Keadilan bagi Peternak Telur
Kamis, 06 Januari 2022 - 07:54 WIB
Produksi telur dan daging ayam yang surplus juga memungkinkan pasokan sepanjang waktu. Karena itu, tidak mengherankan bila partisipasi konsumsi telur sangat tinggi, mencapai 89,37% pada 2018, tertinggi di antara pangan sumber protein hewani lainnya. Ini menandai betapa pentingnya telur bagi sumber pangan bergizi bagi warga, yang pada giliranya berpengaruh pada kualitas sumber daya manusia (SDM).
Usaha apapun, termasuk berternak telur, perlu ada jaminan untung bagi pelakunya agar kontinuitas produksi terjaga. Masalahnya, kebijakan pemerintah hari-hari ini belum memungkinkan itu terjadi. Belum hilang dari ingatan pada 15 September lalu Presiden Jokowi mengundang peternak ayam dan petelur ke Istana.
Kala itu, peternak menjerit karena harga telur dan ayam terjun bebas, sementara harga pakan membubung. Jagung, bahan baku pakan yang biasa diracik sendiri, harganya mencapai Rp6.000 per kg, jauh dari harga acuan Rp4.500 per kg. Presiden menjanjikan solusi, termasuk harga jagung seebsar Rp4.500 per kg.
Jagung merupakan komponen utama dalam industri pakan. Dalam pakan unggas, sekitar 50-55% berasal dari jagung. Di sisi lain, pakan merupakan komponen utama dalam industri perunggasan, mengambil porsi sekitar 70% dari ongkos produksi.
Karena itu, tinggi-rendahnya harga jagung akan menentukan tinggi-rendahnya harga daging dan telur ayam. Ketersediaan jagung yang pasti dengan harga yang terjangkau merupakan pilar penting terciptanya industri perunggasan yang efisien, kompetitif dan berdaya saing.
Seharusnya, setelah pertemuan itu masalah peternak selesai di tangan pembantu Presiden; Menteri Perdagangan M Lutfi dan Menteri Pertanian Syahrul Yasin Limpo. Tapi itu tak terjadi. Harga telur tersungkur tanpa solusi. Harga jagung bukan hanya tetap tinggi, tapi juga sulit didapat. Peternak merugi karena harga pakan dari pabrikan terus meroket. Harga telur hanya Rp13.500 per kg, sementara biaya produksi Rp21.500 per kg. pada rentang Juli-Oktober 2021 banyak peternak layer atau telur mengafkir dini ayam mereka.
Memasuki November, harga telur membaik dan semakin tinggi pada Desember. Harga telur tertolong oleh permintaan yang naik saat Natal dan Tahun Baru 2022.
Di luar itu, pelonggaran aktivitas membuat berbagai permintaan dari hotel, restoran, katering, warung makan, pabrik, dan aneka aktivitas lainnya mulai menggeliat. Pertanyaannya, apakah kenaikan harga telur saat ini didorong oleh pasokan yang terbatas akibat afkir dini? Dugaan saya tidak. Karena sejauh ini tak ada laporan kekurangan/kelangkaan telur.
Usaha apapun, termasuk berternak telur, perlu ada jaminan untung bagi pelakunya agar kontinuitas produksi terjaga. Masalahnya, kebijakan pemerintah hari-hari ini belum memungkinkan itu terjadi. Belum hilang dari ingatan pada 15 September lalu Presiden Jokowi mengundang peternak ayam dan petelur ke Istana.
Kala itu, peternak menjerit karena harga telur dan ayam terjun bebas, sementara harga pakan membubung. Jagung, bahan baku pakan yang biasa diracik sendiri, harganya mencapai Rp6.000 per kg, jauh dari harga acuan Rp4.500 per kg. Presiden menjanjikan solusi, termasuk harga jagung seebsar Rp4.500 per kg.
Jagung merupakan komponen utama dalam industri pakan. Dalam pakan unggas, sekitar 50-55% berasal dari jagung. Di sisi lain, pakan merupakan komponen utama dalam industri perunggasan, mengambil porsi sekitar 70% dari ongkos produksi.
Karena itu, tinggi-rendahnya harga jagung akan menentukan tinggi-rendahnya harga daging dan telur ayam. Ketersediaan jagung yang pasti dengan harga yang terjangkau merupakan pilar penting terciptanya industri perunggasan yang efisien, kompetitif dan berdaya saing.
Seharusnya, setelah pertemuan itu masalah peternak selesai di tangan pembantu Presiden; Menteri Perdagangan M Lutfi dan Menteri Pertanian Syahrul Yasin Limpo. Tapi itu tak terjadi. Harga telur tersungkur tanpa solusi. Harga jagung bukan hanya tetap tinggi, tapi juga sulit didapat. Peternak merugi karena harga pakan dari pabrikan terus meroket. Harga telur hanya Rp13.500 per kg, sementara biaya produksi Rp21.500 per kg. pada rentang Juli-Oktober 2021 banyak peternak layer atau telur mengafkir dini ayam mereka.
Memasuki November, harga telur membaik dan semakin tinggi pada Desember. Harga telur tertolong oleh permintaan yang naik saat Natal dan Tahun Baru 2022.
Di luar itu, pelonggaran aktivitas membuat berbagai permintaan dari hotel, restoran, katering, warung makan, pabrik, dan aneka aktivitas lainnya mulai menggeliat. Pertanyaannya, apakah kenaikan harga telur saat ini didorong oleh pasokan yang terbatas akibat afkir dini? Dugaan saya tidak. Karena sejauh ini tak ada laporan kekurangan/kelangkaan telur.
Lihat Juga :