Ketangguhan UMKM
Selasa, 22 September 2020 - 07:34 WIB
Pola diatas menunjukkan jika tanggungjawab sosial tidak hanya monopoli pemerintah, namun ditularkan kepada pelaku ekonomi lemah agar mampu menjadi kekuatan besar dalam perekonomian nasional. Membangun kekuatan pelaku ekonomi ini, pastilah berat pada permulaan, namun menjadi ringan jika seluruh tugas pemerintah diinternalisasikan kepada mereka juga. Dengan pemahaman tersebut, pelaku ekonomi ini menjadi subyek yang mengemban tanggung jawab untuk terus berkembang dan membawa kemajuan bagi yang lainnya. Dengan demikian, persepsi yang menempatkan kelompok tersebut beban dan obyek patut diubah.
Reposisi diatas tidak mudah dibangun. Persepsi jika pemerintah pemberi dan UMKM penerima patut diubah terlebih dahulu. Melalui aturan yang ada, mindset pun diubah juga agar penghargaan atas jerih payah kelompok usaha tersebut terbangun juga. Bisa jadi untuk itu ada sanksi yang diberikan pemerintah kepada aparaturnya. Dengan sanksi terhadap pihak-pihak yang merendahkan UMKM, maka nilai pun dapat menguat didalamnya untuk kemudian diprilakukan bersama seperti Rokeach (1984) tuliskan.
Dalam membangun mindset yang ajeg, sejumlah pihak menjadi penting terlibat. Akademisi sangatlah penting untuk dilibatkan agar kajian-kajian yang berkaitan dengan usaha kecil terus disampaikan kepada pelakunya. Dengan komunikasi yang egaliter, pelaku usaha diajaknya untuk menyikapi sejumlah temuannya. Boleh jadi antisipasi atas kajian akademisi memerlukan bantuan pengusaha dan perbankan untuk persoalan teknis dan bantuan modal. Bisa juga perlu media agar bisa diketahui lebih banyak pasarnya, dan masyarakat sebagai kontrol sekaligus konsumen.
Keterikatan semuanya menjadi perlu agar pengusaha kecil tersebut memiliki mental yang tangguh dan tekad untuk maju yang kuat. Dengan gotong royong, ketangguhan UMKM harus semakin kuat agar menjadi mitra tangguh pengusaha besar sekaligus mengurangi beban pemerintah menyediakan lapangan kerja bagi rakyatnya. Semoga!
Reposisi diatas tidak mudah dibangun. Persepsi jika pemerintah pemberi dan UMKM penerima patut diubah terlebih dahulu. Melalui aturan yang ada, mindset pun diubah juga agar penghargaan atas jerih payah kelompok usaha tersebut terbangun juga. Bisa jadi untuk itu ada sanksi yang diberikan pemerintah kepada aparaturnya. Dengan sanksi terhadap pihak-pihak yang merendahkan UMKM, maka nilai pun dapat menguat didalamnya untuk kemudian diprilakukan bersama seperti Rokeach (1984) tuliskan.
Dalam membangun mindset yang ajeg, sejumlah pihak menjadi penting terlibat. Akademisi sangatlah penting untuk dilibatkan agar kajian-kajian yang berkaitan dengan usaha kecil terus disampaikan kepada pelakunya. Dengan komunikasi yang egaliter, pelaku usaha diajaknya untuk menyikapi sejumlah temuannya. Boleh jadi antisipasi atas kajian akademisi memerlukan bantuan pengusaha dan perbankan untuk persoalan teknis dan bantuan modal. Bisa juga perlu media agar bisa diketahui lebih banyak pasarnya, dan masyarakat sebagai kontrol sekaligus konsumen.
Keterikatan semuanya menjadi perlu agar pengusaha kecil tersebut memiliki mental yang tangguh dan tekad untuk maju yang kuat. Dengan gotong royong, ketangguhan UMKM harus semakin kuat agar menjadi mitra tangguh pengusaha besar sekaligus mengurangi beban pemerintah menyediakan lapangan kerja bagi rakyatnya. Semoga!
(ras)
Lihat Juga :