Diaspora NU?
Kamis, 23 Desember 2021 - 15:42 WIB
Karena itu, jika dipetakan ke dalam sub-bidang, terdapat beberapa hal yang telah dilakukan oleh (kader-kader) NU, namun di saat bersamaan juga perlu dievaluasi, bahkan dikritik secara konstruktif. Pertama, bidang politik. Sejak awal berdiri, NU berkomitmen sebagai organisasi sosial keagamaan, bukan organisasi politik, meski dalam episode tertentu pada pemilihan umum (pemilu) pertama 1955, NU berakrobat menjadi partai politik, tetapi kemudian dinormalkan kembali melalui deklarasi Khittah 1984.
Artinya, NU secara organisastoris meninggalkan aktivitas politik praktis, tetapi secara kultural memberi kebebasan kepada warganya untuk menyalurkan aspirasi di partai politik mana pun. Sebab bagi NU, aktivitas politik praktis tidak bisa ditinggalkan secara ekstrem. Justru sebaliknya, politik menjadi penopang laju perkembangan NU sebagai jam’iyah, sehingga atas kesadaran ini, tidak heran banyak kader NU yang menduduki posisi strategis di partai politik maupun pejabat pemerintahan.
Meski demikian, keberhasilan—kalau boleh dikatakan begitu—NU di ruang politik bukan tanpa kritik, dan kerenanya sekali lagi, perlu refleksi dan dievaluasi. Pada masa pemerintahan Presiden Joko Widodo periode pertama, misalnya, terdapat banyak kader NU yang dipercaya menjadi menteri dan pejabat teras atas. Begitu pula dengan posisi KH Ma’ruf Amin sebagai wakil presiden, mendampingi Presiden Joko Widodo di periode kedua, adakah signifikasinya untuk NU?
Membangun Sinergisitas
Kedua, bidang pendidikan. Perkembangan pendidikan NU, baik pesantren maupun lembaga pendidikan yang berjenjang formal, tidak dapat dimungkiri, memang mengalami kemajuan pesat. Kampus-kampus NU di banyak daerah tumbuh berkembang, meski juga perlu memikirkankan kesiapan sumber daya manusia (SDM) tenaga pengajar, karyawan/staf administrasi (tenaga pendidikan), fasilitas gedung, serta bagaimana agar menarik minat peserta didik/mahasiswa untuk menimba ilmu di kampus NU.
Begitu pula dengan persebaran kaum intelektual-akademisi yang berlatarbelakang NU. Di antara mereka telah banyak yang bergelar doktor hingga profesor di bidang masing-masing, baik lulusan perguruan tinggi dalam maupun luar negeri, sehingga meskipun tidak secara langsung ikut membesarkan kampus NU, namun dipandang dari kacamata warga nahdliyin, turut bangga. Lalu, bagaimana cara mengembangkan serta membangun sinergisitas antara SDM yang mumpuni itu dengan lembaga pendidikan yang dimiliki NU?
Artinya, NU secara organisastoris meninggalkan aktivitas politik praktis, tetapi secara kultural memberi kebebasan kepada warganya untuk menyalurkan aspirasi di partai politik mana pun. Sebab bagi NU, aktivitas politik praktis tidak bisa ditinggalkan secara ekstrem. Justru sebaliknya, politik menjadi penopang laju perkembangan NU sebagai jam’iyah, sehingga atas kesadaran ini, tidak heran banyak kader NU yang menduduki posisi strategis di partai politik maupun pejabat pemerintahan.
Meski demikian, keberhasilan—kalau boleh dikatakan begitu—NU di ruang politik bukan tanpa kritik, dan kerenanya sekali lagi, perlu refleksi dan dievaluasi. Pada masa pemerintahan Presiden Joko Widodo periode pertama, misalnya, terdapat banyak kader NU yang dipercaya menjadi menteri dan pejabat teras atas. Begitu pula dengan posisi KH Ma’ruf Amin sebagai wakil presiden, mendampingi Presiden Joko Widodo di periode kedua, adakah signifikasinya untuk NU?
Membangun Sinergisitas
Kedua, bidang pendidikan. Perkembangan pendidikan NU, baik pesantren maupun lembaga pendidikan yang berjenjang formal, tidak dapat dimungkiri, memang mengalami kemajuan pesat. Kampus-kampus NU di banyak daerah tumbuh berkembang, meski juga perlu memikirkankan kesiapan sumber daya manusia (SDM) tenaga pengajar, karyawan/staf administrasi (tenaga pendidikan), fasilitas gedung, serta bagaimana agar menarik minat peserta didik/mahasiswa untuk menimba ilmu di kampus NU.
Begitu pula dengan persebaran kaum intelektual-akademisi yang berlatarbelakang NU. Di antara mereka telah banyak yang bergelar doktor hingga profesor di bidang masing-masing, baik lulusan perguruan tinggi dalam maupun luar negeri, sehingga meskipun tidak secara langsung ikut membesarkan kampus NU, namun dipandang dari kacamata warga nahdliyin, turut bangga. Lalu, bagaimana cara mengembangkan serta membangun sinergisitas antara SDM yang mumpuni itu dengan lembaga pendidikan yang dimiliki NU?
Lihat Juga :