Money politics ibarat judi

Senin, 07 April 2014 - 16:35 WIB
Money politics ibarat...
Money politics ibarat judi
A A A
Sindonews.com - Praktek money politics seolah merupakan sesuatu yang lumrah dalam setiap pelaksanaan pemilu di Indonesia. Ada kalangan yang setuju dengan praktek money politics, tapi tidak sedikit yang menolak praktik-praktik itu.

"Money politics seperti lempar dadu, itu judi, hanya satu kepastian uang habis, menang atau kalah itu belum tentu," kata Anang Zubaidi, Ketua Tim Peneliti Pusat Studi Hukum Konsitusi Fak UII Yogyakarta usai mempresentasikan hasil survey 'Persepsi Pemilih Pemula DIY terhadap Praktik Money Politics, Senin (7/4/2014).

Anang menegaskan calon wakil rakyat yang melakukan praktik politik uang kepada rakyat merupakan salah sasaran. Sebab, masyarakat yang memiliki hak menentukan pilihannya, khusus bagi pemilih pemula usia 17-18 tahun merupakan pemilih idealis.

Sangat dimungkinkan pemilih idealis itu justru tidak mengunakan hak pilihnya. Namun, bisa juga pemilih idealis ini memerima uang atau barang dari calon tertentu, tapi menjatuhkan pilihan pada calon lain.

"Ya itu tadi saya katakan ibarat judi, sudah mengeluarkan banyak biaya tapi tidak terpilih. Saya melihat sistem atau perundang-undangan pemilu kita masih ada celah untuk memungkin peserta melakukan praktik money politik," jelasnya.

Yang perlu dibenahi, lanjutnya, mentalitas dan membangun kesadaran tentang ketatanegaraan yang baik. "Pendidikan kewarganegaraan itu penting, orang bisa paham mengenai sistem demokrasi yang benar," jelasnya.

Anang menegaskan masih ada praktik money politics karena banyak hal, di antara masyarakat sendiri butuh, penegak hukum sulit mengendus, dan tidak melanggar HAM.

"Slogan menolak money politic itu hampir semua parpol, tapi fakta di lapangan tidak demikian. Ini kenapa ? Karena ada tuntutan bagi peserta untuk memperoleh suara, sementara pemilih mulai jual mahal, kalau tidak diberi 'sesuatu' tidak memilih," jelasnya.

Sebaliknya, ada banyak pihak yang konsisten untuk tidak melakukan money politic. Konsekuensinya apakah akan terpilih sebagai pemimpin? Itu bukan jaminan karena persanginan sangat ketat.

"Tapi begini, adanya praktik money politic itu jelas merusak kondisi politik Indonesia yang meskinya bersih, kemudian menimbulkan ketidakadilan terutama bagi peserta minim uang, dan yang pasti pilihan itu merusak moral dalam perpolitik," jelasnya.
(lns)
Berita Terkait
Sistem Proporsional...
Sistem Proporsional Terbuka Dinilai Hadirkan Praktik Pasar Bebas
Bakal Caleg Partai Hanura...
Bakal Caleg Partai Hanura Diminta Tidak Boleh Menyerah
Eep Saefullah Fatah:...
Eep Saefullah Fatah: Sekolah Politik Bina Insan Mulia Dongkrak Suara PKB di 2024
Relawan Sobat Bang Hendra...
Relawan Sobat Bang Hendra Perkuat Pondasi Tim se-Jakpus dan Jaksel
Hari Pertama Pendaftaran,...
Hari Pertama Pendaftaran, Belum Ada Ajukan Gugatan Sengketa Pileg 2024 ke MK
MK Gelar Sidang Sengketa...
MK Gelar Sidang Sengketa Pileg 2024 Pekan Depan, Dibagi dalam 3 Panel
Berita Terkini
Nanik S Deyang Absen...
Nanik S Deyang Absen Hadiri Rapat Laporan Keuangan BGN di Komisi IX DPR
Kadar Emas Batangan...
Kadar Emas Batangan yang Ditemukan di Rumah Febrie Adriansyah 23 Karat
Koalisi Advokat Serahkan...
Koalisi Advokat Serahkan Draft RUU Advokat kepada Pemerintah
Don Ritto Dilimpahkan...
Don Ritto Dilimpahkan ke Kejagung, Polisi Serahkan Barang Bukti Kasus Korupsi dan TPPU
Brigjen Pol Irhamni:...
Brigjen Pol Irhamni: Kolaborasi Aparat Penegak Hukum Jadi Kunci Jerat Mafia Lingkungan
Laporan Gratifikasi...
Laporan Gratifikasi Menhut Raja Juli Ditolak, KPK Ungkap Alasannya
Infografis
100 Orang Dirawat di...
100 Orang Dirawat di RSCM Akibat Kecanduan Judi Online
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved