Ayah Hadir, Indonesia Kuat: Melawan Fenomena Fatherless demi Generasi Emas 2045

Selasa, 30 Juni 2026 - 16:48 WIB

Apa yang Harus Dilakukan Mengatasi Fatherless?

Mengatasi fatherless harus dimulai dari rumah, mengubah paradigma mengasuh anak bukan pekerjaan ibu semata. Parenting adalah tanggung jawab bersama. Ayah hadir secara kualitas, lima belas menit penuh perhatian jauh lebih berarti dibanding tiga jam bersama tetapi sibuk dengan telepon genggam.

Bangunlah komunikasi setiap hari, membiasakan berbicara dengan anak mengenai sekolah, teman, cita-cita, maupun perasaan mereka. Ayah harus dapat menjadi teladan, anak belajar bukan dari ceramah, melainkan dari contoh. Buatlah "Family Time" dalam keluarga, misalnya makan malam bersama, olahraga bersama, membaca buku bersama, ibadah bersama atau mmemanfaatkan akhir pekan tanpa gawai.

Saatnya Pemerintah Bergerak Lebih Serius

Fenomena fatherless membutuhkan kebijakan nasional yang sistematis. Gerakan lintas kementerian yang mengampanyekan pentingnya keterlibatan ayah sejak masa kehamilan hingga anak dewasa. Program ini dapat melibatkan sekolah, dunia usaha, media massa, organisasi keagamaan, dan pemerintah daerah.

Gerakan ayah hadir yang melibatkan lintas kementerian, mengampanyekan pentingnya keterlibatan ayah sejak masa kehamilan hingga anak dewasa. Program ini dapat melibatkan sekolah, dunia usaha, media massa, organisasi keagamaan, dan pemerintah daerah.

Pemerintah juga dapat membangun “Sekolah Ayah Indonesia”, kurikulum pendidikan ayah yang diberikan kepada: calon pengantin, calon ayah, ayah baru dan ayah remaja. Materi meliputi psikologi perkembangan anak, komunikasi keluarga, pengasuhan positif, kesehatan mental, dan literasi digital. Buat kampanye nasional "Satu Ayah Satu Jam", yang mengajak setiap ayah meluangkan minimal satu jam setiap hari tanpa gawai untuk berinteraksi dengan anak. Gerakan sederhana ini murah tetapi berdampak besar.

Father-Friendly Workplace, pemerintah dapat memberikan insentif bagi perusahaan yang menerapkan budaya kerja ramah keluarga misalnya: jam kerja fleksibel, kebijakan Work From Anywhere (WFA) bila memungkinkan, program parenting bagi karyawan; optimalisasi pelaksanaan hak cuti ayah sesuai ketentuan yang berlaku.

Momentum Menuju Indonesia Emas 2045

Indonesia sedang menikmati bonus demografi. Namun bonus demografi hanya akan menjadi berkah apabila anak-anak yang lahir hari ini tumbuh menjadi manusia berkualitas. Mereka membutuhkan gizi yang baik, pendidikan berkualitas, lingkungan aman, karakter kuat, keluarga yang harmonis. Semua itu bermula dari rumah. Bila keluarga gagal menjalankan fungsi pengasuhan, negara akan menanggung biaya sosial yang jauh lebih besar di kemudian hari, mulai dari meningkatnya kriminalitas, masalah kesehatan mental, penyalahgunaan narkoba, hingga rendahnya produktivitas tenaga kerja. Sebaliknya, investasi pada keluarga merupakan investasi pembangunan yang paling murah sekaligus paling menguntungkan.

Hari Keluarga Nasional bukan sekadar peringatan tahunan. Ia adalah pengingat bahwa masa depan Indonesia sedang dibentuk setiap hari di ruang-ruang keluarga. Tema "Ayah Wajib Hadir" mengajak seluruh laki-laki Indonesia untuk kembali menemukan makna terdalam menjadi seorang ayah. Menjadi ayah bukan hanya soal memenuhi kebutuhan ekonomi, melainkan juga menghadirkan kasih sayang, perhatian, bimbingan, dan keteladanan.

Kehadiran ayah tidak selalu diukur dari lamanya waktu bersama, tetapi dari kualitas kebersamaan yang dibangun. Mendengarkan cerita anak sepulang sekolah, menemani belajar, bermain bersama, berdialog tentang mimpi dan kegelisahan mereka, hingga memberikan teladan dalam bersikap merupakan investasi yang nilainya jauh melampaui materi.

Di sisi lain, penguatan peran ayah tidak boleh dimaknai sebagai mengurangi pentingnya peran ibu. Justru keluarga yang kuat dibangun melalui kemitraan yang setara antara ayah dan ibu, dengan pembagian peran yang saling melengkapi sesuai kebutuhan keluarga. Ketika kedua orang tua hadir secara fisik dan emosional, anak memiliki kesempatan lebih besar untuk tumbuh menjadi pribadi yang sehat, percaya diri, berempati, dan berkarakter.

Indonesia Emas 2045 tidak akan lahir hanya dari gedung-gedung megah, teknologi canggih, atau pertumbuhan ekonomi yang tinggi. Ia akan lahir dari jutaan keluarga yang menjalankan fungsi pengasuhan dengan penuh cinta, tanggung jawab, dan keteladanan. Karena pada akhirnya, kualitas suatu bangsa bukan hanya ditentukan oleh apa yang dibangun pemerintah, melainkan juga oleh apa yang dibangun setiap orang tua di rumahnya. Dan dari semua investasi pembangunan, tidak ada yang lebih berharga daripada menghadirkan sosok ayah yang benar-benar hadir bukan sekadar ada, tetapi hadir sepenuh hati bagi anak dan keluarganya.

"Mari jadikan keluarga sebagai tempat pertama menanamkan nilai, membangun karakter, dan mewujudkan cita-cita bangsa." Selamat Hari Keluarga Nasional (Harganas) Ke-33, 29 Juni 2026.
(zik)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!