Perbankan dan Derap Perekonomian
Rabu, 09 Februari 2022 - 06:27 WIB
Selain itu, tantangan lain juga datang dari tingginya biaya transaksi dan efisiensi di sektor perbankan. Hal itu terlihat dari tingginya cost of fund melalui suku bunga kredit yang rata-rata sebesar 9,7%. Meskipun suku bunga pinjaman dalam tren menurun, namun suku bunga pinjaman masih relatif tinggi bila dibandingkan dengan negara lain di kawasan.
Di samping itu, tantangan lainnya yang juga dihadapi oleh perbankan nasional ialah masih rendahnya tingkat literasi keuangan Indonesia yang hanya berkisar 38,03%. Demikian dengan tingkat inklusi yang masih berada pada kisaran 61,7%. Sehingga, salah satu dampak negatif dari rendahnya literasi dan inklusi keuangan tersebut adalah maraknya praktik ilegal di industri jasa keuangan yang merugikan masyarakat.
Kondisi yang dihadapi oleh industri jasa keuangan saat ini perlu menjadi perhatian serius. Sebab, tantangan industri jasa keuangan ke depan akan menjadi lebih berat di tengah masih tingginya ketidakpastian ekonomi akibat pandemi yang belum menepi. Di tengah terbatasnya mobilitas masyarakat, wajah sektor industri jasa keuangan ke depan juga akan terus dinamis dan membutuhkan transformasi, dari yang berbasis fisik menjadi berbasis digital.
Mendorong Industri Jasa Keuangan Yang Inklusif, Aman, dan Stabil
Sebagai salah satu sumber penyedia dana bagi perekonomian, industri jasa keuangan memegang peranan penting sebagai salah satu engine of growth. Oleh sebab itu, industri jasa keuangan harus terus berbenah, baik dalam menghadapi arus perubahan zaman maupun dalam rangka meningkatkan peran dalam perekonomian.
Industri jasa keuangan harus bertransformasi menjadi industri yang mampu diakses oleh semua rakyat (inklusif), memberikan rasa aman bagi konsumen dan investor, dan memiliki ketahanan yang kuat (stabil) di tengah situasi ketidakpastian dan tingginya faktor risiko. Untuk itu, di masa yang akan datang, pengembangan industri jasa keuangan harus fokus pada tiga hal utama yakni pro-growth, pro-stability, dan pro-protection.
Di samping itu, tantangan lainnya yang juga dihadapi oleh perbankan nasional ialah masih rendahnya tingkat literasi keuangan Indonesia yang hanya berkisar 38,03%. Demikian dengan tingkat inklusi yang masih berada pada kisaran 61,7%. Sehingga, salah satu dampak negatif dari rendahnya literasi dan inklusi keuangan tersebut adalah maraknya praktik ilegal di industri jasa keuangan yang merugikan masyarakat.
Kondisi yang dihadapi oleh industri jasa keuangan saat ini perlu menjadi perhatian serius. Sebab, tantangan industri jasa keuangan ke depan akan menjadi lebih berat di tengah masih tingginya ketidakpastian ekonomi akibat pandemi yang belum menepi. Di tengah terbatasnya mobilitas masyarakat, wajah sektor industri jasa keuangan ke depan juga akan terus dinamis dan membutuhkan transformasi, dari yang berbasis fisik menjadi berbasis digital.
Mendorong Industri Jasa Keuangan Yang Inklusif, Aman, dan Stabil
Sebagai salah satu sumber penyedia dana bagi perekonomian, industri jasa keuangan memegang peranan penting sebagai salah satu engine of growth. Oleh sebab itu, industri jasa keuangan harus terus berbenah, baik dalam menghadapi arus perubahan zaman maupun dalam rangka meningkatkan peran dalam perekonomian.
Industri jasa keuangan harus bertransformasi menjadi industri yang mampu diakses oleh semua rakyat (inklusif), memberikan rasa aman bagi konsumen dan investor, dan memiliki ketahanan yang kuat (stabil) di tengah situasi ketidakpastian dan tingginya faktor risiko. Untuk itu, di masa yang akan datang, pengembangan industri jasa keuangan harus fokus pada tiga hal utama yakni pro-growth, pro-stability, dan pro-protection.
Lihat Juga :