Ketangguhan UMKM

Selasa, 22 September 2020 - 07:34 WIB
Bisa jadi lantaran desakan kebutuhan, pelaku UMKM terus berjuang untuk bertahan. Masa pandemik bisa jadi menjadi masa sulit bagi mereka kendati tidak banyak yang collaps seperti halnya industriawan. Bahkan pada masa normal, mereka pun bertarung melawan toko modern. Kebanyakan tetangganya belanja disana yang menyiapkan suasana belanja nyaman dengan harga pasti. Namun ketika dananya habis, tidak sedikit yang mampir di warung untuk ngutang. Pelaku ekonomi kecil yang lainnya berjuang dari petugas penertiban umum di kota ketika dirinya menghampiri sejumlah lalu-lalang orang yang banyak.

Tidak heran jika menjadi pengusaha seperti diatas banyak himpitannya. Wajar jika kemudian pemerintah menggelindingkan bantuan, diburu dengan semangat. Dari sisi itu, bantuan tersebut bisa dimaknai dua hal. Pertama, adanya pemahaman pemerintah bahwa pengusaha kelompok ini tidak boleh menambah beban pengangguran. Kedua, pengakuan jika kelompok ini termasuk pengusaha tangguh yang perlu dibantu dan dihargai. Oleh sebab itu, boleh jadi menjadi ajakan bagi dinas terkait untuk bersungguh-sungguh membina. Bukan saja menjaring kelompok usaha baru, namun harus menguatkan yang lama agar tetap bertahan dan bisa berkembang.

Dengan pembinaan yang dilakukan, setiap UMKM pastilah sudah terinventarisir. Dengan cara seperti itu, dengan adanya sejumlah fasilitas dari pemerintah, penerimanya sudah dapat diketahui cepat. Bahkan mungkin dengan komunikasi yang serba cepat, informasi tersebut pun dapat langsung masuk ke yang bersangkutan. Melalui jaringan aparat kewilayahan, kejelasan informasi pelaku ekonomi tersebut bisa senantiasa di update pula. Dengan demikian, perubahan dan perkembangan jumlah dan kualitas anggota usaha kecil dapat segera terekam tanpa keraguan adanya penyusup yang mengaku UMKM tanpa usaha.

Mentor

Bisa jadi Covid-19 mengajarkan bahwa UMKM menjadi pelaku ekonomi yang relatif tahan banting. Warung tetap buka kendati konsumennya banyak yang menggunakan online untuk belanja di pedagang besar. Pedagang keliling tetap setia mengunjungi pelanggannya yang ketakutan jika belanja di warung. Pedagang kaki lima juga tetap bertahan walaupun ancaman bahaya wabah mengancam nyawanya. Dengan demikian, responsivitas aparat pemerintah seperti Sharbrough (2015) tuliskan menjadi penting agar pihak-pihak rentan seperti itulah yang menjadi prioritas.

Sensitivitas masih belum cukup jika tidak didasari kesanggupan berkorban serta tanggungjawab sosial seperti Mintzberg (1992) paparkan. Dengan tanggungjawab sosial, usaha kecil yang perjuangkan untuk bisa bertahan dan berkembang. Bisa jadi tidak banyak yang dikawal untuk terus maju. Konsepsi bapak/ibu asuh bisa dikembangkan agar yang telah berhasil menjadi mentor bagi usaha lain sejenis untuk terus berkembang juga. Yang dimentori dan berhasil berkewajiban menjadi mentor bagi yang lainnya dan demikian seterusnya.
Halaman :
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!