Mengenal Gareth Morgan: di Balik Metafora Organisme Pesantren
Jum'at, 29 Mei 2026 - 14:27 WIB
Delapan metafora yang ia tawarkan, semuanya penting. Tapi yang paling mengena di hati kami sesuai dengan beground pendidikan adalah metafora kedua yaitu organisasi sebagai organisme.
Metafora inilah yang menjadi fondasi bagi tulisan-tulisan kami tentang organisme pesantren.
Kami tidak pernah mengklaim sebagai penemu istilah ini. Kami hanya menerjemahkan, mengadaptasi, dan mengaplikasikan ke dalam konteks pesantren.
Morgan menggambarkan organisasi sebagai makhluk hidup. Ia lahir. Tumbuh. Beradaptasi. Bisa sakit. Bisa mati. Ia bergantung pada lingkungan. Jika lingkungan berubah, ia harus berubah. Kalau tidak, ia akan punah.
Ia juga membedakan organisasi mekanistik (kaku seperti mesin) dan organik (luwes, mudah menyesuaikan diri).
Organisasi birokrasi cocok untuk lingkungan yang stabil. Organisasi organik cocok untuk lingkungan yang dinamis.
Dan pesantren, dengan segala dinamikanya, menurut pemahaman kami jelas termasuk yang kedua ini.
Hanya saja sebagai akademisi kami tidak serta-merta setuju dengan semua yang ia katakan.
Salah satu kelemahan metafora organisme, menurut Morgan sendiri, adalah ia cenderung melihat organisasi sebagai satu kesatuan yang utuh (unity). Padahal, di dalam organisasi bisa terjadi konflik kepentingan. Sub-sistem bisa saling tarik. Tidak selalu harmonis.
Kelemahan lain adalah organisasi bisa memiliki ideologi yang kaku. Dan ideologi ini bisa menghambat adaptasi, meskipun lingkungan sudah berubah.
Nah, dalam konteks pesantren, ini sangat relevan. Ideologi Ahlussunnah wal Jamaah, nilai keikhlasan, kesederhanaan, sanad keilmuan, dan penghormatan kepada kiai bukanlah barang yang bisa diganti seenaknya.
Ini adalah ideologi yang membuat pesantren sulit berubah. Dan ini bukan selalu buruk. Karena jika tidak ada ideologi, pesantren akan kehilangan jati diri.
Metafora inilah yang menjadi fondasi bagi tulisan-tulisan kami tentang organisme pesantren.
Kami tidak pernah mengklaim sebagai penemu istilah ini. Kami hanya menerjemahkan, mengadaptasi, dan mengaplikasikan ke dalam konteks pesantren.
Morgan menggambarkan organisasi sebagai makhluk hidup. Ia lahir. Tumbuh. Beradaptasi. Bisa sakit. Bisa mati. Ia bergantung pada lingkungan. Jika lingkungan berubah, ia harus berubah. Kalau tidak, ia akan punah.
Ia juga membedakan organisasi mekanistik (kaku seperti mesin) dan organik (luwes, mudah menyesuaikan diri).
Organisasi birokrasi cocok untuk lingkungan yang stabil. Organisasi organik cocok untuk lingkungan yang dinamis.
Dan pesantren, dengan segala dinamikanya, menurut pemahaman kami jelas termasuk yang kedua ini.
Beberapa catatan untuk Morgan
Hanya saja sebagai akademisi kami tidak serta-merta setuju dengan semua yang ia katakan.
Salah satu kelemahan metafora organisme, menurut Morgan sendiri, adalah ia cenderung melihat organisasi sebagai satu kesatuan yang utuh (unity). Padahal, di dalam organisasi bisa terjadi konflik kepentingan. Sub-sistem bisa saling tarik. Tidak selalu harmonis.
Kelemahan lain adalah organisasi bisa memiliki ideologi yang kaku. Dan ideologi ini bisa menghambat adaptasi, meskipun lingkungan sudah berubah.
Nah, dalam konteks pesantren, ini sangat relevan. Ideologi Ahlussunnah wal Jamaah, nilai keikhlasan, kesederhanaan, sanad keilmuan, dan penghormatan kepada kiai bukanlah barang yang bisa diganti seenaknya.
Ini adalah ideologi yang membuat pesantren sulit berubah. Dan ini bukan selalu buruk. Karena jika tidak ada ideologi, pesantren akan kehilangan jati diri.
Lihat Juga :