Peradaban yang Berbenturan
Sabtu, 06 Juni 2020 - 09:59 WIB
Peradaban hari ini dalam masyarakat jejaring, sesuai pemikiran Manuel Castell, sangat diwarnai oleh benturan antara “yang nyata“ dengan “yang maya”. Adanya real virtuality sebagai konsekuensi meratanya penggunaan internet di kehidupan masyarakat, berimplikasi ketika membicarakan realitas maya. Yang mayalah kini jadi realitas utama masyarakat. Rata-rata waktu yang dihabiskan masyakarat Indonesia berinternet 7 jam 59 menit (We are Social, 2020).
Konsumsi internet yang makin panjang waktunya ini, pada akhirnya menjadikan pengalaman virtual dihayati sebagai yang real. Kemayaan telah jadi bagian pengalaman nyata masyarakat. Respons perseptual yang muncul, betul-betul ada suatu skema nyata namun sebenarnya tak nyata. Yang dalam ketaknyataan itu, ia bersifat interaktif dan dapat dialami panca indera.
Ini membangkitan sensasi fisik yang sama pengalamannya di situasi nyata, alamiah dan bersifat real-time (Kurniawan, 2013).
Problem yang muncul dalam skenario ini, ketika pada suatu tindakan yang berlangsung di ruang-ruang virtual, berimplikasi utuh di ruang nyata. Ujaran kebencian maupun hoaks yang beredar lewat medium-medium digital, membawa keadaan yang sama kisruhnya ketika tindakan terjadi di ruang nyata.
Transaksi legal maupun ilegal di ruang virtual, punya konsekuensi yang sama kuatnya dengan transaksi di ruang-ruang aktual.
Benturan peradaban antara realitas digital dengan analog, juga termanifestasi saat masyarakat mengalami kebingungan kepemilikan ruang, antara “yang privat” dengan “yang publik”. Media digital yang dimiliki dan dikelola personal, dalam kenyataannya memiliki pengaruh pada publik luas. Terlebih ketika informasi yang diproduksi dan didistribusikan mengalami konsumsi trending.
Komunikasi personal, menurut Castells, tak jarang berubah jadi mass self communication. Komunikasi dilakukan personal, namun punya implikasi massal. Termasuk dalam benturan itu adalah, kegagapan masyarakat terhadap penggunaan ruang privat dengan ruang publik.
Ruang privat yang harusnya jadi panggung belakang, tertukar jadi panggung depan yang sifatnya publik. Lewat media digital, hari-hari ini, dapat disaksikan adegan intim interpersonal, pertikaian domestik maupun drama pribadi yang lazimnya jadi konsumsi terbatas. Peradaban luas masyarakat hari ini, diwarnai wacana privat yang harusnya selesai di tingkat personal. Pertanyaan besarnya kemudian, apa produk dari benturan peradaban yang timbul oleh tak dipahamimya realitas digital dengan realitas analog ini?
Konsumsi internet yang makin panjang waktunya ini, pada akhirnya menjadikan pengalaman virtual dihayati sebagai yang real. Kemayaan telah jadi bagian pengalaman nyata masyarakat. Respons perseptual yang muncul, betul-betul ada suatu skema nyata namun sebenarnya tak nyata. Yang dalam ketaknyataan itu, ia bersifat interaktif dan dapat dialami panca indera.
Ini membangkitan sensasi fisik yang sama pengalamannya di situasi nyata, alamiah dan bersifat real-time (Kurniawan, 2013).
Problem yang muncul dalam skenario ini, ketika pada suatu tindakan yang berlangsung di ruang-ruang virtual, berimplikasi utuh di ruang nyata. Ujaran kebencian maupun hoaks yang beredar lewat medium-medium digital, membawa keadaan yang sama kisruhnya ketika tindakan terjadi di ruang nyata.
Transaksi legal maupun ilegal di ruang virtual, punya konsekuensi yang sama kuatnya dengan transaksi di ruang-ruang aktual.
Benturan peradaban antara realitas digital dengan analog, juga termanifestasi saat masyarakat mengalami kebingungan kepemilikan ruang, antara “yang privat” dengan “yang publik”. Media digital yang dimiliki dan dikelola personal, dalam kenyataannya memiliki pengaruh pada publik luas. Terlebih ketika informasi yang diproduksi dan didistribusikan mengalami konsumsi trending.
Komunikasi personal, menurut Castells, tak jarang berubah jadi mass self communication. Komunikasi dilakukan personal, namun punya implikasi massal. Termasuk dalam benturan itu adalah, kegagapan masyarakat terhadap penggunaan ruang privat dengan ruang publik.
Ruang privat yang harusnya jadi panggung belakang, tertukar jadi panggung depan yang sifatnya publik. Lewat media digital, hari-hari ini, dapat disaksikan adegan intim interpersonal, pertikaian domestik maupun drama pribadi yang lazimnya jadi konsumsi terbatas. Peradaban luas masyarakat hari ini, diwarnai wacana privat yang harusnya selesai di tingkat personal. Pertanyaan besarnya kemudian, apa produk dari benturan peradaban yang timbul oleh tak dipahamimya realitas digital dengan realitas analog ini?
(dam)
Lihat Juga :