Belajar dari Tarik-Ulur PON XX Papua
Jum'at, 05 Maret 2021 - 19:36 WIB
Agus Kristiyanto (Foto: Istimewa)
Agus Kristiyanto
Profesor Analisis Kebijakan Pembangunan Olahraga dari FKOR Universitas Sebelas Maret Surakarta, Dewan Pakar KONI Jawa Tengah, dan Pengurus Asosiasi Profesor Keolahragaan Indonesia (APKORI)
KESELAMATAN bersama adalah orientasi utama dibandingkan tujuan-tujuan lain. Sebuah pernyataan bijak yang menjadi dasar penguat penundaan Pekan Olahraga Nasional (PON) XX Papua. Pernyataan tersebut disampaikan pemerintah melalui Wapres KH Ma’ruf Amin di beberapa kesempatan tepat setahun silam. Bencana nasional berupa pandemi Covid-19 yang mendera sejak pertengahan Maret tahun lalu memang kemudian harus disikapi secara arif untuk menunda perhelatan akbar olahraga nasional itu ke 2021. Semua pihak menerima penundaan tersebut dengan legawa dan rasa maklum yang tinggi.
Masa penantian berlangsung dalam suasana harus beradaptasi dengan keadaan, yakni #OlahragadiRumahSaja. Tentu saja hal tak mudah membangun persiapan dengan cara demikian. Tetapi selalu ada cara dan jalan untuk belajar beradaptasi dengan keadaan. Belajar beradaptasi untuk terus tertib menerapkan protokol kesehatan (prokes) dilakukan bersamaan dengan ikhtiar mengoptimalkan pengembangan performance atlet, walau pun pasti tidak seleluasa sebelum pandemi. Penundaan juga memiliki nilai positif bagi tuan rumah untuk lebih optimal mempersiapkan segala sesuatunya.
Menimbang Kesiapan
Waktu berjalan mundur menuju ke Oktober 2021 diupayakan oleh berbagai pihak untuk menyempurnakan kesiapan. KONI, PB PON, stakeholder olahraga prestasi, tuan rumah PON XX, serta berbagai komponen pentahelix, termasuk juga adalah kontingen masing-masing daerah yang dipersiapkan mengambil peran yang luas. Mereka menunggu dan mempersiapkan proses latihan versi new normal. Selama penantian, sebagian besar dari mereka bahkan menjadi “model dan relawan” di lingkungannya untuk menggelorakan gaya hidup aktif, serta memelihara imunitas selama masa Pandemi Covid-19.
Pada saat segala sesuatu telah disempurnakan persiapannya, belakangan muncul berbagai dinamika baru. Wacana sebagian komponen masyarakat menghendaki PON XX Papua diundur pelaksanaannya ke 2022. Namun juga, di saat yang bersamaan muncul dukungan agar tetap berlangsung karena segala sesuatu telah disiapkan. Jika terpaksa, diusulkan PON tetap digelar sekalipun tanpa ada penonton di arena.
Profesor Analisis Kebijakan Pembangunan Olahraga dari FKOR Universitas Sebelas Maret Surakarta, Dewan Pakar KONI Jawa Tengah, dan Pengurus Asosiasi Profesor Keolahragaan Indonesia (APKORI)
KESELAMATAN bersama adalah orientasi utama dibandingkan tujuan-tujuan lain. Sebuah pernyataan bijak yang menjadi dasar penguat penundaan Pekan Olahraga Nasional (PON) XX Papua. Pernyataan tersebut disampaikan pemerintah melalui Wapres KH Ma’ruf Amin di beberapa kesempatan tepat setahun silam. Bencana nasional berupa pandemi Covid-19 yang mendera sejak pertengahan Maret tahun lalu memang kemudian harus disikapi secara arif untuk menunda perhelatan akbar olahraga nasional itu ke 2021. Semua pihak menerima penundaan tersebut dengan legawa dan rasa maklum yang tinggi.
Masa penantian berlangsung dalam suasana harus beradaptasi dengan keadaan, yakni #OlahragadiRumahSaja. Tentu saja hal tak mudah membangun persiapan dengan cara demikian. Tetapi selalu ada cara dan jalan untuk belajar beradaptasi dengan keadaan. Belajar beradaptasi untuk terus tertib menerapkan protokol kesehatan (prokes) dilakukan bersamaan dengan ikhtiar mengoptimalkan pengembangan performance atlet, walau pun pasti tidak seleluasa sebelum pandemi. Penundaan juga memiliki nilai positif bagi tuan rumah untuk lebih optimal mempersiapkan segala sesuatunya.
Menimbang Kesiapan
Waktu berjalan mundur menuju ke Oktober 2021 diupayakan oleh berbagai pihak untuk menyempurnakan kesiapan. KONI, PB PON, stakeholder olahraga prestasi, tuan rumah PON XX, serta berbagai komponen pentahelix, termasuk juga adalah kontingen masing-masing daerah yang dipersiapkan mengambil peran yang luas. Mereka menunggu dan mempersiapkan proses latihan versi new normal. Selama penantian, sebagian besar dari mereka bahkan menjadi “model dan relawan” di lingkungannya untuk menggelorakan gaya hidup aktif, serta memelihara imunitas selama masa Pandemi Covid-19.
Pada saat segala sesuatu telah disempurnakan persiapannya, belakangan muncul berbagai dinamika baru. Wacana sebagian komponen masyarakat menghendaki PON XX Papua diundur pelaksanaannya ke 2022. Namun juga, di saat yang bersamaan muncul dukungan agar tetap berlangsung karena segala sesuatu telah disiapkan. Jika terpaksa, diusulkan PON tetap digelar sekalipun tanpa ada penonton di arena.
Lihat Juga :