Ayah Hadir, Indonesia Kuat: Melawan Fenomena Fatherless demi Generasi Emas 2045
Selasa, 30 Juni 2026 - 16:48 WIB
Mengapa Kini Ayah Menjadi Sorotan? Fenomena Fatherless di Indonesia dan Ancaman Senyap bagi Generasi Emas 2045
Di tengah gencarnya pembangunan sumber daya manusia menuju Indonesia Emas 2045, terdapat ancaman yang tumbuh secara perlahan namun berdampak besar terhadap kualitas generasi mendatang. Ancaman itu bukan sekadar kemiskinan, stunting, atau rendahnya pendidikan, melainkan hilangnya peran ayah dalam kehidupan anak, atau yang kini dikenal sebagai fatherless.Fatherless bukan hanya berarti seorang anak kehilangan ayah karena meninggal dunia atau perceraian. Lebih luas dari itu, Fatherless merupakan kondisi ketika ayah hadir secara fisik, tetapi tidak hadir secara emosional, psikologis, dan sosial dalam proses pengasuhan anak. Ayah menjadi "ATM keluarga", tetapi gagal menjadi guru kehidupan bagi anak-anaknya.
Fenomena ini semakin mengkhawatirkan di Indonesia. Fatherless Bukan Lagi Isu Pinggiran. Data terbaru Pendataan Keluarga 2025 (PK25) yang dirilis oleh Kementerian Kependudukan dan Pembangunan Keluarga (Kemendukbangga)/BKKBN menunjukkan bahwa 25,8% anak Indonesia mengalami kondisi fatherless. Angka ini meningkat dibandingkan estimasi UNICEF tahun 2021 yang mencapai sekitar 20,9%.
Artinya, satu dari empat anak Indonesia tumbuh tanpa keterlibatan optimal seorang ayah. Kajian lain yang mengolah data kependudukan menunjukkan sekitar 15,9 juta anak Indonesia berpotensi mengalami fatherless. Dari jumlah tersebut sekitar 4,4 juta anak tinggal tanpa ayah, sedangkan 11,5 juta lainnya tinggal bersama ayah yang bekerja lebih dari 60 jam per minggu, sehingga interaksi pengasuhan sangat minim.
Data tersebut memberikan pesan yang sangat jelas. Permasalahan fatherless bukan lagi persoalan privat sebuah keluarga, tetapi telah berubah menjadi persoalan pembangunan nasional. Fenomena fatherless lahir dari kombinasi faktor sosial, ekonomi, budaya, hingga perubahan pola kehidupan modern.
Perceraian yang terus meningkat menjadi penyebab terbesar hilangnya figur ayah dalam kehidupan anak. Setelah perceraian, tidak sedikit ayah yang kehilangan kedekatan dengan anak akibat konflik hak asuh maupun renggangnya komunikasi antarorang tua. Berbagai kajian psikologi menempatkan perceraian sebagai penyebab paling dominan fatherless.
Tuntutan ekonomi menyebabkan banyak ayah harus merantau, bekerja lintas kota bahkan luar negeri. Mereka sesungguhnya bekerja demi keluarga, tetapi anak justru kehilangan waktu emas bersama ayah. Ironisnya, kemajuan teknologi komunikasi belum mampu menggantikan kedekatan emosional yang dibangun melalui interaksi langsung.
Budaya patriarki di banyak keluarga Indonesia masih berkembang pandangan bahwa mengasuh anak sepenuhnya merupakan tugas ibu. Ayah dipersepsikan hanya sebagai pencari nafkah. Paradigma inilah yang membuat sebagian ayah merasa cukup memenuhi kebutuhan ekonomi tanpa perlu terlibat dalam pengasuhan sehari-hari.
Jam kerja yang panjang dunia kerja, menyebabkan banyak ayah pulang larut malam, bekerja pada akhir pekan, bahkan tetap sibuk bersama telepon genggam ketika berada di rumah. Akibatnya, secara fisik ayah hadir, tetapi secara emosional tidak pernah benar-benar bersama anak.
Rendahnya literasi pengasuhan ayah. Masih banyak calon ayah yang tidak pernah mendapatkan pendidikan mengenai parenting. Mereka memahami bagaimana menjadi pekerja yang baik, tetapi tidak pernah diajarkan bagaimana menjadi ayah yang baik.
Fatherless Tidak Hanya Melukai Anak, tetapi Masa Depan Bangsa
Dampak Fatherless tidak berhenti pada hubungan keluarga. Ia merambat hingga kualitas sumber daya manusia Indonesia. Ayah merupakan role model pertama dalam pembentukan karakter. Ketika figur tersebut hilang, anak lebih mudah mengalami kebingungan identitas, kehilangan arah hidup, serta kesulitan menentukan nilai-nilai moral.Berbagai penelitian menunjukkan anak yang mengalami fatherless lebih rentan mengalami gangguan kesehatan mental seperti kecemasan, depresi, rendah diri, kesepian kronis, kesulitan mengendalikan emosi. Keterlibatan ayah terbukti meningkatkan motivasi belajar, disiplin, kemampuan menyelesaikan masalah, dan daya juang anak. Sebaliknya, fatherless meningkatkan risiko rendahnya prestasi akademik, ketidakhadiran di sekolah, hingga putus sekolah.
Mengaitkan fatherless dengan meningkatnya risiko pada perilaku remaja antara lain penyalahgunaan narkoba, kenakalan remaja, kekerasan, perilaku seksual berisiko, sampai kriminalitas. Namun demikian, penting ditekankan bahwa fatherless tidak secara otomatis menyebabkan semua anak mengalami masalah tersebut. Banyak anak tetap tumbuh sehat berkat dukungan ibu, keluarga besar, guru, dan lingkungan yang positif. Fatherless meningkatkan risiko, bukan menentukan nasib seseorang.
Anak yang kehilangan figur ayah sering mengalami eurunnya kualitas hubungan sosial, kesulitan membangun kepercayaan kepada orang lain, bekerja sama, maupun membangun hubungan interpersonal yang sehat. Dalam jangka panjang kondisi ini memengaruhi produktivitas tenaga kerja nasional.
Selama ini masyarakat terlalu sering memandang ayah hanya sebagai pencari nafkah. Padahal, fungsi ayah jauh lebih luas. Ayah adalah sekolah kepemimpinan pertama, teladan integritas, pelatih disiplin, sumber rasa aman, pembangun kepercayaan diri, penguat resiliensi, mentor kehidupan. Kehadiran ayah bahkan berperan dalam perkembangan bahasa, kecerdasan emosional, kemampuan mengambil keputusan, hingga pembentukan karakter kepemimpinan anak. Anak tidak membutuhkan ayah yang sempurna. Anak membutuhkan ayah yang hadir.
Lihat Juga :