Hari ke-83 Perang Iran: Ketika Diplomasi Menjadi Jeda Kematian

Senin, 25 Mei 2026 - 13:41 WIB
Ridwan al-Makassary, Dosen di Fakultas Ilmu Sosial UIII/Direktur Center of Muslim Politics and World Society UIII. Foto/Dok. SindoNews
Ridwan Al-Makassary

Dosen Departemen Ilmu Politik Universitas Islam Internasional Indonesia (UIII)



Direktur Center for the Study of Muslim Politics and World Society (COMPOSE)

MEMASUKI hari ke-83 perang Iran, negosiasi diplomatik antara Amerika Serikat (AS) dan Iran bergerak seperti sebuah kapal tua di Selat Hormuz, yaitu tetap terapung, tetapi nyaris tenggelam dan karam. Dunia sedang menyaksikan dan menantikan dengan cemas hasil perundingan yang tengah berlangsung di Islamabad dan Doha, tetapi yang terdengar bukan bahasa damai, melainkan suara saling curiga, yang dibungkus protokol negosiasi diplomatik.

Singkatnya, di atas meja negosiasi, kedua negara dengan mediator Pakistan saling berbicara tentang perdamaian. Tetapi, di balik meja, keduanya masih mempersiapkan perang.

Murungnya, diplomasi tidak lagi terbit dari keinginan untuk menghentikan penderitaan manusia, melainkan dipicu oleh rasa takut terhadap kerugian ekonomi dan kelelahan militer. Amerika Serikat tampaknya mulai melunak bukan karena menyadari kehancuran hebat di Teheran, Beirut, dan Basra, melainkan karena harga minyak mengguncang pasar global dan blokade Selat Hormuz mulai mencekik ekonomi dunia.

Juga, tekanan publik AS yang lelah dengan perang tersebut. Sebaliknya, Iran pun membuka ruang dialog bukan karena percaya pada Washington, tetapi karena mereka mengetahui perang panjang akan menguras republik Iran hingga ke sumsum sosialnya.
Halaman :
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!