Kepemimpinan Minus Etik
Minggu, 14 Januari 2024 - 10:07 WIB
Memang terkadang sulit mengambil keputusan untuk berubah. Alasan yang sering kemukakan antara lain: Pertama, comfort zone, sudah merasa senang atau nyaman dengan apa yang dilakukan atau diperoleh selama ini. Kenyamanan itu dapat berupa kekuasaan, kekayaan, ataupun kesenangan lainnya.
Kedua, ada perasaan takut. Takut salah, takut gagal, takut dikeritk, takut malu, takut menanggung risiko, takut dibicarakan orang, takut mati, dan lain-lain. Kata Aristoteles, “Ketakutan adalah perasaan yang timbul karena ingin mengantisipasi kesalahan.”
Ketiga, berpaling pada kesuksesan masa lalu. Selalu bangga dengan keberhasilan masa lalu dan lupa bahwa dunia ini terus berubah, di mana keberhasilan masa lalu bukan keberhasilan masa kini.
Keempat, masa depan tidak atau belum jelas, suram. Orang melihat masa depan tidak jelas atau suram, karena tidak memiliki visi yang cukup untuk melihat masa depan.
Karena itu, setidaknya ada lima hal yang dapat memberi kekuatan bagi setiap orang atau setiap pemimpin organisasi atau pemimpin bangsa untuk mengambil keputusan, yakni: Pertama, waktu adalah komoditi berharga. Waktu adalah komoditi yang paling mahal di dunia, bahkan dibandingkan dengan uang sekali pun.
Kedua, kompetisi. Persaingan masa depan adalah ilmu melawan ilmu, bukan uang melawan uang. Dalam memenangkan kompetisi masa kini, kuncinya, “Haw to make our people learn better and faster than our competitor”.
Ketiga, pemanfaatan informasi dan teknologi komunikasi. Dalam dunia yang serba cepat, semua harus informasi dan teknologi komunikasi, yang berkembang dengan pesat. Information is power.
Keempat, kreativitas. Dengan berkembangnya informasi melalu berbagai media, diperlukan kempampuan dan keahlian mengompilasi, menganalisa informasi yang kita terima dan berpikir kreatif, bukan reaktif.
Kelima, belajar terus menerus. Dalam dunia yang cepat berubah, pendidikan adalah modal utama bagi seseorang agar dapat beradaptasi dengan perubahan. Bill Gates, dalam bukunya, “The Road Ahead”, sangat menekankan proses belajar terus-mererus.
Tidak Boleh Minus Etik
Empat prinsip dalam kepemimpinan, yakni: 1. Kita semua akan memimpin sepanjang waktu. 2. Kepemimpinan itu timbul dari dalam. 3. Kepemimpinan itu cara hidup kita. 4. Untuk menjadi pemimpin adalah proses pengembangan diri secara terus menerus. Karena merupakan proses pengembangan diri secara terus menerus maka tidak salah bila Rick Warrer berkata: “Begitu kita berhenti belajar, kita tidak lagi memimpin.”
Seorang pemimpin juga wajib memiliki pondasikan etik yang kuat dan santun. Sebab, tanpa etika kepemimpinan, maka pemimpin tidak akan pernah mampu menyentuh hati terdalam dari rakyat atau para pengikutnya. Karena itu kepemimpinan wajib dibangun ke arah pembentukan karater terpuji dan pondasi etik yang kuat.
Sebab, tanpa karanter terpuji dan etik kepemimpinan, maka pemimpin tidak akan pernah mampu menyentuh hati terdalam dari rakyat atau para pengikutnya. Hanya dengan etik yang kuat serta kesantun, seorang pemimpin bangsa dapat menyentuh dan menggerakkan hati rakyatnya.
Etik merupakan kumpulan asas atau nilai yang berkenaan dengan akhlak dan juga nilai mengenai benar dan salah yang dianut suatu golongan atau masyarakat. Sedang etika adalah ilmu tentang apa yang baik dan apa yang buruk dan tentang hak dan kewajiban moral (akhlak).
Kedua, ada perasaan takut. Takut salah, takut gagal, takut dikeritk, takut malu, takut menanggung risiko, takut dibicarakan orang, takut mati, dan lain-lain. Kata Aristoteles, “Ketakutan adalah perasaan yang timbul karena ingin mengantisipasi kesalahan.”
Ketiga, berpaling pada kesuksesan masa lalu. Selalu bangga dengan keberhasilan masa lalu dan lupa bahwa dunia ini terus berubah, di mana keberhasilan masa lalu bukan keberhasilan masa kini.
Keempat, masa depan tidak atau belum jelas, suram. Orang melihat masa depan tidak jelas atau suram, karena tidak memiliki visi yang cukup untuk melihat masa depan.
Karena itu, setidaknya ada lima hal yang dapat memberi kekuatan bagi setiap orang atau setiap pemimpin organisasi atau pemimpin bangsa untuk mengambil keputusan, yakni: Pertama, waktu adalah komoditi berharga. Waktu adalah komoditi yang paling mahal di dunia, bahkan dibandingkan dengan uang sekali pun.
Kedua, kompetisi. Persaingan masa depan adalah ilmu melawan ilmu, bukan uang melawan uang. Dalam memenangkan kompetisi masa kini, kuncinya, “Haw to make our people learn better and faster than our competitor”.
Ketiga, pemanfaatan informasi dan teknologi komunikasi. Dalam dunia yang serba cepat, semua harus informasi dan teknologi komunikasi, yang berkembang dengan pesat. Information is power.
Keempat, kreativitas. Dengan berkembangnya informasi melalu berbagai media, diperlukan kempampuan dan keahlian mengompilasi, menganalisa informasi yang kita terima dan berpikir kreatif, bukan reaktif.
Kelima, belajar terus menerus. Dalam dunia yang cepat berubah, pendidikan adalah modal utama bagi seseorang agar dapat beradaptasi dengan perubahan. Bill Gates, dalam bukunya, “The Road Ahead”, sangat menekankan proses belajar terus-mererus.
Tidak Boleh Minus Etik
Empat prinsip dalam kepemimpinan, yakni: 1. Kita semua akan memimpin sepanjang waktu. 2. Kepemimpinan itu timbul dari dalam. 3. Kepemimpinan itu cara hidup kita. 4. Untuk menjadi pemimpin adalah proses pengembangan diri secara terus menerus. Karena merupakan proses pengembangan diri secara terus menerus maka tidak salah bila Rick Warrer berkata: “Begitu kita berhenti belajar, kita tidak lagi memimpin.”
Seorang pemimpin juga wajib memiliki pondasikan etik yang kuat dan santun. Sebab, tanpa etika kepemimpinan, maka pemimpin tidak akan pernah mampu menyentuh hati terdalam dari rakyat atau para pengikutnya. Karena itu kepemimpinan wajib dibangun ke arah pembentukan karater terpuji dan pondasi etik yang kuat.
Sebab, tanpa karanter terpuji dan etik kepemimpinan, maka pemimpin tidak akan pernah mampu menyentuh hati terdalam dari rakyat atau para pengikutnya. Hanya dengan etik yang kuat serta kesantun, seorang pemimpin bangsa dapat menyentuh dan menggerakkan hati rakyatnya.
Etik merupakan kumpulan asas atau nilai yang berkenaan dengan akhlak dan juga nilai mengenai benar dan salah yang dianut suatu golongan atau masyarakat. Sedang etika adalah ilmu tentang apa yang baik dan apa yang buruk dan tentang hak dan kewajiban moral (akhlak).
Lihat Juga :