Saatnya Menertibkan Para Buzzer

Kamis, 11 Februari 2021 - 04:30 WIB
Secara historis jasa para buzzer sudah digunakan saat Pilgub DKI Jakarta 2012 silam. Karena efektif, cara itu dilakukan kembali ketika Pilgub DKI Jakarta 2017, Pilpres 2014, dan Pilpres 2019. Faktor yang membuat buzzer tumbuh subur saat musim politik karena adanya pertarungan politik yang hanya ada dua kandidat. Selain itu masyarakat masih memiliki literasi politik yang rendah, termasuk literasi terhadap media sosial, inilah celah yang dimanfaatkan para pendengung itu.

Cara-cara yang dilakukan para buzzer memiliki risiko yang sangat besar. Sebab, bukan tidak mungkin buzzer dijadikan senjata untuk menyerang pribadi seseorang, dengan tujuan mematikan karakter orang tersebut. Buzzer juga tak punya kepedulian terhadap ruang publik, kondisi ini bisa berpotensi memperburuk demokrasi. Sebab, dapat memunculkan konflik berkepanjangan.

Karenanya, dalam suasana Hari Pers Nasional, sudah saatnya insan pers kembali menjernihkan informasi di masyarakat yang sudah dikooptasi oleh perilaku para buzzer. Sudah saatnya insan pers menabuh ”genderang perang” terhadap para buzzer demi tetap tegak dan kokohnya demokrasi di negeri ini.
(bmm)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!