Terlalu Cepat, Chief...(Mengenang Arif Budimanta)

Minggu, 07 September 2025 - 18:53 WIB
Di balik itu semua, ada seorang Arif Budimanta yang manusiawi. Seorang bos yang tidak menjadikan ruang kerjanya sebagai singgasana, melainkan sebagai ruang diskusi yang setara, seorang ayah yang baik, dan suami yang setia. Dia acap mengomel, sesekali marah atau pundung, tapi tetap menjadi senior yang tidak segan menurunkan ilmunya, bukan untuk menegaskan superioritas, melainkan untuk mengangkat orang lain—sebuah sikap tawadhu.

Tapi dia juga pengikut yang baik dari kepemimpinan yang solid, biasa membantu sepenuh hati, teman yang bisa diajak berdebat keras tentang teori dan kebijakan ekonomi, tentang situasi politik, tepat tidaknya sebuah kebijakan, dan tertawa lepas saat membicarakan hal-hal lain di saat lain.

57 tahun, usia ketika banyak orang berada di puncak kematangan berpikir dan spiritual, ketika pengalaman panjang bertemu energi yang masih cukup untuk mewujudkannya. Terlalu cepat untuk pergi. Negeri ini masih membutuhkan gagasannya yang tajam namun selalu nyambung dengan realitas akar rumput. Memang terlalu cepat, chief.

Makanya, kepergiannya seperti meninggalkan ruang kosong yang sulit terisi. Bukan hanya di keluarga, di persyarikatan, atau di SigmaPhi Indonesia yang juga ia dorong kelahiran dan aktivitasnya, pun dalam khazanah pemikiran ekonomi-keislaman Indonesia yang inklusif dan membumi. Dia pergi tepat ketika kita membutuhkan lebih banyak orang seperti dia— yang tidak hanya pandai membaca peta, tetapi juga tidak pernah lupa pada tujuan akhir: kesejahteraan seluruh rakyat Indonesia.

Selamat jalan, Chief AB. Terima kasih untuk setiap gagasan, setiap diskusi, setiap dedikasi, kepercayaan, dan ketulusan. Pekerjaan rumah bangsa ini masih sangat banyak dan kami akan selalu terkenang padamu dengan rindu yang dalam.

Too soon, Chief. But no worries, just follow the light.
(jon)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!