Don't Lose Yourself Over Social Media
Selasa, 28 September 2021 - 12:01 WIB
Intensitas penggunaan teknologi digital, mendorong anak-anak dan remaja untuk melakukan surfing in cyberspace. Apabila selama melakukan surfing ini khususnya untuk anak-anak usia dini tidak didampingi maka informasi yang ditangkap oleh panca indera, diterima kemudian diolah oleh kognitifnya, anak-anak akan mengimitasi perilaku yang dilakukan oleh masyarakat di dunia maya.
Fenomena yang selalu menjadi dilema adalah keluarga masih abai terhadap dampak yang ditimbulkannya. Orang tua yang sibuk karena work from home (WFH) bersamaan dengan kegiatan sekolah di rumah, membuat anak-anak kurang mendapatkan pendampingan.
Lalu, untuk remaja pun karena anggota keluarga memiliki kesibukan masing-masing yang berkaitan dengan teknologi digital, membuat hubungan keluarga menjadi berjarak karena kurangnya komunikasi.
Hal yang tak disadari, pengalihan untuk mengisi waktu luang adalah melihat berbagai aktivitas di media sosial, dimana penggunaan media sosial dalam jangka waktu lama juga dapat memengaruhi kesehatan mental pada diri.
Masih minimnya pengetahuan tentang literasi digital di Indonesia menjadi perhatian dari berbagai pihak. Peran pentingnya keluarga yang disebut sebagai parenting digital sangat diperlukan, karena bukan saja tanggung jawab orang tua akan tetapi melibatkan keluarga secara keseluruhan.
Hal ini untuk membangun kesadaran diri dalam melakukan pembekalan serta pendampingan bagi anak usia dini, ketika anak-anak menggunakan media internet ketika bukan untuk keperluan PJJ.
Selain itu, instensitas penggunaan media sosial dapat meningkatkan kecemasan diri (self-anxiety), komparasi diri (self-comparison), akhirnya menimbulkan emosi diri dan pikiran menjadi tidak stabil. Ketidakstabilan tersebut, juga dapat memengaruhi penurunan kepercayaan diri (low selfconfidence) serta penghargaan diri (low self-esteem).
Fenomena yang selalu menjadi dilema adalah keluarga masih abai terhadap dampak yang ditimbulkannya. Orang tua yang sibuk karena work from home (WFH) bersamaan dengan kegiatan sekolah di rumah, membuat anak-anak kurang mendapatkan pendampingan.
Lalu, untuk remaja pun karena anggota keluarga memiliki kesibukan masing-masing yang berkaitan dengan teknologi digital, membuat hubungan keluarga menjadi berjarak karena kurangnya komunikasi.
Hal yang tak disadari, pengalihan untuk mengisi waktu luang adalah melihat berbagai aktivitas di media sosial, dimana penggunaan media sosial dalam jangka waktu lama juga dapat memengaruhi kesehatan mental pada diri.
Masih minimnya pengetahuan tentang literasi digital di Indonesia menjadi perhatian dari berbagai pihak. Peran pentingnya keluarga yang disebut sebagai parenting digital sangat diperlukan, karena bukan saja tanggung jawab orang tua akan tetapi melibatkan keluarga secara keseluruhan.
Hal ini untuk membangun kesadaran diri dalam melakukan pembekalan serta pendampingan bagi anak usia dini, ketika anak-anak menggunakan media internet ketika bukan untuk keperluan PJJ.
Selain itu, instensitas penggunaan media sosial dapat meningkatkan kecemasan diri (self-anxiety), komparasi diri (self-comparison), akhirnya menimbulkan emosi diri dan pikiran menjadi tidak stabil. Ketidakstabilan tersebut, juga dapat memengaruhi penurunan kepercayaan diri (low selfconfidence) serta penghargaan diri (low self-esteem).
Lihat Juga :