BKKBN Gandeng DPR Sosialisasikan Program Bangga Kencana, Soroti Pernikahan Dini
Selasa, 07 Oktober 2025 - 23:09 WIB
Ia juga menggarisbawahi pentingnya mematuhi batas usia ideal pernikahan—minimal 21 tahun untuk perempuan dan 25 tahun untuk laki-laki—guna menekan angka pernikahan dini yang masih tinggi di beberapa daerah.
Deputi Bidang Kebijakan Strategis BKKBN, Dr. Ukik Kusuma Kurniawan, S.KM., M.PS., MA, memaparkan perkembangan pelaksanaan program Bangga Kencana di Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB).
Baca juga: Kepala BKKBN Ajak Pramuka dan GenRE Indonesia Kolaborasi Atasi Masalah Remaja
Menurut Ukik, meskipun angka kelahiran di NTB menunjukkan tren menurun dan partisipasi keluarga dalam program KB mengalami peningkatan, provinsi ini masih menghadapi tantangan.
“NTB masih di atas rata-rata nasional untuk angka kelahiran, dan sedikit di bawah rata-rata nasional untuk partisipasi KB. Tapi yang patut diapresiasi, jumlah keluarga berisiko stunting terus menurun,” ujarnya.
Dalam sesi diskusi, pernikahan usia dini muncul sebagai persoalan utama, terutama di Kabupaten Lombok Utara dan Lombok Tengah. Faktor ekonomi disebut menjadi penyebab dominan, sementara edukasi dan konseling remaja di sekolah dianggap sebagai solusi preventif yang mendesak.
Deputi Bidang Kebijakan Strategis BKKBN, Dr. Ukik Kusuma Kurniawan, S.KM., M.PS., MA, memaparkan perkembangan pelaksanaan program Bangga Kencana di Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB).
Baca juga: Kepala BKKBN Ajak Pramuka dan GenRE Indonesia Kolaborasi Atasi Masalah Remaja
Menurut Ukik, meskipun angka kelahiran di NTB menunjukkan tren menurun dan partisipasi keluarga dalam program KB mengalami peningkatan, provinsi ini masih menghadapi tantangan.
“NTB masih di atas rata-rata nasional untuk angka kelahiran, dan sedikit di bawah rata-rata nasional untuk partisipasi KB. Tapi yang patut diapresiasi, jumlah keluarga berisiko stunting terus menurun,” ujarnya.
Dalam sesi diskusi, pernikahan usia dini muncul sebagai persoalan utama, terutama di Kabupaten Lombok Utara dan Lombok Tengah. Faktor ekonomi disebut menjadi penyebab dominan, sementara edukasi dan konseling remaja di sekolah dianggap sebagai solusi preventif yang mendesak.
Lihat Juga :