Menuju Masyarakat Post-Seksisme
Rabu, 18 November 2020 - 05:30 WIB
Rio Christiawan
Rio Christiawan
Dosen Hukum Universitas Prasetiya Mulya
SEMINGGU belakangan ini sebagian masyarakat “sibuk” mempergunjingkan tersebarnya video berkonten pornografi yang diduga melibatkan artis hingga tersebarnya foto tanpa busana yang juga mirip artis. Tidak dapat disangkal, trending-nya berita ini di berbagai media, termasuk media sosial, selama seminggu lebih bukti nyata potret masyarakat yang seksis. Sebuah isu bisa trending hingga lebih dari tiga hari adalah hal yang sangat jarang terjadi di Indonesia.
Lebih mengherankan lagi isu konten pornografi tersebut terjadi bersamaan dengan beberapa peristiwa besar, baik nasional maupun internasional, seperti isu pergantian presiden AS maupun berita kembalinya Habib Rizieq Shihab ke Tanah Air. Terlepas dari ada atau tiadanya maksud di balik penyebaran video/foto (berkonten) tersebut, faktanya animo masyarakat terhadap konten pornografi sangat tinggi.
Artikel ini tidak bermaksud menganalisis siapa yang menyebarkan video atau foto dimaksud ataukah apakah konten tersebut orisinal atau tidak. Artikel ini lebih sebagai analisis mengenai tingginya animo masyarakat terhadap konten pornografi. Pada esensinya, artikel ini secara reflektif ingin mencoba mengubah perspektif masyarakat. Pada umumnya perspektif yang terbentuk adalah masyarakat “berlomba-lomba” memberi penilaian, bahkan menghakimi para pihak yang terlibat dalam video atau foto berkonten porno tersebut. Apa penyebab sehingga—dalam bahasa anak muda—masyarakat sangat “kepo” terhadap isu video dan foto berkonten porno tersebut.
Tentu ketertarikan masyarakat atas isu tersebut tidak lepas dari video dan foto yang tersebar di banyak media. Trending-nya isu ini sangat dipengaruhi oleh dua kelompok masyarakat. Pertama, masyarakat yang menjadi “penikmat” konten video atau foto tersebut, kedua, masyarakat yang mengomentari konten video atau foto tersebut dari perspektifnya masing-masing. Baik masyarakat pada kategori pertama maupun kedua sama menilai konten tersebut secara seksis.
Akar Seksisme
Dosen Hukum Universitas Prasetiya Mulya
SEMINGGU belakangan ini sebagian masyarakat “sibuk” mempergunjingkan tersebarnya video berkonten pornografi yang diduga melibatkan artis hingga tersebarnya foto tanpa busana yang juga mirip artis. Tidak dapat disangkal, trending-nya berita ini di berbagai media, termasuk media sosial, selama seminggu lebih bukti nyata potret masyarakat yang seksis. Sebuah isu bisa trending hingga lebih dari tiga hari adalah hal yang sangat jarang terjadi di Indonesia.
Lebih mengherankan lagi isu konten pornografi tersebut terjadi bersamaan dengan beberapa peristiwa besar, baik nasional maupun internasional, seperti isu pergantian presiden AS maupun berita kembalinya Habib Rizieq Shihab ke Tanah Air. Terlepas dari ada atau tiadanya maksud di balik penyebaran video/foto (berkonten) tersebut, faktanya animo masyarakat terhadap konten pornografi sangat tinggi.
Artikel ini tidak bermaksud menganalisis siapa yang menyebarkan video atau foto dimaksud ataukah apakah konten tersebut orisinal atau tidak. Artikel ini lebih sebagai analisis mengenai tingginya animo masyarakat terhadap konten pornografi. Pada esensinya, artikel ini secara reflektif ingin mencoba mengubah perspektif masyarakat. Pada umumnya perspektif yang terbentuk adalah masyarakat “berlomba-lomba” memberi penilaian, bahkan menghakimi para pihak yang terlibat dalam video atau foto berkonten porno tersebut. Apa penyebab sehingga—dalam bahasa anak muda—masyarakat sangat “kepo” terhadap isu video dan foto berkonten porno tersebut.
Tentu ketertarikan masyarakat atas isu tersebut tidak lepas dari video dan foto yang tersebar di banyak media. Trending-nya isu ini sangat dipengaruhi oleh dua kelompok masyarakat. Pertama, masyarakat yang menjadi “penikmat” konten video atau foto tersebut, kedua, masyarakat yang mengomentari konten video atau foto tersebut dari perspektifnya masing-masing. Baik masyarakat pada kategori pertama maupun kedua sama menilai konten tersebut secara seksis.
Akar Seksisme