Tarik Tambang Muhammadiyah

Senin, 29 Juli 2024 - 16:32 WIB
Meski demikian, PP Muhammadiyah memang tetap tidak bergeming dengan munculnya suara-suara ketidakpuasan tersebut. Reaksi publik Muhammadiyah yang pro-kontra merupakan hal yang lumrah. Karena itu, PP Muhammadiyah tidak mungkin hanya mendengarkan satu sisi dan mengabaikan sisi yang lain, meski hasil keputusan tersebut pasti akan dianggap hanya menguntungkan satu sisi saja.

Namun, dengan digelarnya konsolnas tersebut, dan secara terbuka masing-masing perwakilan PW Muhammadiyah tidak ada yang menolak konsesi tambang tersebut — meski tetap saja ada sejumlah catatan yang harus diperhatikan oleh PP Muhammadiyah. Artinya, ketersetujuan PW Muhammadiyah atas kebijakan PP Muhammadiyah tersebut masih dengan catatan.

Suara keras Amien Rais di kanal YouTube-nya ada benarnya bahwa tawaran pengelolaan tambang merupakan tawaran yang penuh racun dan bisa. Bagi Amien Rais, konsesi tambang ibarat kail berbisa atau beracun. Sehingga keputusan Muhammadiyah untuk ‘menelan’ kail tersebut, dituding Amien Rais karena Muhammadiyah kepincut dengan keduniaan.

Pertanyaannya, apa seekstrem itu dalam menilai Muhammadiyah? Benarkah Muhammadiyah silau dengan persoalan keduniaan sehingga mengabaikan suara-suara kritis dari luar?

Menurut saya, tudingan Amien Rais tersebut cukup berlebihan. Meski di satu sisi bisa dibenarkan bahwa konsesi tambang itu ibarat berbisa atau beracun. Namun mungkin Amien Rais juga lupa, tidak ada racun dan bisa yang tidak bisa dijinakkan atau dinetralisir.

Apakah bukan tidak mungkin Amien Rais ada traumatik yang berlebihan terkait persoalan pertambangan? Ataukah semata-mata “ketidak-sukaan terhadap Jokowi” yang kemudian menjadikannya begitu keras terhadap segala hal yang berpotensi berinteraksi secara positif dengan Jokowi? Atau ada kepentingan politik yang lebih taktis strategis dibalik suara nyaring tersebut, yang notabene Amien Rais hingga saat ini merupakan sosok politisi kawakan yang cenderung bernasib kurang mujur dalam panggung politik nasional.

Kita tidak menutup mata bahwa selama ini dunia pertambangan telah menjadi penyumbang utama terjadinya kerusakan lingkungan akut, yang secara langsung juga menyulut terjadinya konflik sosial di masyarakat. Namun jika dikaji lebih mendalam, bisa jadi “kehancuran lingkungan dan konflik sosial” karena yang menguasai dunia tambang berasal dari kelompok-kelompok yang tidak sekAdar amatir (tidak profesional), namun juga tidak amanah. Lebih mementingkan keuntungan material semata tanpa mempedulikan residu alam dan sosial yang ditimbulkannya.
Halaman :
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!