Identitas Diri dan Tantangan Zaman: Saatnya Orang Tua Berproses Bersama

Senin, 11 Agustus 2025 - 12:01 WIB
loading...
Identitas Diri dan Tantangan...
Debora Basaria, M.Psi., Psi, Sekretaris Program Studi Sarjana Psikologi Universitas Tarumanagara (Untar). Foto/Istimewa
A A A
Debora Basaria, M.Psi., Psi,
Psikolog,Sekretaris Program Studi Sarjana Psikologi Universitas Tarumanagara (Untar)

MASA remaja sering dikatakan sebagai masa transisi seorang anak menjadi dewasa. Pada masa ini, seseorang dihadapkan pada pilihan dan pengambilan sikap yang terkadang berdampak besar dalam hidupnya.

Seorang remaja tidak jarang mengalami tantangan dalam menghadapi kondisi tersebut. Misalkan seperti kondisi di mana ia bingung menentukan ke mana ia harus melanjutkan studi karena belum yakin dengan pilihan kariernya kelak.

Tantangan yang dihadapi bisa juga berujung pada keputusan respons yang kurang baik, seperti perilaku agresi dan beberapa hal negatif lainnya. Hal ini bisa terus berlanjut sampai remaja memasuki usia dewasa.

Namun, anak-anak atau individu yang memiliki identitas diri yang baik biasanya dapat menghadapi masalah yang timbul dengan cara yang lebih positif. Remaja sangat membutuhkan identitas diri yang positif sebagai dasar pengambilan keputusan atau tindakan. Sehingga dalam proses belajar menentukan pilihan, seorang remaja tidak melakukan tindakan menyimpang.

Identitas diri juga merupakan awal pembentukan jati diri. Jati diri adalah konsep kepribadian yang diperkenalkan oleh salah satu tokoh dalam Psikologi bernama Erik Erikson. Sepanjang hidup seseorang, jati diri akan terus berkembang dari kecil sampai menginjak usia dewasa.

Orang dewasa yang memiliki jati diri yang matang biasanya mampu memahami keyakinan, tujuan, dan bagaimana ia menempatkan diri di masyarakat. Layaknya kompas kehidupan, seseorang tanpa jati diri yang kuat bisa hilang arah ketika menghadapi rintangan hidup yang berat.

Pentingnya Pengenalan Identitas di Usia Dini

Hal yang perlu ditekankan adalah membantu dan mengenalkan anak terhadap aspek-aspek yang membentuk dirinya. Hal ini berarti mengenalkan anak terhadap nilai, budaya, dan minat anak. Proses pengenalan ini kemudian dapat terus berlanjut menjadi penerimaan dan pengembangan aspek-aspek tersebut.

Seluruh proses tersebut tentunya harus sesuai dengan tahap perkembangan seseorang. Tahap perkembangan dapat dibagi menjadi beberapa tahapan berdasarkan teori dari Erik Erikson berikut:
1. Bayi (0 – 1 tahun)
2. Kanak-kanak awal (1 – 3 tahun)
3. Masa bermain (3 – 6 tahun)
4. Masa sekolah (7 – 11 tahun)
5. Remaja 12 – 18 tahun)
6. Dewasa awal (19 – 29 tahun)
7. Dewasa madya (30 – 64 tahun)
8. Dewasa akhir (65 tahun dan seterusnya)

Masa kanak-kanak menjadi penting dikarenakan oleh proses yang dipelajari anak pada tiap tahapan usia akan membentuk pemahaman baru. Pada usia 0 – 1 tahun, anak belajar mengenai trust & mistrust yang akan membantu anak percaya bahwa dalam kesulitan ia dapat mencari bantuan dari orang lain dan tetap menghadapi masalah.

Dilanjutkan pada masa kanak-kanak awal yaitu pada umur 1-3 tahun di mana anak mulai belajar mengenai autonomy & shame/doubt yang akan membantu anak belajar membentuk rasa mampu untuk bertindak secara mandiri. Pada tahap usia bermain atau pada usia 3-6 tahun, anak akan belajar mengenai initiative & guilt yang akan membentuk keberanian untuk tetap membuat pilihannya sendiri asalkan masih sejalan dengan batasan yang ditetapkan orang tuanya.

Peran Yang Dapat Dilakukan Orang Tua

Orang tua bisa membantu mengarahkan anak dengan beberapa cara berikut:
• Membantu anak mengenal nilai mendasar. Keluarga seperti apa yang dimiliki anak? Budaya seperti apa yang menjadi akar dalam keluarganya? Hal-hal seperti ini menjadi penting dan merupakan langkah awal yang dapat dilakukan dalam penguatan identitas diri pada anak. Caranya bagaimana? Mulai kenalkan anak pada bahasa, sopan-santun, kebiasaan dalam keluarga dan dalam masyarakat sejak dini.
• Membantu anak untuk berekspresi. Pada anak berekspresi merupakan salah satu proses belajar. Biasanya dengan berekspresi mereka kemudian bisa merefleksikan apa yang ia rasakan, ia alami, tentunya dengan dibantu oleh orang tua. Misalkan dengan membiarkan anak untuk mengekspresikan kemarahan secara aman dapat menjadi momen untuk mengenali emosi tersebut. Sehingga anak mulai bisa memberi label pada emosi marah dan mengetahui bahwa ia sedang marah.

• Membantu anak untuk merefleksikan pengalamannya. Hal ini menjadi penting karena anak akan banyak bertanya mengenai apa yang ia alami, apa yang orang di sekitarnya lakukan. Namun, pada tahap pengenalan mungkin perlu dimulai dari orang tua dengan menanyakan mengenai apa yang baru ia alami. Pertanyaan yang dapat ditanyakan seperti ”Apa yang kamu tahu setelah menjatuhkan mainan ke lantai?” atau ”Apa yang kamu rasakan ketika bisa bermain dengan cat air?”

• Mendukung proses yang ia lalui dan bersabar menanggapi buah dari proses belajar anak. Sebagai orang tua tentu kita lebih memiliki pengalaman dan sumber daya yang lebih matang daripada anak. Di sinilah kita dapat menggunakan hal tersebut untuk memaklumi bahwa anak butuh berproses dalam belajar dan tidak serta merta menjadi sempurna. Proses belajar bisa saja dibarengi dengan kesalahan dan hasil yang tidak sesuai dengan apa yang kita anggap benar. Namun, bukan berarti kita langsung menyalahkan anak akan hal tersebut. Sikap tegas tetap dibutuhkan oleh orang tua, namun tidak dalam bentuk yang berlebihan seperti membentak atau mengancam anak.

Hal yang perlu menjadi perhatian

Orang tua perlu memperhatikan beberapa hal dalam proses pengukuhan identitas diri, seperti:
• Dukungan yang utuh bagi anak untuk berproses. Dalam proses belajarnya seorang anak dan remaja membutuhkan dukungan secara emosional berupa rasa aman untuk mengeskpresikan dirinya atau sekedar dukungan emosional dalam bentuk perhatian dan afirmasi positif.

• Pertimbangkan faktor eksternal yang berada di luar anak dan keluarga. Faktor eksternal seperti nilai yang dijunjung oleh masyarakat dalam bentuk yang diterima oleh mayoritas perlu tetap dikenalkan pada anak. Begitu juga dengan cara dalam berdinamika dengan lingkungan sehingga tetap selaras dengan masyarakat. Contohnya seperti sopan santun dan kebiasaan yang diterima mayoritas orang dalam masyarakat.

• Pendekatan yang sesuai usia. Pada usia kanak-kanak yang lebih dominan pada pengenalan nilai dasar tentu membutuhkan cara yang berbeda dengan usia remaja di mana anak akan mulai belajar mengambil keputusan menghadapi masalah yang lebih kompleks. Di usia kanak-kanak bisa dilakukan dengan kegiatan yang lebih menyenangkan dan banyak melibatkan aktivitas bergerak seperti seni dan olahraga. Sedangkan pada usia remaja dapat berupa kebutuhan untuk berdiskusi mengenai isu yang lebih kompleks atau tentang menentukan rencana jangka pendek terkait jenjang pendidikan yang lebih tinggi.

• Fasilitasi kebutuhan dari segi pendidikan dan konsultasi profesional. Jika diperlukan untuk berdiskusi dengan profesional, seperti psikolog biasanya akan lebih membantu orang tua dalam memiliki gambaran tentang anak dan bagaimana proses belajar yang harus dilakukan.

Berproseslah Bersama-sama

Pada akhirnya, pengukuhan identitas adalah sebuah proses aktif yang terus berlanjut sampai anak memahami jati dirinya kelak. Dalam proses ini, orang tua akan mulai mengenal bagaimana cara mereka merespons perilaku dari anak. Sehingga, proses ini bisa menjadi kesempatan bagi orang tua untuk berproses dan berkembang bersama anak.
(rca)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Lanjut Baca Berita Terkait Lainnya
Berita Terkait
Memahami Urgensi Koperasi...
Memahami Urgensi Koperasi Desa Merah Putih
Belajar dari Iran: Tiga...
Belajar dari Iran: Tiga Pelajaran Strategis bagi Indonesia
Penahanan dr Tifa: Babak...
Penahanan dr Tifa: Babak Baru atau Babak Terakhir
Darurat Pemasangan Kabel...
Darurat Pemasangan Kabel di Area Jakarta
Penangkapan dr Tifa...
Penangkapan dr Tifa dan Ujian Negara Hukum di Tengah Polemik Ijazah Jokowi
Taiwan, Identitas, dan...
Taiwan, Identitas, dan Politik Pengakuan: Membaca Ulang Perdebatan Lintas Selat
Wisuda Untar Angkat...
Wisuda Untar Angkat Semangat Generasi Unggul, Berkarakter, dan Bebas Narkoba
Tabrakan Kereta Bekasi...
Tabrakan Kereta Bekasi Picu Trauma Psikologis, Ini Penjelasan Psikolog Unair
53 Anak Jadi Korban...
53 Anak Jadi Korban Kekerasan Daycare Little Aresha, Pemprov DIY Beri Pendampingan Psikologis
Rekomendasi
Perbandingan Harga BBM...
Perbandingan Harga BBM Pertamina, Shell, Vivo Energy dan BP per 22 Juni 2026
Desain Jersey Karya...
Desain Jersey Karya G-Dragon Tuai Pujian di Piala Dunia 2026, Sentuhan Streetwear Korea Jadi Sorotan
Tim Kedua Kami adalah...
Tim Kedua Kami adalah Iran, Kisah Solidaritas yang Mengharukan di Piala Dunia 2026
Berita Terkini
Memahami Urgensi Koperasi...
Memahami Urgensi Koperasi Desa Merah Putih
Polda Metro Singgung...
Polda Metro Singgung Ada Mantan Pejabat Berupaya Hambat Kasus Roy Suryo
Jokowi Minta PSI Dukung...
Jokowi Minta PSI Dukung Prabowo-Gibran 2 Periode, AHY: Pemilu 2029 Masih Lama
Kasus Dugaan Pemerasan...
Kasus Dugaan Pemerasan Izin Tinggal WNA, Dirjen Imigrasi Minta Buka Akses Seluas-luasnya untuk KPK
AHY: Oposisi Harus Konstruktif,...
AHY: Oposisi Harus Konstruktif, Tidak Boleh Memecah Belah Bangsa
Gugat Penetapan Capres...
Gugat Penetapan Capres 2014 dan 2019, Bonatua Bawa Novum Baru ke PTUN
Infografis
Qatar, UEA, dan Israel...
Qatar, UEA, dan Israel Gelar Latihan Militer Bersama
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved