Mengenal Gareth Morgan: di Balik Metafora Organisme Pesantren
Jum'at, 29 Mei 2026 - 14:27 WIB
loading...
Dosen Manajemen Pendidikan Islam, Universitas Darunnajah (UDN) Jakarta, Muhammad Irfanudin Kurniawan. Foto/UDN Jakarta.
A
A
A
Dosen Manajemen Pendidikan Islam, Universitas Darunnajah (UDN) Jakarta, Muhammad Irfanudin Kurniawan
Workshop Peta jalan pesantren malam itu tiba-tiba menjadi rame, satu ruangan tertawa riang. Ini terjadi karena pemateri menemuka satu istilah menarik, ketika meminta peserta menulis di Mentimeter.
Apa itu?
Organisme Pesantren, ketika membaca kata itu, ada peserta yang nyeletuk "Orgasme apa organisasi" wkwkw
Begitupun juga dengan beberapa kiai yang membaca seri artikel opini kami tentang Organisme Pesantren ini, ada yang bertanya apa landasan teorinya dan siapa tokohnya.
Secara teori istilah organisme untuk organisasi dikenalkan oleh Gareth Morgan profesor Sosiologi Organisasi di bukunya "Images of Organization". Di bukunya Morgan menulis, organisasi itu bukanlah sesuatu yang objektif, tetap, dan tunggal. Ia bisa dilihat sebagai mesin, sebagai organisme, sebagai otak, sebagai budaya, sebagai sistem politik, sebagai budaya dan transformasi, bahkan sebagai alat dominasi.
Metafora-metafora itu adalah kacamata. Dan tergantung kacamata mana yang kita pakai, kita akan melihat masalah yang berbeda, dan menemukan solusi yang berbeda pula.
Dalam beberapa informasi di beberapa website, Gareth Morgan lahir di Wales, Britania Raya, pada tahun 1943. Ia belajar di Universitas Lancaster, Inggris, meraih gelar doktor di bidang sosiologi organisasi. Karier akademiknya ia habiskan di Universitas York, Kanada, tempat ia menjadi profesor di bidang organisasi. Ia bukan hanya akademisi, tapi juga konsultan manajemen dan penulis.
Buku Images of Organization terbit pertama kali pada tahun 1986. Sejak saat itu, buku ini menjadi salah satu teks paling berpengaruh dalam studi organisasi di seluruh dunia.
Ada yang bilang, Morgan adalah salah satu pemikir organisasi paling orisinal di zamannya. Ia tidak hanya mengkritik teori lama, tetapi juga menawarkan cara baru yang lebih kaya dan multidimensi.
Delapan metafora yang ia tawarkan, semuanya penting. Tapi yang paling mengena di hati kami sesuai dengan beground pendidikan adalah metafora kedua yaitu organisasi sebagai organisme.
Metafora inilah yang menjadi fondasi bagi tulisan-tulisan kami tentang organisme pesantren.
Kami tidak pernah mengklaim sebagai penemu istilah ini. Kami hanya menerjemahkan, mengadaptasi, dan mengaplikasikan ke dalam konteks pesantren.
Morgan menggambarkan organisasi sebagai makhluk hidup. Ia lahir. Tumbuh. Beradaptasi. Bisa sakit. Bisa mati. Ia bergantung pada lingkungan. Jika lingkungan berubah, ia harus berubah. Kalau tidak, ia akan punah.
Ia juga membedakan organisasi mekanistik (kaku seperti mesin) dan organik (luwes, mudah menyesuaikan diri).
Organisasi birokrasi cocok untuk lingkungan yang stabil. Organisasi organik cocok untuk lingkungan yang dinamis.
Dan pesantren, dengan segala dinamikanya, menurut pemahaman kami jelas termasuk yang kedua ini.
Hanya saja sebagai akademisi kami tidak serta-merta setuju dengan semua yang ia katakan.
Salah satu kelemahan metafora organisme, menurut Morgan sendiri, adalah ia cenderung melihat organisasi sebagai satu kesatuan yang utuh (unity). Padahal, di dalam organisasi bisa terjadi konflik kepentingan. Sub-sistem bisa saling tarik. Tidak selalu harmonis.
Kelemahan lain adalah organisasi bisa memiliki ideologi yang kaku. Dan ideologi ini bisa menghambat adaptasi, meskipun lingkungan sudah berubah.
Nah, dalam konteks pesantren, ini sangat relevan. Ideologi Ahlussunnah wal Jamaah, nilai keikhlasan, kesederhanaan, sanad keilmuan, dan penghormatan kepada kiai bukanlah barang yang bisa diganti seenaknya.
Ini adalah ideologi yang membuat pesantren sulit berubah. Dan ini bukan selalu buruk. Karena jika tidak ada ideologi, pesantren akan kehilangan jati diri.
Adaptasi yang sehat adalah evolusi yang cerdas, bukan metamorfosis total yang bisa merusakbDNA organisme tersebut.
Bagi kami Pesantren adalah organisme. Ia bernapas. Ia bergerak. Ia bisa sakit. Ia bisa mati. Tapi ia juga bisa sembuh dan tumbuh lebih kuat, jika dikelola dengan baik.
Kami hanya seorang penulis yang mencoba menafsirkan ulang, menerjemahkan, dan mengaplikasikan pemikirannya ke dalam konteks lokal.
Untuk yang bertanya soal landasan teori organisme pesantren, sekarang sudah jelas. Ini tidak mengarang sendiri. Ada tokohnya. Ada bukunya. Ada kajian akademiknya yang serius.
Tapi Morgan bukan nabi. Teorinya bukan kitab suci. Ia hanya alat bantu. Seperti pisau bedah. Tergantung di tangan siapa, dan digunakan untuk operasi apa.
Hanya saja kita berhutang budi pada Morgan. Karena dari dialah kamu mengambil pelajaran bahwa organisasi tidak harus dilihat dengan satu mata. Dan bahwa metafora bukan sekadar permainan kata, tetapi instrumen analisis yang bisa membuka pemikiran kita.
Wallahu a‘lam.
---
Muhammad Irfanudin Kurniawan, dosen Manajemen Pendidikan Islam di Universitas Darunnajah (UDN) Jakarta. Penulis buku Organisme Pesantren, Dakwah Model Canvas, The Essence of Islamic Leadership, Menjejaki Alam Filsafat, dan Menalar Manajemen Pendidikan Islam: Dari Worldview Islam ke Integrasi Ilmu.
Workshop Peta jalan pesantren malam itu tiba-tiba menjadi rame, satu ruangan tertawa riang. Ini terjadi karena pemateri menemuka satu istilah menarik, ketika meminta peserta menulis di Mentimeter.
Apa itu?
Organisme Pesantren, ketika membaca kata itu, ada peserta yang nyeletuk "Orgasme apa organisasi" wkwkw
Begitupun juga dengan beberapa kiai yang membaca seri artikel opini kami tentang Organisme Pesantren ini, ada yang bertanya apa landasan teorinya dan siapa tokohnya.
Secara teori istilah organisme untuk organisasi dikenalkan oleh Gareth Morgan profesor Sosiologi Organisasi di bukunya "Images of Organization". Di bukunya Morgan menulis, organisasi itu bukanlah sesuatu yang objektif, tetap, dan tunggal. Ia bisa dilihat sebagai mesin, sebagai organisme, sebagai otak, sebagai budaya, sebagai sistem politik, sebagai budaya dan transformasi, bahkan sebagai alat dominasi.
Metafora-metafora itu adalah kacamata. Dan tergantung kacamata mana yang kita pakai, kita akan melihat masalah yang berbeda, dan menemukan solusi yang berbeda pula.
Siapa Gareth Morgan?
Dalam beberapa informasi di beberapa website, Gareth Morgan lahir di Wales, Britania Raya, pada tahun 1943. Ia belajar di Universitas Lancaster, Inggris, meraih gelar doktor di bidang sosiologi organisasi. Karier akademiknya ia habiskan di Universitas York, Kanada, tempat ia menjadi profesor di bidang organisasi. Ia bukan hanya akademisi, tapi juga konsultan manajemen dan penulis.
Buku Images of Organization terbit pertama kali pada tahun 1986. Sejak saat itu, buku ini menjadi salah satu teks paling berpengaruh dalam studi organisasi di seluruh dunia.
Ada yang bilang, Morgan adalah salah satu pemikir organisasi paling orisinal di zamannya. Ia tidak hanya mengkritik teori lama, tetapi juga menawarkan cara baru yang lebih kaya dan multidimensi.
Metafora Kedua yang Paling menarik
Delapan metafora yang ia tawarkan, semuanya penting. Tapi yang paling mengena di hati kami sesuai dengan beground pendidikan adalah metafora kedua yaitu organisasi sebagai organisme.
Metafora inilah yang menjadi fondasi bagi tulisan-tulisan kami tentang organisme pesantren.
Kami tidak pernah mengklaim sebagai penemu istilah ini. Kami hanya menerjemahkan, mengadaptasi, dan mengaplikasikan ke dalam konteks pesantren.
Morgan menggambarkan organisasi sebagai makhluk hidup. Ia lahir. Tumbuh. Beradaptasi. Bisa sakit. Bisa mati. Ia bergantung pada lingkungan. Jika lingkungan berubah, ia harus berubah. Kalau tidak, ia akan punah.
Ia juga membedakan organisasi mekanistik (kaku seperti mesin) dan organik (luwes, mudah menyesuaikan diri).
Organisasi birokrasi cocok untuk lingkungan yang stabil. Organisasi organik cocok untuk lingkungan yang dinamis.
Dan pesantren, dengan segala dinamikanya, menurut pemahaman kami jelas termasuk yang kedua ini.
Beberapa catatan untuk Morgan
Hanya saja sebagai akademisi kami tidak serta-merta setuju dengan semua yang ia katakan.
Salah satu kelemahan metafora organisme, menurut Morgan sendiri, adalah ia cenderung melihat organisasi sebagai satu kesatuan yang utuh (unity). Padahal, di dalam organisasi bisa terjadi konflik kepentingan. Sub-sistem bisa saling tarik. Tidak selalu harmonis.
Kelemahan lain adalah organisasi bisa memiliki ideologi yang kaku. Dan ideologi ini bisa menghambat adaptasi, meskipun lingkungan sudah berubah.
Nah, dalam konteks pesantren, ini sangat relevan. Ideologi Ahlussunnah wal Jamaah, nilai keikhlasan, kesederhanaan, sanad keilmuan, dan penghormatan kepada kiai bukanlah barang yang bisa diganti seenaknya.
Ini adalah ideologi yang membuat pesantren sulit berubah. Dan ini bukan selalu buruk. Karena jika tidak ada ideologi, pesantren akan kehilangan jati diri.
Adaptasi yang sehat adalah evolusi yang cerdas, bukan metamorfosis total yang bisa merusakbDNA organisme tersebut.
Morgan dan Pesantren
Kami juga tidak tahu pasti apakah Morgan pernah mendengar kata pesantren. Tapi saya yakin, mungkin jika ia membaca tulisan saya, harapannya ia akan tersenyum. Karena ia akan melihat bahwa metafora yang ia ciptakan puluhan tahun lalu, ternyata hidup dan berkembang di tempat yang tidak pernah ia bayangkan.Bagi kami Pesantren adalah organisme. Ia bernapas. Ia bergerak. Ia bisa sakit. Ia bisa mati. Tapi ia juga bisa sembuh dan tumbuh lebih kuat, jika dikelola dengan baik.
Kami hanya seorang penulis yang mencoba menafsirkan ulang, menerjemahkan, dan mengaplikasikan pemikirannya ke dalam konteks lokal.
Penutup
Untuk yang bertanya soal landasan teori organisme pesantren, sekarang sudah jelas. Ini tidak mengarang sendiri. Ada tokohnya. Ada bukunya. Ada kajian akademiknya yang serius.
Tapi Morgan bukan nabi. Teorinya bukan kitab suci. Ia hanya alat bantu. Seperti pisau bedah. Tergantung di tangan siapa, dan digunakan untuk operasi apa.
Hanya saja kita berhutang budi pada Morgan. Karena dari dialah kamu mengambil pelajaran bahwa organisasi tidak harus dilihat dengan satu mata. Dan bahwa metafora bukan sekadar permainan kata, tetapi instrumen analisis yang bisa membuka pemikiran kita.
Wallahu a‘lam.
---
Muhammad Irfanudin Kurniawan, dosen Manajemen Pendidikan Islam di Universitas Darunnajah (UDN) Jakarta. Penulis buku Organisme Pesantren, Dakwah Model Canvas, The Essence of Islamic Leadership, Menjejaki Alam Filsafat, dan Menalar Manajemen Pendidikan Islam: Dari Worldview Islam ke Integrasi Ilmu.
(nnz)
Lihat Juga :