Memerdekakan Negeri dari Krisis Pandemi

Senin, 24 Agustus 2020 - 06:42 WIB
Agus Harimurti Yudhoyono
Agus Harimurti Yudhoyono

Ketua Umum Partai Demokrat

PADA 17 Agustus lalu, saya bersama istri mengikuti prosesi upacara pengibaran bendera Sang Saka Merah Putih dalam rangka peringatan Hari Kemerdekaan Republik Indonesia di Istana Negara secara virtual. Perayaan hari kemerdekaan kali ini benar-benar berbeda, tanpa parade dan defile yang gegap gempita, tanpa pesta rakyat yang penuh tawa dan suka cita. Akibat pandemi Corona Virus Disease (Covid-19) yang telah melanda dunia dan negeri kita, hari kemerdekaan kali ini kita rayakan dengan sangat bersahaja, namun Insyallah tetap khidmat dan bermakna.

Bagaimanapun juga, tanggal 17 Agustus merupakan hari istimewa yang penuh makna dan kebahagiaan bagi rakyat Indonesia. Oleh karena itu, peringatan usia bangsa yang menginjak 75 tahun ini harus menjadi momentum yang baik bagi kita untuk melakukan refleksi kesejarahan, mensyukuri apa yang telah kita capai dan wujudkan, meneguhkan komitmen perjuangan dan pengabdian kita menuju Indonesia yang semakin aman dan damai, semakin adil dan sejahtera, serta semakin maju dan mendunia, di masa depan.

Kesederhanaan peringatan kemerdekaan Indonesia kali ini mengingatkan kita pada suasana kebatinan proklamasi kemerdekaan bangsa yang juga diselenggarakan melalui upacara yang amat sederhana. Saat itu, Sang Saka Merah Putih dikibarkan di tengah ancaman musuh-musuh Republik, yang tidak menghendaki bangsa ini merdeka. Namun keteguhan, kegigihan, dan semangat persatuan para pejuang dan pendiri bangsa akhirnya Indonesia terbebas dari penjajahan yang membelenggu negeri selama ratusan tahun lamanya.



Terhitung sejak penghujung 2019 hingga sekarang, fenomena pandemi Covid-19 kini telah menyebar ke lebih dari 215 negara. Pandemi ini telah menjadi ancaman non-traditional (non-traditional security threat) yang kini menelan korban berskala besar dan menghadirkan tekanan ekonomi dunia yang sangat berat. Sejumlah negara telah memasuki fase resesi yang ditandai oleh pertumbuhan ekonomi negara selama dua kali kuartal berturut-turut. Tentu kita semua tidak berharap tekanan ini berubah menjadi depresi ekonomi. Namun demikian, tekanan ekonomi itu terbukti berkontribusi menghadirkan gelombang pengangguran, kemiskinan dan ketimpangan di berbagai negara (World Bank, 2020; UNDP, 2020).

Di Indonesia sendiri, penyebaran pandemi Covid-19 masih menunjukkan peningkatan eksponensial. Belum tampak tren penurunan penyebaran. Sementara itu, tren ekonomi kuartal II menujukkan gejala mengkhawatirkan dimana pertumbuhan ekonomi turun hingga 8%, dari 2,97% di kuartal I menjadi -5,32% di kuartal II (BPS, 2020). Jika tidak diantisipasi dengan baik melalui gerak cepat penanganan pandemi dan penyelamatan ekonomi secara efektif, negara berpotensi mengalami resesi dan tekanan ekonomi yang lebih dalam dan berkepanjangan. Bappenas (2020) sendiri telah memprediksi potensi hadirnya gelombang pengangguran baru hingga 5 juta jiwa, sehingga total pengangguran bisa menembus angka 12,7 juta di tahun 2021 mendatang. Selanjutnya, gelombang ini tentu juga akan berimplikasi pada meningkatnya angka kemiskinan dan ketimpangan sosial di tengah masyarakat. Capaian Indonesia selama pemerintahan Presiden SBY yang berhasil menurunkan tingkat kemiskinan secara signifikan dari 16,7% (2004) menjadi 10,96% (2014), kemudian berlanjut ke ‘single digit’ di era Presiden Jokowi menjadi 9,22% (2019), berpotensi kembali melonjak menjadi “double digit”.

Untuk itu, kita harus fokus pada upaya penyelesaian akar persoalan ini. Jika merujuk pada filosofi sederhana dalam ranah kebijakan publik, penyebaran pandemi adalah apinya, sedangkan dampak tekanan ekonomi adalah asapnya. Negara tidak boleh salah fokus. Sejak awal, konsentrasi negara memang harus lebih fokus memadamkan apinya, bukan justru sibuk memperhatikan kepulan asapnya. Untuk itu, semua langkah-langkah taktis dan strategis penyelamatan kesehatan rakyat dan ekonomi negara ini harus kita kawal bersama. Jika akurasi dan efektivitas penanganan pandemi dan distribusi dana stimulasi ekonomi tidak tepat sasaran, maka berpotensi menjebak negara ke dalam situasi yang lebih pelik.

Untuk itu, di tengah spirit Hari Kemerdekaan ini, setiap daya dan upaya seluruh komponen bangsa harus diorientasikan pada idealisme dan komitmen perjuangan untuk menyelamatkan dan memerdekakan Indonesia dari ancaman pandemi. Karena itu, komitmen persatuan dan kegigihan dalam perjuangan ini juga harus kita wujudkan dalam ikhtiar bangsa untuk melakukan “Perang Semesta” melawan pandemi.
Dapatkan berita terbaru, follow WhatsApp Channel SINDOnews sekarang juga!
Halaman :
tulis komentar anda
Video Rekomendasi
Berita Terkait
Rekomendasi
Terpopuler
Berita Terkini More