Staf Khusus Milenial, Anak Muda Berprestasi yang Dinilai Salah Tempat
Kamis, 16 April 2020 - 10:46 WIB
Arif berpendapat, Stafsus milenial itu adalah anak-anak muda yang salah tempat. "Mereka sebetulnya anak-anak muda yang punya prestasi, tapi bukan di bidang politik," tutur Arif.
Menurut dia, cukup wajar jika kesalahan seperti penggunaan kop surat institusi akan terjadi karena inkompeten dan tak memiliki pengalaman soal tata kelola pemerintahan.
"Stafsus milenial seharusnya mereka anak-anak muda yang memiliki pengalaman sosial, advokasi masyarakat kecil dan berinteraksi dengan banyak kelompok masyarakat. Bukan sekadar jago bisnis yang orientasinya selalu profit," tuturnya.
Gaji para Stafsus Milenial sebesar Rp51 juta per bulan dari pajak rakyat pun dikritisi Arif. Gaji itu jauh lebih besar dari gaji menteri yang hanya mencapai Rp18,64 juta per bulan.
"Stafsus milenial saat ini juga hanya pemborosan uang rakyat karena tak memiliki dampak kinerja yang dirasakan oleh publik," kata Arif.
Menurut dia, cukup wajar jika kesalahan seperti penggunaan kop surat institusi akan terjadi karena inkompeten dan tak memiliki pengalaman soal tata kelola pemerintahan.
"Stafsus milenial seharusnya mereka anak-anak muda yang memiliki pengalaman sosial, advokasi masyarakat kecil dan berinteraksi dengan banyak kelompok masyarakat. Bukan sekadar jago bisnis yang orientasinya selalu profit," tuturnya.
Gaji para Stafsus Milenial sebesar Rp51 juta per bulan dari pajak rakyat pun dikritisi Arif. Gaji itu jauh lebih besar dari gaji menteri yang hanya mencapai Rp18,64 juta per bulan.
"Stafsus milenial saat ini juga hanya pemborosan uang rakyat karena tak memiliki dampak kinerja yang dirasakan oleh publik," kata Arif.
(dam)
Lihat Juga :