KPU klaim jumlah pemilih di Hong Kong meningkat
Selasa, 01 April 2014 - 17:21 WIB
KPU klaim jumlah pemilih di Hong Kong meningkat
A
A
A
Sindonews.com - Komisi Pemilihan Umum (KPU) mengaku cukup puas atas pencapaian pemungutan suara di luar negeri termasuk negara Hong Kong.
Sebab, dari segi kuantitas, jumlah pemilih di Hong Kong cenderung meningkat dibanding Pemilihan Umum (Pemilu) 2009.
Komisioner KPU Arief Budiman mengatakan, peningkatan tersebut karena KPU sekarang memiliki terobosan dengan menjadwalkan pemilu luar negeri lebih awal dari pada pemilu di Indonesia.
"Secara kuantitas, di Hong Kong terjadi peningkatan jumlah pemilih karena Pemilu 2009 tidak ada terobosan bahwa pemilu lebih awal," ungkap Arief, di Hotel Borobodur, Jakarta, Selasa (1/4/2014).
Dia menyatakan, pada Pemilu 2009 lalu, angka partisipasi pemilih hanya mencapai ratusan orang saja. Sedangkan, di pemilu kali ini jumlahnya mencapai ribuan pemilih.
Hal itu, menurut dia, yang harusnya menjadi ukuran keberhasilan penyelenggaraan pemilu. Dia mengakui, memang partisipasi pemilih masih jauh dari yang ditargetkan bersama, yakni maksimal bisa mendekati jumlah Daftar Pemilih Tetap (DPT) di Hong Kong yang mencapai 117.065 suara.
"Jumlah pemilih pada 2009 sebanyak 790 (pemilih) sekian, partisipasinya hari ini sudah 6.000 lebih. Dari sisi kuantitas lebih besar, tapi dari sisi persentase mungkin angkanya masih kecil. Tapi upaya kami cukup berhasil," ujarnya.
Seperti diketahui, Migran Care mencatat sebanyak 117 ribu suara DPT Hong Kong, penyelenggara pemilu di negara tersebut hanya mampu menghimpun sebanyak 7.000 pemilih yang menggunakan hak pilihnya saat pemungutan suara berlangsung pada 30 Maret 2014 lalu.
Sebab, dari segi kuantitas, jumlah pemilih di Hong Kong cenderung meningkat dibanding Pemilihan Umum (Pemilu) 2009.
Komisioner KPU Arief Budiman mengatakan, peningkatan tersebut karena KPU sekarang memiliki terobosan dengan menjadwalkan pemilu luar negeri lebih awal dari pada pemilu di Indonesia.
"Secara kuantitas, di Hong Kong terjadi peningkatan jumlah pemilih karena Pemilu 2009 tidak ada terobosan bahwa pemilu lebih awal," ungkap Arief, di Hotel Borobodur, Jakarta, Selasa (1/4/2014).
Dia menyatakan, pada Pemilu 2009 lalu, angka partisipasi pemilih hanya mencapai ratusan orang saja. Sedangkan, di pemilu kali ini jumlahnya mencapai ribuan pemilih.
Hal itu, menurut dia, yang harusnya menjadi ukuran keberhasilan penyelenggaraan pemilu. Dia mengakui, memang partisipasi pemilih masih jauh dari yang ditargetkan bersama, yakni maksimal bisa mendekati jumlah Daftar Pemilih Tetap (DPT) di Hong Kong yang mencapai 117.065 suara.
"Jumlah pemilih pada 2009 sebanyak 790 (pemilih) sekian, partisipasinya hari ini sudah 6.000 lebih. Dari sisi kuantitas lebih besar, tapi dari sisi persentase mungkin angkanya masih kecil. Tapi upaya kami cukup berhasil," ujarnya.
Seperti diketahui, Migran Care mencatat sebanyak 117 ribu suara DPT Hong Kong, penyelenggara pemilu di negara tersebut hanya mampu menghimpun sebanyak 7.000 pemilih yang menggunakan hak pilihnya saat pemungutan suara berlangsung pada 30 Maret 2014 lalu.
(maf)