Menakar Dampak Kerja Sama Sister City
Jum'at, 05 Maret 2021 - 05:53 WIB
Ketiga, pandemi Covid-19 membuka kesempatan untuk pengembangan Sister City secara maksimal dalam dua hal. Satu, transfer of knowledge and sharing best expertise untuk berbagai isu perkotaan, yang muncul akibat pandemi.
Contohnya, kerjasama pemanfaatan teknologi digital untuk pengembangan smart city pasca pandemi. Dua, kerjasama ekonomi yang terukur dan tepat sasaran untuk menunjang pemulihan ekonomi nasional.
"Revolusi digital membuat dua kota dapat terhubung dengan lebih mudah," ujar Yusron.
Anggota Komisi II DPR dari Fraksi PKS Mardani Ali Sera menilai, kerja sama dan program Sister City merupakan program bagus. Dengan program ini, dua kota bisa saling mendekat dan bekerjasama. Dengan demikian kota di Indonesia bisa mengambil pelajaran dari good goverrnace kota sister-nya.
"Manfaatnya lebih banyak jika kita siap. Ada banyak peluang pertukaran pelajar hingga pembukaan pasar UMKM. Plus bisa mendatangkan wisatawan dari kota Sister ke Indonesia dan jadi pemasukan bagi devisa kita. Tapi jika kita tidam siap dan hanya seremonial, jadinya tidak ada leverage (daya ungkit)," ujar Mardani kepada KORAN SINDO, di Jakarta, kemarin.
Baca juga: Varian Baru Covid-19 Masuk Indonesia, DPR Pertanyakan Pengawasan di Bandara
Lalu, bagaimana sejauh ini laporan implementasi sister city? Dia menuturkan, Komisi II DPR bersama Kementerian Dalam Negeri (Kemendagri) belum pernah melakukan evaluasi tentang bagaimana hasil nyata kota-kota di Indonesia melaksanakan program Sister City.
Belum adanya evaluasi tersebut, karena Komisi II DPR berpandangan progam tersebut bukan program wajib bagi daerah. Selain itu, Kemendagri juga tidak pernah melaporkan ke Komisi II.
"Tapi bagus jika Kemendagri memberikan dorongan agar pola Sister City bisa digunakan bagi Kota/Kabupaten/Provinsi untuk menjalin relasi bisnis, sosial, dan budaya termasuk pariwisata daerah bersangkutan," ungkap Mardani.
Pengamat sosial dan politik Musni Umar melihat adanya kerja sama antar kota di Indonesia dengan berbagai kota di negara lain banyak memberikan manfaat kepada masyarakat, dan pemerintah. Karena lewat kerja sama ini, pemerintah bisa saling memberikan pandangan mengenai kota yang ramah lingkungan, damai, dan bisa saling melihat kelebihan dan kelemahan masing-masing kota.
Tidak hanya pemerintah, masyarakat pun bisa merasakan manfaat dari kerja sama ini. Salah satunya dengan diberikan kesempatan untuk berkunjung untuk mengembangkan berbagai macam bidang, seperti kebudayaan, dan pendidikan dengan melakukan pertukaan pelajar melalui beasiswa. Hal ini menjadi sangat penting bagi pemerintah dalam membangun segala bidang.
"Selain mendekatkan penduduk dari dua daerah yang berbeda, sister city mendorong pertumbuhan sektor pariwisata di kedua daerah sehingga dapat pula menciptakan lapangan kerja,"ujarnya saat dihubungi Koran SINDO.
Tidak hanya di sektor pariwisata, hadirnya Sister city ikut mempengaruhi bidang ekonomi. Melalui sister city, kota-kota di Indonesia bisa saling mempelajari mengenai bisnis dari berbagai kota di negara yang memang memiliki sistem bisnis yang bagus, agar nantinya tidak terjadi kesenjangan antara pengusaha besar dan kecil.
Program kota kembar ini juga dapat memudahkan masyarakat kedua daerah mencari mitra bisnis yang ideal serta membuka peluang bisnis dan investasi bagi para pelaku usaha yang ingin merambah pasar baru.
"Sister city sangat memberikan manfaat besar, tinggal bagaimana kita bisa atau tidak memanfaatkannya. Dengan saling melengkapi kita bisa memajukan kota dan masyarakatnya," tuturnya.
Namun, Musni melihat masih ada tantangan yang harus dihadapi dari kerja sama ini salah satunya adalah komunikasi. Misalnya, Gubernur, bupati, dan Walikota tidak mahir berbahasa asing. Hal ini akan berpengaruh terhadap hubungan yang masif antar satu kota dengan kota yang lain.
Contohnya, kerjasama pemanfaatan teknologi digital untuk pengembangan smart city pasca pandemi. Dua, kerjasama ekonomi yang terukur dan tepat sasaran untuk menunjang pemulihan ekonomi nasional.
"Revolusi digital membuat dua kota dapat terhubung dengan lebih mudah," ujar Yusron.
Anggota Komisi II DPR dari Fraksi PKS Mardani Ali Sera menilai, kerja sama dan program Sister City merupakan program bagus. Dengan program ini, dua kota bisa saling mendekat dan bekerjasama. Dengan demikian kota di Indonesia bisa mengambil pelajaran dari good goverrnace kota sister-nya.
"Manfaatnya lebih banyak jika kita siap. Ada banyak peluang pertukaran pelajar hingga pembukaan pasar UMKM. Plus bisa mendatangkan wisatawan dari kota Sister ke Indonesia dan jadi pemasukan bagi devisa kita. Tapi jika kita tidam siap dan hanya seremonial, jadinya tidak ada leverage (daya ungkit)," ujar Mardani kepada KORAN SINDO, di Jakarta, kemarin.
Baca juga: Varian Baru Covid-19 Masuk Indonesia, DPR Pertanyakan Pengawasan di Bandara
Lalu, bagaimana sejauh ini laporan implementasi sister city? Dia menuturkan, Komisi II DPR bersama Kementerian Dalam Negeri (Kemendagri) belum pernah melakukan evaluasi tentang bagaimana hasil nyata kota-kota di Indonesia melaksanakan program Sister City.
Belum adanya evaluasi tersebut, karena Komisi II DPR berpandangan progam tersebut bukan program wajib bagi daerah. Selain itu, Kemendagri juga tidak pernah melaporkan ke Komisi II.
"Tapi bagus jika Kemendagri memberikan dorongan agar pola Sister City bisa digunakan bagi Kota/Kabupaten/Provinsi untuk menjalin relasi bisnis, sosial, dan budaya termasuk pariwisata daerah bersangkutan," ungkap Mardani.
Pengamat sosial dan politik Musni Umar melihat adanya kerja sama antar kota di Indonesia dengan berbagai kota di negara lain banyak memberikan manfaat kepada masyarakat, dan pemerintah. Karena lewat kerja sama ini, pemerintah bisa saling memberikan pandangan mengenai kota yang ramah lingkungan, damai, dan bisa saling melihat kelebihan dan kelemahan masing-masing kota.
Tidak hanya pemerintah, masyarakat pun bisa merasakan manfaat dari kerja sama ini. Salah satunya dengan diberikan kesempatan untuk berkunjung untuk mengembangkan berbagai macam bidang, seperti kebudayaan, dan pendidikan dengan melakukan pertukaan pelajar melalui beasiswa. Hal ini menjadi sangat penting bagi pemerintah dalam membangun segala bidang.
"Selain mendekatkan penduduk dari dua daerah yang berbeda, sister city mendorong pertumbuhan sektor pariwisata di kedua daerah sehingga dapat pula menciptakan lapangan kerja,"ujarnya saat dihubungi Koran SINDO.
Tidak hanya di sektor pariwisata, hadirnya Sister city ikut mempengaruhi bidang ekonomi. Melalui sister city, kota-kota di Indonesia bisa saling mempelajari mengenai bisnis dari berbagai kota di negara yang memang memiliki sistem bisnis yang bagus, agar nantinya tidak terjadi kesenjangan antara pengusaha besar dan kecil.
Program kota kembar ini juga dapat memudahkan masyarakat kedua daerah mencari mitra bisnis yang ideal serta membuka peluang bisnis dan investasi bagi para pelaku usaha yang ingin merambah pasar baru.
"Sister city sangat memberikan manfaat besar, tinggal bagaimana kita bisa atau tidak memanfaatkannya. Dengan saling melengkapi kita bisa memajukan kota dan masyarakatnya," tuturnya.
Namun, Musni melihat masih ada tantangan yang harus dihadapi dari kerja sama ini salah satunya adalah komunikasi. Misalnya, Gubernur, bupati, dan Walikota tidak mahir berbahasa asing. Hal ini akan berpengaruh terhadap hubungan yang masif antar satu kota dengan kota yang lain.
Lihat Juga :