Identitas Diri dan Tantangan Zaman: Saatnya Orang Tua Berproses Bersama
Senin, 11 Agustus 2025 - 12:01 WIB
• Membantu anak mengenal nilai mendasar. Keluarga seperti apa yang dimiliki anak? Budaya seperti apa yang menjadi akar dalam keluarganya? Hal-hal seperti ini menjadi penting dan merupakan langkah awal yang dapat dilakukan dalam penguatan identitas diri pada anak. Caranya bagaimana? Mulai kenalkan anak pada bahasa, sopan-santun, kebiasaan dalam keluarga dan dalam masyarakat sejak dini.
• Membantu anak untuk berekspresi. Pada anak berekspresi merupakan salah satu proses belajar. Biasanya dengan berekspresi mereka kemudian bisa merefleksikan apa yang ia rasakan, ia alami, tentunya dengan dibantu oleh orang tua. Misalkan dengan membiarkan anak untuk mengekspresikan kemarahan secara aman dapat menjadi momen untuk mengenali emosi tersebut. Sehingga anak mulai bisa memberi label pada emosi marah dan mengetahui bahwa ia sedang marah.
• Membantu anak untuk merefleksikan pengalamannya. Hal ini menjadi penting karena anak akan banyak bertanya mengenai apa yang ia alami, apa yang orang di sekitarnya lakukan. Namun, pada tahap pengenalan mungkin perlu dimulai dari orang tua dengan menanyakan mengenai apa yang baru ia alami. Pertanyaan yang dapat ditanyakan seperti ”Apa yang kamu tahu setelah menjatuhkan mainan ke lantai?” atau ”Apa yang kamu rasakan ketika bisa bermain dengan cat air?”
• Mendukung proses yang ia lalui dan bersabar menanggapi buah dari proses belajar anak. Sebagai orang tua tentu kita lebih memiliki pengalaman dan sumber daya yang lebih matang daripada anak. Di sinilah kita dapat menggunakan hal tersebut untuk memaklumi bahwa anak butuh berproses dalam belajar dan tidak serta merta menjadi sempurna. Proses belajar bisa saja dibarengi dengan kesalahan dan hasil yang tidak sesuai dengan apa yang kita anggap benar. Namun, bukan berarti kita langsung menyalahkan anak akan hal tersebut. Sikap tegas tetap dibutuhkan oleh orang tua, namun tidak dalam bentuk yang berlebihan seperti membentak atau mengancam anak.
• Dukungan yang utuh bagi anak untuk berproses. Dalam proses belajarnya seorang anak dan remaja membutuhkan dukungan secara emosional berupa rasa aman untuk mengeskpresikan dirinya atau sekedar dukungan emosional dalam bentuk perhatian dan afirmasi positif.
• Pertimbangkan faktor eksternal yang berada di luar anak dan keluarga. Faktor eksternal seperti nilai yang dijunjung oleh masyarakat dalam bentuk yang diterima oleh mayoritas perlu tetap dikenalkan pada anak. Begitu juga dengan cara dalam berdinamika dengan lingkungan sehingga tetap selaras dengan masyarakat. Contohnya seperti sopan santun dan kebiasaan yang diterima mayoritas orang dalam masyarakat.
• Pendekatan yang sesuai usia. Pada usia kanak-kanak yang lebih dominan pada pengenalan nilai dasar tentu membutuhkan cara yang berbeda dengan usia remaja di mana anak akan mulai belajar mengambil keputusan menghadapi masalah yang lebih kompleks. Di usia kanak-kanak bisa dilakukan dengan kegiatan yang lebih menyenangkan dan banyak melibatkan aktivitas bergerak seperti seni dan olahraga. Sedangkan pada usia remaja dapat berupa kebutuhan untuk berdiskusi mengenai isu yang lebih kompleks atau tentang menentukan rencana jangka pendek terkait jenjang pendidikan yang lebih tinggi.
• Fasilitasi kebutuhan dari segi pendidikan dan konsultasi profesional. Jika diperlukan untuk berdiskusi dengan profesional, seperti psikolog biasanya akan lebih membantu orang tua dalam memiliki gambaran tentang anak dan bagaimana proses belajar yang harus dilakukan.
• Membantu anak untuk berekspresi. Pada anak berekspresi merupakan salah satu proses belajar. Biasanya dengan berekspresi mereka kemudian bisa merefleksikan apa yang ia rasakan, ia alami, tentunya dengan dibantu oleh orang tua. Misalkan dengan membiarkan anak untuk mengekspresikan kemarahan secara aman dapat menjadi momen untuk mengenali emosi tersebut. Sehingga anak mulai bisa memberi label pada emosi marah dan mengetahui bahwa ia sedang marah.
• Membantu anak untuk merefleksikan pengalamannya. Hal ini menjadi penting karena anak akan banyak bertanya mengenai apa yang ia alami, apa yang orang di sekitarnya lakukan. Namun, pada tahap pengenalan mungkin perlu dimulai dari orang tua dengan menanyakan mengenai apa yang baru ia alami. Pertanyaan yang dapat ditanyakan seperti ”Apa yang kamu tahu setelah menjatuhkan mainan ke lantai?” atau ”Apa yang kamu rasakan ketika bisa bermain dengan cat air?”
• Mendukung proses yang ia lalui dan bersabar menanggapi buah dari proses belajar anak. Sebagai orang tua tentu kita lebih memiliki pengalaman dan sumber daya yang lebih matang daripada anak. Di sinilah kita dapat menggunakan hal tersebut untuk memaklumi bahwa anak butuh berproses dalam belajar dan tidak serta merta menjadi sempurna. Proses belajar bisa saja dibarengi dengan kesalahan dan hasil yang tidak sesuai dengan apa yang kita anggap benar. Namun, bukan berarti kita langsung menyalahkan anak akan hal tersebut. Sikap tegas tetap dibutuhkan oleh orang tua, namun tidak dalam bentuk yang berlebihan seperti membentak atau mengancam anak.
Hal yang perlu menjadi perhatian
Orang tua perlu memperhatikan beberapa hal dalam proses pengukuhan identitas diri, seperti:• Dukungan yang utuh bagi anak untuk berproses. Dalam proses belajarnya seorang anak dan remaja membutuhkan dukungan secara emosional berupa rasa aman untuk mengeskpresikan dirinya atau sekedar dukungan emosional dalam bentuk perhatian dan afirmasi positif.
• Pertimbangkan faktor eksternal yang berada di luar anak dan keluarga. Faktor eksternal seperti nilai yang dijunjung oleh masyarakat dalam bentuk yang diterima oleh mayoritas perlu tetap dikenalkan pada anak. Begitu juga dengan cara dalam berdinamika dengan lingkungan sehingga tetap selaras dengan masyarakat. Contohnya seperti sopan santun dan kebiasaan yang diterima mayoritas orang dalam masyarakat.
• Pendekatan yang sesuai usia. Pada usia kanak-kanak yang lebih dominan pada pengenalan nilai dasar tentu membutuhkan cara yang berbeda dengan usia remaja di mana anak akan mulai belajar mengambil keputusan menghadapi masalah yang lebih kompleks. Di usia kanak-kanak bisa dilakukan dengan kegiatan yang lebih menyenangkan dan banyak melibatkan aktivitas bergerak seperti seni dan olahraga. Sedangkan pada usia remaja dapat berupa kebutuhan untuk berdiskusi mengenai isu yang lebih kompleks atau tentang menentukan rencana jangka pendek terkait jenjang pendidikan yang lebih tinggi.
• Fasilitasi kebutuhan dari segi pendidikan dan konsultasi profesional. Jika diperlukan untuk berdiskusi dengan profesional, seperti psikolog biasanya akan lebih membantu orang tua dalam memiliki gambaran tentang anak dan bagaimana proses belajar yang harus dilakukan.
Berproseslah Bersama-sama
Pada akhirnya, pengukuhan identitas adalah sebuah proses aktif yang terus berlanjut sampai anak memahami jati dirinya kelak. Dalam proses ini, orang tua akan mulai mengenal bagaimana cara mereka merespons perilaku dari anak. Sehingga, proses ini bisa menjadi kesempatan bagi orang tua untuk berproses dan berkembang bersama anak.(rca)
Lihat Juga :