat ini Indonesia dihadapkan pada berbagai tantangan domestik seperti produktivitas yang masih rendah, angkatan kerja yang masih didominasi oleh penduduk dengan pendidikan menengah ke bawah, hingga ketergantungan ekonomi Indonesia pada komoditas. Berbasis kondisi tersebut, transformasi strukural menjadi sangat penting terutama merubah ketergantungan pada komoditas menuju industri bernilai tambah tinggi dengan ditopang kapasitas domestik yang mumpuni, serta dominasi kegiatan ekspor impor dalam perekonomian, menjadi strategi utama dalam mewujudkan cita-cita 2045.
Selain itu, inovasi juga akan menjadi kunci pertumbuhan guna mencapai target visi Indonesia di 2045. Sementara kesuksesan riset dan inovasi bergantung pada kualitas SDM, artinya menciptakan sumber daya manusia yang berkualitas dan memiliki keterampilan serta berdaya saing tinggi adalah motor utama dalam menjalankan trasnformasi ekonomi. Sudah seharusnya bangsa Indonesia secara benar dan tepat memanfaatkan potensi sumber daya yang dimiliki dengan kemampuan sumber daya manusia yang tinggi sebagai kekuatan dalam membangun perekonomian nasional.
Sumber daya manusia yang tinggi dapat mempercepat kualitas pertumbuhan bangsa. Besarnya jumlah penduduk yang besar tanpa disertai kualitas yang memadai, hanya akan menjadi beban pembangunan. Lembaga-lembaga pendidikan tentu perlu merespons dengan memberikan layanan pendidikan yang lebih mengarah pada kualitas lulusan. Apakah universitas maupun sekolah vokasi, perlu menyinergikan dengan pengguna (industri) sehingga output mereka langsung dapat diserap dan meningkatkan produktivitas sektor tersebut. Makin tinggi produktivitas tentu akan mendorong tingkat efisiensi pada seluruh bidang perekonomian dan akhirnya akan memperkuat semangat inovasi dan penemuan-penemuan baru yang memperkaya perekonomian Indonesia.
Selama ini, negara telah berkomitmen menyiapkan alokasi anggaran sebesar 20% dari APBN untuk pendidikan sebagaimana amanat dalam Undang-Undang Dasar (UUD) 1945. Sayangnya, anggaran yang selama ini telah digulirkan tersebut belum optimal dalam meningkatkan kualitas SDM di Indonesia. Tingkat pendidikan angkatan kerja Indonesia sebesar 52% di bawah sekolah dasar (SD). Angka tersebut menunjukkan masih tergolong rendahnya kualitas SDM dibandingkan dengan tiga negara anggota ASEAN, Thailand 51,7%, Malaysia 19,03% dam Singapura 21,02%. Selain itu, hasil studi PISA 2018 yang dirilis oleh OECD menunjukkan bahwa kemampuan siswa Indonesia dalam membaca, meraih skor rata-rata yakni 371, dengan rata-rata skor OECD yakni 487. Kemudian untuk skor rata-rata matematika mencapai 379 dengan skor rata-rata OECD 487. Selanjutnya untuk sains, skor rata-rata siswa Indonesia mencapai 389 dengan skor rata-rata OECD yakni 489. Hasil tersebut menunjukkan bahwa Indonesia berada pada kuadran low performance.
Selama ini, penggunaan anggaran belum efisien lantaran hanya sedikit yang mengalir untuk perbaikan kualitas mengajar. Anggaran pendidikan lebih banyak mengalir untuk perbaikan infrastruktur sekolah atau membayar gaji guru. Padahal, berdasarkan beberapa hasil kajian menunjukkan bahwa perbaikan gaji guru kerap kali tidak berbanding lurus dengan peningkatan kualitas siswa. Hal ini bisa menjadi cerminan dari kuantitas dan kualitas tenaga pendidik yang dimiliki Indonesia. Dari jumlah guru yang ada berjumlah 3,9 juta, 45% guru PNS, 55% guru non PNS, 25% guru di antaranya belum memenuhi syarat kualifikasi akademik dan 52% guru belum memiliki sertifikat profesi. Oleh sebab itu, alokasi belanja pendidikan saat ini perlu diarahkan pada peningkatan keahlian untuk menunjang peningkatan output Pendidikan di Indonesia.
Seiring dengan pemulihan ekonomi yang masih berjalan, tekad kuat Indonesia dalam mewujudkan visi Indonesia Maju 2045 juga tak padam. Meski tak mudah, karena saat ini Indonesia dihadapkan pada berbagai tantangan domestik seperti produktivitas yang masih rendah, angkatan kerja yang masih didominasi oleh penduduk dengan pendidikan menengah ke bawah, hingga ketergantungan ekonomi Indonesia pada komoditas. Berbasis kondisi tersebut, transformasi strukural menjadi sangat penting terutama merubah ketergantungan pada komoditas menuju industri bernilai tambah tinggi dengan ditopang kapasitas domestik yang mumpuni, serta dominasi kegiatan ekspor impor dalam perekonomian, menjadi strategi utama dalam mewujudkan cita-cita 2045.
Selain itu, inovasi juga akan menjadi kunci pertumbuhan guna mencapai target visi Indonesia di 2045. Sementara kesuksesan riset dan inovasi bergantung pada kualitas SDM, artinya menciptakan sumber daya manusia yang berkualitas dan memiliki keterampilan serta berdaya saing tinggi adalah motor utama dalam menjalankan trasnformasi ekonomi. Sudah seharusnya bangsa Indonesia secara benar dan tepat memanfaatkan potensi sumber daya yang dimiliki dengan kemampuan sumber daya manusia yang tinggi sebagai kekuatan dalam membangun perekonomian nasional.
Sumber daya manusia yang tinggi dapat mempercepat kualitas pertumbuhan bangsa. Besarnya jumlah penduduk yang besar tanpa disertai kualitas yang memadai, hanya akan menjadi beban pembangunan. Lembaga-lembaga pendidikan tentu perlu merespons dengan memberikan layanan pendidikan yang lebih mengarah pada kualitas lulusan. Apakah universitas maupun sekolah vokasi, perlu menyinergikan dengan pengguna (industri) sehingga output mereka langsung dapat diserap dan meningkatkan produktivitas sektor tersebut. Makin tinggi produktivitas tentu akan mendorong tingkat efisiensi pada seluruh bidang perekonomian dan akhirnya akan memperkuat semangat inovasi dan penemuan-penemuan baru yang memperkaya perekonomian Indonesia.
Selama ini, negara telah berkomitmen menyiapkan alokasi anggaran sebesar 20% dari APBN untuk pendidikan sebagaimana amanat dalam Undang-Undang Dasar (UUD) 1945. Sayangnya, anggaran yang selama ini telah digulirkan tersebut belum optimal dalam meningkatkan kualitas SDM di Indonesia. Tingkat pendidikan angkatan kerja Indonesia sebesar 52% di bawah sekolah dasar (SD). Angka tersebut menunjukkan masih tergolong rendahnya kualitas SDM dibandingkan dengan tiga negara anggota ASEAN, Thailand 51,7%, Malaysia 19,03% dam Singapura 21,02%. Selain itu, hasil studi PISA 2018 yang dirilis oleh OECD menunjukkan bahwa kemampuan siswa Indonesia dalam membaca, meraih skor rata-rata yakni 371, dengan rata-rata skor OECD yakni 487. Kemudian untuk skor rata-rata matematika mencapai 379 dengan skor rata-rata OECD 487. Selanjutnya untuk sains, skor rata-rata siswa Indonesia mencapai 389 dengan skor rata-rata OECD yakni 489. Hasil tersebut menunjukkan bahwa Indonesia berada pada kuadran low performance.
Selama ini, penggunaan anggaran belum efisien lantaran hanya sedikit yang mengalir untuk perbaikan kualitas mengajar. Anggaran pendidikan lebih banyak mengalir untuk perbaikan infrastruktur sekolah atau membayar gaji guru. Padahal, berdasarkan beberapa hasil kajian menunjukkan bahwa perbaikan gaji guru kerap kali tidak berbanding lurus dengan peningkatan kualitas siswa. Hal ini bisa menjadi cerminan dari kuantitas dan kualitas tenaga pendidik yang dimiliki Indonesia. Dari jumlah guru yang ada berjumlah 3,9 juta, 45% guru PNS, 55% guru non PNS, 25% guru di antaranya belum memenuhi syarat kualifikasi akademik dan 52% guru belum memiliki sertifikat profesi. Oleh sebab itu, alokasi belanja pendidikan saat ini perlu diarahkan pada peningkatan keahlian untuk menunjang peningkatan output Pendidikan di Indonesia.
Lihat Juga :