Sentralitas ASEAN Dinilai Ampuh Hadapi China dan Kekuatan Eksternal
Rabu, 01 Oktober 2025 - 08:30 WIB
Mengutip riset yang sedang dilaksanakan FSI di bawah koordinasi alumni Universitas Western Australia (UWA) Ratih Kabinawa, Johanes menyampaikan pandangan bahwa salah satu strategi yang RRC lakukan untuk menanamkan pengaruhnya di Asia Tenggara dengan secara khusus mendekati negara yang sedang mendapat giliran sebagai ketua ASEAN.
“Hal ini karena posisi sebagai ketua ASEAN merupakan posisi yang sangat strategis, khususnya dalam membangun konsensus, mempersiapkan agenda, dan melakukan resolusi konflik dan mediasi diplomatik,” ungkap Johanes.
Menurut dia, kedekatan antara Malaysia dengan RRC menjadi salah satu kunci dari keberhasilannya sebagai ketua ASEAN tahun ini dalam memediasi konflik yang terjadi antara Thailand dan Kamboja.
Namun, ia mengingatkan bahwa keberhasilan itu merupakan buah dari upaya perimbangan yang dilakukan Malaysia baik dalam menjaga kedekatan dengan RRC maupun kekuatan-kekuatan lainnya, termasuk Amerika Serikat (AS).
Dengan kata lain, dia beranggapan upaya menjaga perimbangan hubungan dengan berbagai kekuatan besar adalah sangat penting. Meski demikian, dalam pandangan Johanes, kedekatan yang berlebihan dengan RRC juga berpotensi menyebabkan ASEAN menjadi lemah, khususnya dalam ketegangan-ketegangan yang secara langsung melibatkan RRC.
Pemerhati Hubungan Internasional dari Universitas Indonesia Broto Wardoyo memiliki pandangan yang sedikit berbeda, namun menarik. Menurut dia, China tak akan mampu memaksa ASEAN mengambil sebuah keputusan bulat yang akan membahayakan kepentingan mereka sendiri.
Karena itu, dia menilai strategi pragmatis yang paling tepat bagi China adalah menjaga status quo. Kehadiran dan pengaruh China di Asia Tenggara memang meningkat, namun kompleksitas yang mewarnai pengambilan keputusan di ASEAN justru menjadi penghambat yang menghalangi China untuk memaksa ASEAN mengambil keputusan dengan suara bulat.
Broto juga mengomentari politik luar negeri Indonesia yang akhir-akhir ini menurutnya telah bergeser dari kebijakan yang berpusat pada ASEAN menjadi kebijakan luar negeri yang makin beragam.
“Hal ini karena posisi sebagai ketua ASEAN merupakan posisi yang sangat strategis, khususnya dalam membangun konsensus, mempersiapkan agenda, dan melakukan resolusi konflik dan mediasi diplomatik,” ungkap Johanes.
Menurut dia, kedekatan antara Malaysia dengan RRC menjadi salah satu kunci dari keberhasilannya sebagai ketua ASEAN tahun ini dalam memediasi konflik yang terjadi antara Thailand dan Kamboja.
Namun, ia mengingatkan bahwa keberhasilan itu merupakan buah dari upaya perimbangan yang dilakukan Malaysia baik dalam menjaga kedekatan dengan RRC maupun kekuatan-kekuatan lainnya, termasuk Amerika Serikat (AS).
Dengan kata lain, dia beranggapan upaya menjaga perimbangan hubungan dengan berbagai kekuatan besar adalah sangat penting. Meski demikian, dalam pandangan Johanes, kedekatan yang berlebihan dengan RRC juga berpotensi menyebabkan ASEAN menjadi lemah, khususnya dalam ketegangan-ketegangan yang secara langsung melibatkan RRC.
Pemerhati Hubungan Internasional dari Universitas Indonesia Broto Wardoyo memiliki pandangan yang sedikit berbeda, namun menarik. Menurut dia, China tak akan mampu memaksa ASEAN mengambil sebuah keputusan bulat yang akan membahayakan kepentingan mereka sendiri.
Karena itu, dia menilai strategi pragmatis yang paling tepat bagi China adalah menjaga status quo. Kehadiran dan pengaruh China di Asia Tenggara memang meningkat, namun kompleksitas yang mewarnai pengambilan keputusan di ASEAN justru menjadi penghambat yang menghalangi China untuk memaksa ASEAN mengambil keputusan dengan suara bulat.
Broto juga mengomentari politik luar negeri Indonesia yang akhir-akhir ini menurutnya telah bergeser dari kebijakan yang berpusat pada ASEAN menjadi kebijakan luar negeri yang makin beragam.
Lihat Juga :