Taiwan, Identitas, dan Politik Pengakuan: Membaca Ulang Perdebatan Lintas Selat
Rabu, 17 Juni 2026 - 15:16 WIB
Harryanto Aryodiguno, Ass. Prof. International Relations, President University. Foto/Dok. SindoNews
Harryanto Aryodiguno
Ass. Prof. International Relations, President University
PERNYATAAN mantan Wakil Ketua Kuomintang (KMT), Zhang Ronggong (張榮恭), bahwa “orang Taiwan juga adalah orang Tionghoa” kembali memunculkan perdebatan lama mengenai identitas nasional Taiwan. Di satu sisi, pernyataan tersebut mencerminkan pandangan yang menekankan kesamaan sejarah, budaya, dan asal-usul antara Taiwan dan China daratan. Di sisi lain, respons keras dari Dewan Urusan Daratan Taiwan (Mainland Affairs Council/MAC) menunjukkan bahwa identitas politik Taiwan saat ini tidak lagi dapat dijelaskan semata-mata melalui hubungan darah atau akar budaya.
Perdebatan tersebut menarik untuk dikaji bukan dalam kerangka siapa yang benar dan siapa yang salah, melainkan sebagai sebuah pertanyaan akademik yang lebih mendasar: mengapa kelompok masyarakat yang memiliki sejarah dan akar budaya yang sama dapat mengembangkan identitas nasional yang berbeda?
Secara historis, sulit untuk menyangkal bahwa mayoritas penduduk Han di Taiwan memiliki leluhur yang berasal dari Provinsi Fujian dan Guangdong di Tiongkok daratan. Bahasa Minnan (Hokkien), tradisi leluhur, nilai-nilai Konfusianisme, hingga praktik keagamaan masyarakat Taiwan menunjukkan hubungan historis yang sangat erat dengan peradaban China. Dalam konteks ini, argumentasi Zhang Ronggong memiliki dasar historis yang kuat. Hubungan geografis, budaya, dan genealogis antara kedua wilayah memang merupakan fakta sejarah yang tidak dapat diabaikan.
Ass. Prof. International Relations, President University
PERNYATAAN mantan Wakil Ketua Kuomintang (KMT), Zhang Ronggong (張榮恭), bahwa “orang Taiwan juga adalah orang Tionghoa” kembali memunculkan perdebatan lama mengenai identitas nasional Taiwan. Di satu sisi, pernyataan tersebut mencerminkan pandangan yang menekankan kesamaan sejarah, budaya, dan asal-usul antara Taiwan dan China daratan. Di sisi lain, respons keras dari Dewan Urusan Daratan Taiwan (Mainland Affairs Council/MAC) menunjukkan bahwa identitas politik Taiwan saat ini tidak lagi dapat dijelaskan semata-mata melalui hubungan darah atau akar budaya.
Perdebatan tersebut menarik untuk dikaji bukan dalam kerangka siapa yang benar dan siapa yang salah, melainkan sebagai sebuah pertanyaan akademik yang lebih mendasar: mengapa kelompok masyarakat yang memiliki sejarah dan akar budaya yang sama dapat mengembangkan identitas nasional yang berbeda?
Secara historis, sulit untuk menyangkal bahwa mayoritas penduduk Han di Taiwan memiliki leluhur yang berasal dari Provinsi Fujian dan Guangdong di Tiongkok daratan. Bahasa Minnan (Hokkien), tradisi leluhur, nilai-nilai Konfusianisme, hingga praktik keagamaan masyarakat Taiwan menunjukkan hubungan historis yang sangat erat dengan peradaban China. Dalam konteks ini, argumentasi Zhang Ronggong memiliki dasar historis yang kuat. Hubungan geografis, budaya, dan genealogis antara kedua wilayah memang merupakan fakta sejarah yang tidak dapat diabaikan.
Lihat Juga :