Kita pantas marah, tapi...
Kamis, 13 Desember 2012 - 09:04 WIB
Kita pantas marah, tapi...
A
A
A
Rasa nasionalisme kita tergugah ketika Presiden ketiga Indonesia Bacharuddin Jusuf Habibie dilecehkan atau diserang oleh salah satu petinggi negara Malaysia.
Kita pantas marah karena penyerangan terhadap mantan kepala negara kita juga merupakan serangan bagi bangsa ini. Apalagi tuduhan-tuduhan yang disodorkan tidak didasari argumen-argumen yang mendasar dan jelas.
Kita pantas marah kepada mantan Menteri Penerangan Malaysia Tan Sri Zainuddin Maidin yang menyebut BJ Habibie sebagai The Dog of Imperialism. Pernyataan yang dimuat oleh harian Utusan Malaysia pada Senin (10/12) tersebut memang menyinggung harga diri bangsa ini.
Pernyataan itu seolah menganggap Malaysia sebagai superior dari kita dan menganggap bahwa negeri tersebut tahan terhadap gempuran intervensi asing atau negara-negara Barat. Pernyataan tersebut memang jauh dari adab bagi sebuah manusia atau bahkan seorang pejabat.
Atau mungkin karena Malaysia yang tidak mempunyai budaya asli (karena penduduknya lebih banyak pendatang daripada penduduk asli) maka tatanan mereka jauh dari sebuah adab yang luhur.
Memang, di era demokrasi ini semua orang bebas berbicara atau berpendapat untuk mengomentari orang atau pihak lain. Namun, dalam tataran demokrasi pun, seseorang juga harus mempunyai etika dan berargumen dengan dasar sesuatu yang benar, bukan yang salah.
Pernyataan Zainuddin yang tidak melihat atau mengalami langsung kondisi negara kita saat itu membuktikan bahwa pendapat dia hanya dari yang dia dengar dan baca; bukan dari yang dia lihat dan rasakan.
Apalagi, sebagai negara yang kalah besar dari Indonesia, pejabat Malaysia satu ini ingin sekali merendahkan bangsa ini dengan berbagai cara. Ya, Malaysia bisa dikatakan negara yang tidak mempunyai budaya asli sendiri. Bahasa dan kesenian mereka pun lebih banyak mengadopsi, atau bahkan mencuri, dari Indonesia.
Bahkan dalam penggunaan bahasa, mereka lebih bangga menggunakan bahasa milik negara yang pernah menjajah mereka, yaitu Inggris.
Wajar jika pada akhirnya untuk mengangkat apa yang mereka miliki sekarang adalah dengan cara menjatuhkan negara lain, dan salah satunya dengan merendahkan kita lewat jalur politik. Jika Zainuddin menganggap bahwa pernyataan dia sebagai bagian demokrasi, apakah Malaysia sudah melaksanakan demokrasi dengan baik?
Bagaimana suara-suara vokal dari kelompok-kelompok oposisi harus dibungkam dengan cara-cara yang jauh dari demokrasi? Lalu, bagaimana pemerintah mereka juga membungkam suara pers yang merupakan pilar keempat demokrasi?
Dalam tataran demokrasi, Malaysia sangat jauh dari Indonesia. Pemerintahan mereka hanya dikuasai dan dikendalikan oleh satu kekuatan politik. Jika ada kekuatan politik lain yang melawan, dipastikan akan dibungkam dengan cara-cara yang jauh dari demokrasi. Akankah kita juga harus membalas dengan cara-cara seperti Zainuddin, tentu tidak.
Indonesia adalah negara dengan peradaban yang tinggi dan tentu memiliki adab yang luhur. Artinya, tidak perlu dengan melecehkan balik pejabat atau negara tersebut.
Salut dengan BJ Habibie yang tidak terpancing emosi. Pernyataan Habibie yang menganggap bahwa justru Zainuddin banyak memperhatikan dirinya dan kita tidak tahu apa-apa tentang dirinya, mencirikan bahwa bangsa ini ternyata lebih agung.
Kita pantas marah, kita pantas emosi, tapi kita tetap harus beradab dalam menanggapi “serangan” dari negara tetangga.
Kita tetap harus menunjukkan bahwa Indonesia adalah negara dengan kebudayaan dan peradaban yang lebih tinggi, meski negara lain melakukan pelecehan. Kita juga yakin, segenap elemen bangsa ini mampu menunjukkan keagungan budaya dan peradaban bangsa ini.
Kita pantas marah karena penyerangan terhadap mantan kepala negara kita juga merupakan serangan bagi bangsa ini. Apalagi tuduhan-tuduhan yang disodorkan tidak didasari argumen-argumen yang mendasar dan jelas.
Kita pantas marah kepada mantan Menteri Penerangan Malaysia Tan Sri Zainuddin Maidin yang menyebut BJ Habibie sebagai The Dog of Imperialism. Pernyataan yang dimuat oleh harian Utusan Malaysia pada Senin (10/12) tersebut memang menyinggung harga diri bangsa ini.
Pernyataan itu seolah menganggap Malaysia sebagai superior dari kita dan menganggap bahwa negeri tersebut tahan terhadap gempuran intervensi asing atau negara-negara Barat. Pernyataan tersebut memang jauh dari adab bagi sebuah manusia atau bahkan seorang pejabat.
Atau mungkin karena Malaysia yang tidak mempunyai budaya asli (karena penduduknya lebih banyak pendatang daripada penduduk asli) maka tatanan mereka jauh dari sebuah adab yang luhur.
Memang, di era demokrasi ini semua orang bebas berbicara atau berpendapat untuk mengomentari orang atau pihak lain. Namun, dalam tataran demokrasi pun, seseorang juga harus mempunyai etika dan berargumen dengan dasar sesuatu yang benar, bukan yang salah.
Pernyataan Zainuddin yang tidak melihat atau mengalami langsung kondisi negara kita saat itu membuktikan bahwa pendapat dia hanya dari yang dia dengar dan baca; bukan dari yang dia lihat dan rasakan.
Apalagi, sebagai negara yang kalah besar dari Indonesia, pejabat Malaysia satu ini ingin sekali merendahkan bangsa ini dengan berbagai cara. Ya, Malaysia bisa dikatakan negara yang tidak mempunyai budaya asli sendiri. Bahasa dan kesenian mereka pun lebih banyak mengadopsi, atau bahkan mencuri, dari Indonesia.
Bahkan dalam penggunaan bahasa, mereka lebih bangga menggunakan bahasa milik negara yang pernah menjajah mereka, yaitu Inggris.
Wajar jika pada akhirnya untuk mengangkat apa yang mereka miliki sekarang adalah dengan cara menjatuhkan negara lain, dan salah satunya dengan merendahkan kita lewat jalur politik. Jika Zainuddin menganggap bahwa pernyataan dia sebagai bagian demokrasi, apakah Malaysia sudah melaksanakan demokrasi dengan baik?
Bagaimana suara-suara vokal dari kelompok-kelompok oposisi harus dibungkam dengan cara-cara yang jauh dari demokrasi? Lalu, bagaimana pemerintah mereka juga membungkam suara pers yang merupakan pilar keempat demokrasi?
Dalam tataran demokrasi, Malaysia sangat jauh dari Indonesia. Pemerintahan mereka hanya dikuasai dan dikendalikan oleh satu kekuatan politik. Jika ada kekuatan politik lain yang melawan, dipastikan akan dibungkam dengan cara-cara yang jauh dari demokrasi. Akankah kita juga harus membalas dengan cara-cara seperti Zainuddin, tentu tidak.
Indonesia adalah negara dengan peradaban yang tinggi dan tentu memiliki adab yang luhur. Artinya, tidak perlu dengan melecehkan balik pejabat atau negara tersebut.
Salut dengan BJ Habibie yang tidak terpancing emosi. Pernyataan Habibie yang menganggap bahwa justru Zainuddin banyak memperhatikan dirinya dan kita tidak tahu apa-apa tentang dirinya, mencirikan bahwa bangsa ini ternyata lebih agung.
Kita pantas marah, kita pantas emosi, tapi kita tetap harus beradab dalam menanggapi “serangan” dari negara tetangga.
Kita tetap harus menunjukkan bahwa Indonesia adalah negara dengan kebudayaan dan peradaban yang lebih tinggi, meski negara lain melakukan pelecehan. Kita juga yakin, segenap elemen bangsa ini mampu menunjukkan keagungan budaya dan peradaban bangsa ini.
(lns)