Mengenal Gareth Morgan: di Balik Metafora Organisme Pesantren
Jum'at, 29 Mei 2026 - 14:27 WIB
Adaptasi yang sehat adalah evolusi yang cerdas, bukan metamorfosis total yang bisa merusakbDNA organisme tersebut.
Bagi kami Pesantren adalah organisme. Ia bernapas. Ia bergerak. Ia bisa sakit. Ia bisa mati. Tapi ia juga bisa sembuh dan tumbuh lebih kuat, jika dikelola dengan baik.
Kami hanya seorang penulis yang mencoba menafsirkan ulang, menerjemahkan, dan mengaplikasikan pemikirannya ke dalam konteks lokal.
Untuk yang bertanya soal landasan teori organisme pesantren, sekarang sudah jelas. Ini tidak mengarang sendiri. Ada tokohnya. Ada bukunya. Ada kajian akademiknya yang serius.
Tapi Morgan bukan nabi. Teorinya bukan kitab suci. Ia hanya alat bantu. Seperti pisau bedah. Tergantung di tangan siapa, dan digunakan untuk operasi apa.
Hanya saja kita berhutang budi pada Morgan. Karena dari dialah kamu mengambil pelajaran bahwa organisasi tidak harus dilihat dengan satu mata. Dan bahwa metafora bukan sekadar permainan kata, tetapi instrumen analisis yang bisa membuka pemikiran kita.
Wallahu a‘lam.
---
Muhammad Irfanudin Kurniawan, dosen Manajemen Pendidikan Islam di Universitas Darunnajah (UDN) Jakarta. Penulis buku Organisme Pesantren, Dakwah Model Canvas, The Essence of Islamic Leadership, Menjejaki Alam Filsafat, dan Menalar Manajemen Pendidikan Islam: Dari Worldview Islam ke Integrasi Ilmu.
Morgan dan Pesantren
Kami juga tidak tahu pasti apakah Morgan pernah mendengar kata pesantren. Tapi saya yakin, mungkin jika ia membaca tulisan saya, harapannya ia akan tersenyum. Karena ia akan melihat bahwa metafora yang ia ciptakan puluhan tahun lalu, ternyata hidup dan berkembang di tempat yang tidak pernah ia bayangkan.Bagi kami Pesantren adalah organisme. Ia bernapas. Ia bergerak. Ia bisa sakit. Ia bisa mati. Tapi ia juga bisa sembuh dan tumbuh lebih kuat, jika dikelola dengan baik.
Kami hanya seorang penulis yang mencoba menafsirkan ulang, menerjemahkan, dan mengaplikasikan pemikirannya ke dalam konteks lokal.
Penutup
Untuk yang bertanya soal landasan teori organisme pesantren, sekarang sudah jelas. Ini tidak mengarang sendiri. Ada tokohnya. Ada bukunya. Ada kajian akademiknya yang serius.
Tapi Morgan bukan nabi. Teorinya bukan kitab suci. Ia hanya alat bantu. Seperti pisau bedah. Tergantung di tangan siapa, dan digunakan untuk operasi apa.
Hanya saja kita berhutang budi pada Morgan. Karena dari dialah kamu mengambil pelajaran bahwa organisasi tidak harus dilihat dengan satu mata. Dan bahwa metafora bukan sekadar permainan kata, tetapi instrumen analisis yang bisa membuka pemikiran kita.
Wallahu a‘lam.
---
Muhammad Irfanudin Kurniawan, dosen Manajemen Pendidikan Islam di Universitas Darunnajah (UDN) Jakarta. Penulis buku Organisme Pesantren, Dakwah Model Canvas, The Essence of Islamic Leadership, Menjejaki Alam Filsafat, dan Menalar Manajemen Pendidikan Islam: Dari Worldview Islam ke Integrasi Ilmu.
(nnz)
Lihat Juga :