Lakukan pembiaran, Timwas minta KPK seret Sri Mulyani
Sabtu, 03 Mei 2014 - 05:38 WIB
Lakukan pembiaran, Timwas minta KPK seret Sri Mulyani
A
A
A
Sindonews.com - Dalam kesaksiannya di Pengadilan Tipikor, mantan Menteri Keuangan yang juga mantan Ketua Komite Stabilitas Sistem Keuangan (KSSK) Sri Mulyani mengaku sempat kesal dan mengancam akan mencabut terkait pemberian Penyertaan Modal Sementara (PMS) ke Bank Century.
Lantaran, Bank Indonesia (BI) tidak memberikan data yang valid mengenai kondisi kesehatan Bank Century.
Anggota Tim Pengawas Century DPR dari Fraksi Golkar Bambang Soesatyo mengatakan, Managing Director Bank Dunia itu bisa mencari pembelaan apa saja terkait pengambilan keputusan bailout Bank Century. Namun, ia mempertanyakan mengapa Sri Mulyani tidak mengambil tindakan pencegahan.
"Dia boleh marah, bahwa data BI tidak akurat. Bahwa dia tertipu. Namun, apakah setelah dia tahu dan marah karena dari Rp632 miliar yang ia setujui dalam waktu dua hari tiba-tiba membengkak menjadi Rp2,7 triliun, lalu dia mengambil tindakan untuk menghentikan pembobolan uang negara itu?" ujar anggota Komisi III ini melalui pesan singkat kepada Sindonews, Jumat 2 Mei 2014 malam.
Menurutnya, fakta membuktikan bahwa Sri Mulyani sama sekali tidak mengambil tindakan pencegahan apapun. Bahkan, Sri Mulyani dituding melakukan pembiaran hingga Bank Century menerima kucuran dana dari LPS Rp6,7 triliun bulan Juli usai Pilpres 2009.
"Untuk itu, KPK harus melakukan pemeriksaan kembali terhadap Sri Mulyani terkait pembiaran hingga negara dirugikan Rp6,7 triliun," tegasnya.
Seperti diberitakan sebelumnya, Sri Mulyani merasa kesal dan mengancam akan mencabut terkait pemberian Penyertaan Modal Sementara (PMS) ke Bank Century. "Dalam posisi kesal, saya mungkin sampaikan seluruh keputusan harus di-review (ditinjau) kembali," kata Sri Mulyani saat bersaksi di Pengadilan Tipikor Jakarta, Jumat 2 April 2014.
Dia mengaku kesal lantaran Bank Indonesia (BI) tidak memberikan data yang valid mengenai kondisi kesehatan Bank Century. Bahkan, mantan Sri Mulyani mengambil keputusan Bank Century sebagai bank gagal dalam keadaan terdesak.
"Saya didesak oleh situasi, betul. Iya harus memutuskan sebelum jam delapan, meski lelah, saya rasa masih bisa membikin judgement yang baik. KSSK memutuskan sebelum jam empat pagi," ucapnya.
Menurutnya, keputusan itu sudah dipertimbangkan secara matang. "Sebagai pengambil keputusan berdasarkan pikiran, perasaan, dan mungkin insting," pungkasnya.
Lantaran, Bank Indonesia (BI) tidak memberikan data yang valid mengenai kondisi kesehatan Bank Century.
Anggota Tim Pengawas Century DPR dari Fraksi Golkar Bambang Soesatyo mengatakan, Managing Director Bank Dunia itu bisa mencari pembelaan apa saja terkait pengambilan keputusan bailout Bank Century. Namun, ia mempertanyakan mengapa Sri Mulyani tidak mengambil tindakan pencegahan.
"Dia boleh marah, bahwa data BI tidak akurat. Bahwa dia tertipu. Namun, apakah setelah dia tahu dan marah karena dari Rp632 miliar yang ia setujui dalam waktu dua hari tiba-tiba membengkak menjadi Rp2,7 triliun, lalu dia mengambil tindakan untuk menghentikan pembobolan uang negara itu?" ujar anggota Komisi III ini melalui pesan singkat kepada Sindonews, Jumat 2 Mei 2014 malam.
Menurutnya, fakta membuktikan bahwa Sri Mulyani sama sekali tidak mengambil tindakan pencegahan apapun. Bahkan, Sri Mulyani dituding melakukan pembiaran hingga Bank Century menerima kucuran dana dari LPS Rp6,7 triliun bulan Juli usai Pilpres 2009.
"Untuk itu, KPK harus melakukan pemeriksaan kembali terhadap Sri Mulyani terkait pembiaran hingga negara dirugikan Rp6,7 triliun," tegasnya.
Seperti diberitakan sebelumnya, Sri Mulyani merasa kesal dan mengancam akan mencabut terkait pemberian Penyertaan Modal Sementara (PMS) ke Bank Century. "Dalam posisi kesal, saya mungkin sampaikan seluruh keputusan harus di-review (ditinjau) kembali," kata Sri Mulyani saat bersaksi di Pengadilan Tipikor Jakarta, Jumat 2 April 2014.
Dia mengaku kesal lantaran Bank Indonesia (BI) tidak memberikan data yang valid mengenai kondisi kesehatan Bank Century. Bahkan, mantan Sri Mulyani mengambil keputusan Bank Century sebagai bank gagal dalam keadaan terdesak.
"Saya didesak oleh situasi, betul. Iya harus memutuskan sebelum jam delapan, meski lelah, saya rasa masih bisa membikin judgement yang baik. KSSK memutuskan sebelum jam empat pagi," ucapnya.
Menurutnya, keputusan itu sudah dipertimbangkan secara matang. "Sebagai pengambil keputusan berdasarkan pikiran, perasaan, dan mungkin insting," pungkasnya.
(kri)