N219, Simbol Optimisme Kemandirian Dirgantara Indonesia
Rabu, 23 Desember 2020 - 05:10 WIB
Agus Aribowo (Foto: Istimewa)
Agus Aribowo
Kepala Program Pesawat Transport Nasional Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (LAPAN)
UJI terbang malam prototipe pesawat N219 pada Rabu (16/12/2020) merupakan uji terbang validasi tahap akhir yang dilakukan oleh pilot dan Flight Test Engineer dari DKPPU (Direktorat Kelaikudaraan dan Pengoperasian Pesawat Udara) Kementerian Perhubungan Republik Indonesia. Selangkah lagi, perolehan sertifikasi tipe untuk N219 akan tercatat dalam sejarah industri penerbangan di Indonesia sebagai the first type certification award for civilian aircraft pascakrisis ekonomi yang menghantam Indonesia pada 1998 sehingga memaksa penghentian program N250 di tengah jalan.
Capaian ini merupakan titik balik bagi industri pesawat terbang Nusantara yang saat itu terpaksa merumahkan karyawan dan tidak kuasa menahan brain drain para specialist engineer-nya bermigrasi besar-besaran ke pabrikan pesawat terbang di Eropa, Amerika Serikat, dan Amerika Latin. Titik balik ini membuktikan bahwa masih adanya “ruh” engineer yang tersisa dari proyek sebelumnya serta adanya regenerasi mandiri tanpa bantuan dari luar negeri, dan anak bangsa mampu menyelesaikan seluruh tahapan dari studi pasar, konsep desain, desain detail, analisis, manufaktur, dan integrasinya, serta uji-uji darat dan terbang untuk memenuhi seluruh rangkaian proses sertifikasi yang sangat ketat yang dipersyaratkan oleh regulator.
Kepala Program Pesawat Transport Nasional Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (LAPAN)
UJI terbang malam prototipe pesawat N219 pada Rabu (16/12/2020) merupakan uji terbang validasi tahap akhir yang dilakukan oleh pilot dan Flight Test Engineer dari DKPPU (Direktorat Kelaikudaraan dan Pengoperasian Pesawat Udara) Kementerian Perhubungan Republik Indonesia. Selangkah lagi, perolehan sertifikasi tipe untuk N219 akan tercatat dalam sejarah industri penerbangan di Indonesia sebagai the first type certification award for civilian aircraft pascakrisis ekonomi yang menghantam Indonesia pada 1998 sehingga memaksa penghentian program N250 di tengah jalan.
Capaian ini merupakan titik balik bagi industri pesawat terbang Nusantara yang saat itu terpaksa merumahkan karyawan dan tidak kuasa menahan brain drain para specialist engineer-nya bermigrasi besar-besaran ke pabrikan pesawat terbang di Eropa, Amerika Serikat, dan Amerika Latin. Titik balik ini membuktikan bahwa masih adanya “ruh” engineer yang tersisa dari proyek sebelumnya serta adanya regenerasi mandiri tanpa bantuan dari luar negeri, dan anak bangsa mampu menyelesaikan seluruh tahapan dari studi pasar, konsep desain, desain detail, analisis, manufaktur, dan integrasinya, serta uji-uji darat dan terbang untuk memenuhi seluruh rangkaian proses sertifikasi yang sangat ketat yang dipersyaratkan oleh regulator.
Lihat Juga :