Akuakultur Sebagai Lokomotif Ekonomi Indonesia

Senin, 12 Juli 2021 - 10:55 WIB
Selain makanan dan minuman, perkebunan, ESDM, tekstil, otomotif, dan elektronik sebagai industri strategis nasional sejak awal 1980-an, industri kelautan dan perikanan, khususnya aquaculture (perikanan budidaya) diyakini bisa menjadi industri strategis nasional yang mampu menghasilkan nilai tambah, banyak lapangan kerja, forward- and backward-linkages yang besar, dan multiplier effects yang luas. Lebih dari itu, karena basis dari industri akuakultur adalah SDA terbarukan, maka pertumbuhan ekonomi dan kesejahteraan yang dihasilkan oleh industri ini pun niscaya akan berkelanjutan (sustainable). Karena sebagian besar aktivitas akuakultur berlangsung di wilayah pedesaan, pesisir, pulau-pulau kecil, dan luar Jawa; maka industri ini bakal mengurangi disparitas pembangunan antar wilayah (Jawa vs luar Jawa, Desa vs Kota) yang merupakan salah satu permasalahan khronis bangsa.

Potensi Ekonomi Akuakultur

Sebagai negara kepulauan terbesar di dunia, yang 75% wilayahnya berupa laut, dan 28% wilayah daratnya pun berupa ekosistem perairan (danau, sungai, waduk, dan perairan rawa); Indonesia memiliki potensi produksi lestari akuakultur terbesar di dunia, sekitar 100 juta ton/tahun (FAO, 2014). Sejak 2009 Indonesia merupakan produsen akuakultur terbesar kedua dunia, hanya kalah dari China. Pada 2019 total produksi akuakultur – RI mencapai 16,3 juta ton (13,5% total produksi dunia), dimana 9,9 juta ton berupa rumput laut. Sementara produksi akuakultur China di tahun yang sama mencapai 68,4 juta ton (57% produksi dunia). Dan, produksi akuakultur India (peringkat-3 dunia) sebesar 7,8 juta ton (6,5% produksi global).

Sebagai ilustrasi betapa fantastisnya potensi ekonomi akuakultur Indonesia adalah 3 juta ha lahan pesisir yang cocok untuk budidaya tambak udang Vaname. Bila kita mampu mengembangkan 500.000 ha tambak udang Vaname dengan produktivitas rata-rata 40 ton/ha/tahun (intensif-moderat), maka akan dihasilkan 20 juta ton atau 20 milyar kg udang setiap tahunnya. Dengan harga udang saat ini 5 dolar AS/kg, maka nilai ekonomi langsungnya sebesar 100 milyar dolar AS/tahun atau sekitar 10% PDB saat ini. Keuntungan bersihnya rata-rata Rp 45 juta/ha/bulan. Artinya, jika mulai tahun depan sampai 2024 kita buka usaha 100.000 tambak udang Vaname setiap tahunnya, maka dari udang saja bisa menyumbangkan 2 persen pertumbuhan ekonomi per tahun. Dengan kata lain, pertumbuhan ekonomi sebesar 7% per tahun bagi akuakultur Indonesia adalah sebuah keniscayaan. Kesempatan kerja langsung (on farm) yang bisa diciptakan dari 500.000 ha tambak udang itu sekitar 2 juta orang, dan tidak langsung (off farm) sekitar 1,5 juta orang. Padahal, banyak sekali komoditas akuakultur lainnya dengan nilai ekonomi sangat tinggi, seperti udang windu, kerapu, kepiting, lobster, abalone, teripang, kerang mutiara, dan rumput laut.

Lebih dari itu, akuakultur tidak hanya meliputi budidaya ikan, krustasea, dan moluska. Tetapi, juga invertebrata, alga mikro, alga makro (rumput laut), lamun (seagrass), dan mikroba dalam ekosistem perairan. Bahkan, dalam dekade terakhir China telah sukses membudidayakan padi di ekosistem laut dengan produktivitas rata-rata 9 ton/ha/tahun (Kentish, 2016). Seiring dengan kemajuan teknologi, terutama bioteknologi, nanoteknologi, dan berbagai jenis teknologi generasi Industri 4.0 seperti IoT, AI, Big Data, dan Blockchain. Maka, budidaya jenis tanaman pangan lainnya (jagung, kedelai, dan umbi-umbian) di dalam ekosistem perairan laut bukanlah hal yang mustahil.

Dengan demikian, akuakultur tidak hanya menghasilkan bahan pangan sumber protein hewani, tetapi juga bahan pangan sumber karbohidrat dan beragam jenis vitamin serta mineral. Di negara-negara maju dan emerging economies lain, berbagai senyawa bioaktif (seperti omega-3, pycocyanin, zeasantin, alginat, dan karagenan) yang diekstraksi dari berbagai biota perairan hasil akuakultur telah dimanfaatkan sebagai bahan baku utama bagi industri makanan dan minuman, farmasi, kosmetik, cat, film, bioenergy, dan beragam industri lainnya. Potensi total nilai ekonomi industri bioteknologi kelautan diperkirakan mencapai empat kali lipat industri teknologi informasi (Ministry of Maritime and Fisheries Affairs, Republic of Korea, 2003). Karena sumber utama dari industri bioteknologi kelautan adalah biota laut, dan Indonesia merupakan negara dengan keanekaragaman hayati laut (marine bidoversity) terbesar di dunia, mestinya Indonesia menjadi produsen dan pengekspor utama beragam produk industri bioteknologi kelautan. Ironisnya, Indonesia kini sebagai salah satu pengimpor terbesar di dunia berbagai produk industri bioteknologi kelautan termasuk squalence, minyak ikan, gamat, dan viagra.
Halaman :
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!