Stop Membegal Lahan Pertanian

Sabtu, 07 Maret 2015 - 09:34 WIB
Stop Membegal Lahan...
Stop Membegal Lahan Pertanian
A A A
Rahmat Mustakim
Mahasiswa Jurusan Pendidikan Ekonomi, Pengurus Lembaga Kajian Mahasiswa (LKM). Universitas Negeri Jakarta

Desaku yang kucinta, pujaan hatiku... Tak mudah kulupakan, tak mudah bercerai. Selalu kurindukan, desaku yang permai .

Selepas menyimak penggalan lirik lagu semasa kecil tadi, imajinasi kita berhasil menangkap keadaan kampung halaman yang begitu asri dan damai.

Lagu Desaku yang Kucinta itu merepresentasikan identitas desa sebagai tempat hijau penuh ladang persawahan. Pemandangan sawah dengan ditumbuhi tanaman padi menyejukkan mata dan bersih dari polusi yang menggerogoti udara kota. Bagi negara kita yang agraris, peran sawah tidak hanya dinilai sebagai lahan untuk bercocok tanam, tetapi lebih dari itu bahwa sektor pertanian menjadi salah satu pedal untuk memutar laju roda perekonomian kita meski tidak seberapa dibandingkan genjotan daripada industrialisasi di masa kini.

Arus modernisme yang justru menjadi penyebab mentalitas manusia bergeser dari agraris ke industri. Kini berhektare-hektare lahan pertanian banyak yang disulap fungsinya menjadi lahan nonpertanian sehingga tidak lagi dikatakan produktif. Kementrian Pertanian yang dihimpun lewat situs bumn.go.id mencatat bahwa derasnya laju alih fungsi lahan pertanian di berbagai daerah membuat sekitar 100.000 hektare lahan pertanian per tahunnya beralih fungsi menjadi lahan komersial nonpertanian.

Sementara itu, kemampuan pemerintah mencetak sawah baru hanya 40.000 hektare per tahun. Jika tidak ada upaya untuk menghentikan laju alih fungsi ini, ketahanan pangan di negeri kita dikhawatirkan akan terancam. Dengan limpahan tanah yang subur, modal gemah ripah loh jinawi seharusnya bisa membuat negeri ini berkedaulatan pangan. Nyatanya kebijakan pemerintah yang mengimpor komoditas seperti beras, kedelai, dan gula masih dilakukan guna mempertahankan stabilitas ketersediaan pangan.

Kalau sebuah negeri yang secara alamiah kaya, tetapi pola makannya masih bergantung pada impor, maka seperti dikatakan Hermen Malik (2014) bahwa negeri itu tidak layak disebut sebagai negeri yang mandiri. Maka dari itu penjagaan terhadap lahan pertanian perlu digalakkan agar harapan ketercapaian swasembada pangan yang ditargetkan Presiden Joko Widodo selama tiga tahun ke depan bisa terwujud seperti mengulang kejadian tahun 1984.

Kita harus memerdekakan lahan pertanian. Kita harus melepaskan diri dari jeratan impor pangan. Demi kelangsungan pangan anak cucu kita nanti, jangan sampai berkah alam itu terus dibegal, lagi-lagi demi alasan alih fungsi lahan kepada sektor industri dan perumahan.
(ars)
Berita Terkait
Tiga Poros di Pilpres...
Tiga Poros di Pilpres 2024 Dinilai Rasional dan Memungkinkan
Mahasiswa Doktoral Unhan...
Mahasiswa Doktoral Unhan Sebut Pentingnya Pengembangan Pertahanan Maritim
Lokalisasi Terbesar...
Lokalisasi Terbesar di Pantura Timur Dirobohkan, Situasi Sempat Memanas
Capres Poros Ketiga...
Capres Poros Ketiga Pilpres 2024 Belum Terlihat
Soal Poros Partai Islam,...
Soal Poros Partai Islam, Inisiator Partai Ummat Bilang Begini
Poros Islam Ingin Usung...
Poros Islam Ingin Usung Capres-Cawapres di Pilpres 2024? PKB Jadi Penentu
Berita Terkini
TNI di Kejaksaan: Antara...
TNI di Kejaksaan: Antara Persepsi Backing, Kepastian Hukum, dan Konsolidasi Negara
Febrie Adriansyah Mundur...
Febrie Adriansyah Mundur dari Jampidsus, Pengamat: Proses Hukum Harus Tetap Berjalan
Dekopin Tegaskan Komitmen...
Dekopin Tegaskan Komitmen Modernisasi Koperasi melalui Estafet Generasi Muda
Sugiono Bertemu Menlu...
Sugiono Bertemu Menlu Iran saat Hadiri Pemakaman Ali Khamenei
Adara Ajak Masyarakat...
Adara Ajak Masyarakat Berkarya untuk Al-Aqsa dan Palestina melalui Art & Craft for Palestine
Pesan Prabowo untuk...
Pesan Prabowo untuk Aparat Negara: Benahi Diri, Rakyat Tidak Ingin Ada Korupsi
Infografis
STOP! Kebiasaan Merokok...
STOP! Kebiasaan Merokok Bisa Memicu Kanker Usus Besar
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved