Roller Coaster Covid-19 dan Perubahan Wajah Peradaban
Minggu, 13 September 2020 - 07:32 WIB
PSBB ketat yang kembali diberlakukan, adalah simalakama: menghindari terlampauinya kapasitas maksimal rumah sakit (RS) rujukan merawat pasien Covid-19, namun juga menghentikan aktivitas ekonomi yang sesungguhnya perlahan-lahan mulai bergerak, di masa transisi. Naik turun roller coaster yang menegangkan, benar-benar jadi pengalaman sejarah masyarakat Indonesia hari-hari ini.
Tapi apa sebatas perasaan tak nyaman ala roller coaster, yang jadi implikasi pandemi, berkepanjangan ini? Secara empiris, banyak kebiasaan baik new normal yang bermunculan. Dari WFH diperoleh, ruang kerja fisik dan jam kerja synchronous tak mesti halangi produktivitas. Perjumpaan yang dimediasi perangkat berinternet, menyelesaikan banyak hal tanpa hilang kualitas.
Demikian pula di tengah tersendatnya pembelajaran jarak jauh (PJJ), lantaran dimaknai sebatas urusan pindah ruang: dari ruang analog ke ruang digital, pembuat kebijakan pendidikan berfokus pada ketersediaan pulsa dan perangkat komunikasi. Namun ini tak menghalangi munculnya sekolah yang bisa mengembangkan sistem ajar tanpa tatap muka yang berkualitas dan fleksibel.
Sekolah-sekolah itu mentrasfromasi pemahaman: pembelajaran adalah aktivitas alih informasi pengetahuan. Ruang-ruang fisik di waktu tertentu, itu sekunder. PJJ ini jadi cikal bakal internet of things. Demikian juga dengan ibadah dari rumah. Bukankan esensi relasi transendental memang mengandalkan virtualitas hubungan?
Tata cara jalani kehidupan, telah diubah oleh pandemi. Banyak dalam realitasnya, yang irreversible, tak bisa balik ke posisi semula. Senada, Sarah Rizvi, 2020 dalam Digital Transformation in a Post-Pandemic World menuliskan, manusia hari ini telah jauh dari kebiasaannya. Mereka telah mengubah pekerjaan dan tanggung jawab rumahnya, mengadakan konferensi video yang diinterupsi anak-anak, gonggongan anjing dan riuhya peralatan dapur.
Cara hidup telah dijungkirbalikkan dan perubahan itu tak akan kembali ke posisi semula. Menurut studi oleh Gartner, 74% CFO akan memindahkan karyawan secara permanen ke pekerjaan jarak jauh. Roller coaster pandemi Covid-19 adalah akselerasi perubahan perabadan, selama bangsanya belum punah oleh virus dan resesi ekonomi.
Tapi apa sebatas perasaan tak nyaman ala roller coaster, yang jadi implikasi pandemi, berkepanjangan ini? Secara empiris, banyak kebiasaan baik new normal yang bermunculan. Dari WFH diperoleh, ruang kerja fisik dan jam kerja synchronous tak mesti halangi produktivitas. Perjumpaan yang dimediasi perangkat berinternet, menyelesaikan banyak hal tanpa hilang kualitas.
Demikian pula di tengah tersendatnya pembelajaran jarak jauh (PJJ), lantaran dimaknai sebatas urusan pindah ruang: dari ruang analog ke ruang digital, pembuat kebijakan pendidikan berfokus pada ketersediaan pulsa dan perangkat komunikasi. Namun ini tak menghalangi munculnya sekolah yang bisa mengembangkan sistem ajar tanpa tatap muka yang berkualitas dan fleksibel.
Sekolah-sekolah itu mentrasfromasi pemahaman: pembelajaran adalah aktivitas alih informasi pengetahuan. Ruang-ruang fisik di waktu tertentu, itu sekunder. PJJ ini jadi cikal bakal internet of things. Demikian juga dengan ibadah dari rumah. Bukankan esensi relasi transendental memang mengandalkan virtualitas hubungan?
Tata cara jalani kehidupan, telah diubah oleh pandemi. Banyak dalam realitasnya, yang irreversible, tak bisa balik ke posisi semula. Senada, Sarah Rizvi, 2020 dalam Digital Transformation in a Post-Pandemic World menuliskan, manusia hari ini telah jauh dari kebiasaannya. Mereka telah mengubah pekerjaan dan tanggung jawab rumahnya, mengadakan konferensi video yang diinterupsi anak-anak, gonggongan anjing dan riuhya peralatan dapur.
Cara hidup telah dijungkirbalikkan dan perubahan itu tak akan kembali ke posisi semula. Menurut studi oleh Gartner, 74% CFO akan memindahkan karyawan secara permanen ke pekerjaan jarak jauh. Roller coaster pandemi Covid-19 adalah akselerasi perubahan perabadan, selama bangsanya belum punah oleh virus dan resesi ekonomi.
(dam)