Timnas, tarkam, dan Diego
Jum'at, 07 Desember 2012 - 15:09 WIB
Timnas, tarkam, dan Diego
A
A
A
SEPAK bola Indonesia berada di titik nadir dalam sejarahnya. Eksponen yang bertanggung jawab mengelola olahraga paling digemari masyarakat Indonesia ini bukan hanya gagal menyuguhkan prestasi, tapi juga menunjukkan tingkah polah yang berakibat tertamparnya muka Indonesia di mata dunia.
Ini terkait kasus yang menimpa pemain sepak bola asal Paraguay yang bermain di Persis Solo, Diego Mendieta, yang meninggal dalam penantian memperjuangkan gaji sebesar Rp131 juta yang tidak dibayar klub yang bernaung di bawah PT Liga Indonesia tersebut. Hal yang lebih memiriskan, Diego berpulang dalam kondisi memendam kerinduan yang mendalam pada keluarganya karena tidak mampu membeli tiket untuk pulang kampung ke negaranya.
Nasib tragis yang menimpa mantan pemain Persitara itu bukan hanya mendapat sorotan media internasional. Asosiasi Pemain Sepak Bola Profesional Dunia (FIFPro) pun dibuat berang dan menilai kasus tersebut sangat memalukan. Lembaga ini pun melaporkannya ke Federasi Sepak Bola Dunia (FIFA). Kisah Diego hanyalah salah satu noda yang memercik ke wajah bangsa Indonesia secara keseluruhan.
Semuanya terjadi secara beruntun dalam kurun waktu tahun 2012 ini. Walaupun perjuangan Nilmaizar dan anak asuhnya dalam AFF Suzuki Cup 2012 patut diapresiasi, harus diakui pula tersingkirnya timnas di babak penyisihan menambah panjang daftar kegagalan merengkuh prestasi tertinggi pada ajang paling bergengsi di Asia Tenggara itu.
Sebelumnya, sekelompok pemain yang mengatasnamakan timnas Indonesia harus bermain dengan Queensland Christian Soccer Association (QCSA). Walaupun sukses memenangi pertandingan dengan skor 8:0, timnas yang beranggotakan Firman Utina dan pemain terhebat di Tanah Air hanya dilayani sekelompok jemaat gereja yang hobi bola. Boro-boro dinyatakan sebagai tim nonliga, amatir pun tidak. Mengapa semua itu terjadi? Jawabannya, semua persoalan berpangkal pada perpecahan pemangku sepak bola Tanah Air, antara kubu PSSI pimpinan Johar Arifin dan KPSI pimpinan La Nyalla Mattalitti.
Syahwat untuk memenangkan kepentingan politik, ekonomi, dan prestise kelompok maupun pribadi membuat mereka kalap dan berupaya saling menghancurkan, kemudian memicu eskalasi persoalan yang meluas dan meruncing. Kegagalan timnas yang dipegang Johar dkk mempersembahkan prestasi untuk Indonesia dan derajat klub dan pemain di bawah perlindungan La Nyala yang tidak lebih sebagai klub dan pemain tarkam (pertandingan antarkampung) karena hanya berlari ke sana kemari menendang bola tanpa saluran formal yang jelas dan legal hanya awal dari kehancuran sepak bola Indonesia.
Kondisi tersebut tentu akan memicu kekecewaan masyarakat pencinta bola hingga mereka tidak bersemangat lagi turun ke lapangan. Di sisi lain, stakeholder yang berkontribusi menyokong dana dan sponsorship pun bukan tidak mungkin enggan kembali memberikan dukungan. Jika ini terjadi, klub maupun timnas sudah pasti akan kekurangan dana, dan akhirnya para pemain pun tidak mendapat perhatian, dengan contoh ekstrem dialami Diego.
Apabila Johar maupun La Nyala memahami kondisi ini, semestinya pertemuan yang digelar di Kantor Kemenpora bisa menjadi pintu masuk untuk menyelesaikan dualisme, termasuk melalui sejumlah solusi yang ditawarkan Kemenpora. Bila syahwat dan ego pribadi maupun kelompok tetap berkuasa, bukan tidak mungkin FIFA akan menjatuhkan sanksi untuk Indonesia. Jika ini yang terjadi, Johar maupun La Nyalla dkk sejatinya tidak sekadar menghancurkan dan menenggelamkan sepak bola Indonesia, tapi sebenar-benarnya mereka menampar dan mempermalukan Indonesia.
Ini terkait kasus yang menimpa pemain sepak bola asal Paraguay yang bermain di Persis Solo, Diego Mendieta, yang meninggal dalam penantian memperjuangkan gaji sebesar Rp131 juta yang tidak dibayar klub yang bernaung di bawah PT Liga Indonesia tersebut. Hal yang lebih memiriskan, Diego berpulang dalam kondisi memendam kerinduan yang mendalam pada keluarganya karena tidak mampu membeli tiket untuk pulang kampung ke negaranya.
Nasib tragis yang menimpa mantan pemain Persitara itu bukan hanya mendapat sorotan media internasional. Asosiasi Pemain Sepak Bola Profesional Dunia (FIFPro) pun dibuat berang dan menilai kasus tersebut sangat memalukan. Lembaga ini pun melaporkannya ke Federasi Sepak Bola Dunia (FIFA). Kisah Diego hanyalah salah satu noda yang memercik ke wajah bangsa Indonesia secara keseluruhan.
Semuanya terjadi secara beruntun dalam kurun waktu tahun 2012 ini. Walaupun perjuangan Nilmaizar dan anak asuhnya dalam AFF Suzuki Cup 2012 patut diapresiasi, harus diakui pula tersingkirnya timnas di babak penyisihan menambah panjang daftar kegagalan merengkuh prestasi tertinggi pada ajang paling bergengsi di Asia Tenggara itu.
Sebelumnya, sekelompok pemain yang mengatasnamakan timnas Indonesia harus bermain dengan Queensland Christian Soccer Association (QCSA). Walaupun sukses memenangi pertandingan dengan skor 8:0, timnas yang beranggotakan Firman Utina dan pemain terhebat di Tanah Air hanya dilayani sekelompok jemaat gereja yang hobi bola. Boro-boro dinyatakan sebagai tim nonliga, amatir pun tidak. Mengapa semua itu terjadi? Jawabannya, semua persoalan berpangkal pada perpecahan pemangku sepak bola Tanah Air, antara kubu PSSI pimpinan Johar Arifin dan KPSI pimpinan La Nyalla Mattalitti.
Syahwat untuk memenangkan kepentingan politik, ekonomi, dan prestise kelompok maupun pribadi membuat mereka kalap dan berupaya saling menghancurkan, kemudian memicu eskalasi persoalan yang meluas dan meruncing. Kegagalan timnas yang dipegang Johar dkk mempersembahkan prestasi untuk Indonesia dan derajat klub dan pemain di bawah perlindungan La Nyala yang tidak lebih sebagai klub dan pemain tarkam (pertandingan antarkampung) karena hanya berlari ke sana kemari menendang bola tanpa saluran formal yang jelas dan legal hanya awal dari kehancuran sepak bola Indonesia.
Kondisi tersebut tentu akan memicu kekecewaan masyarakat pencinta bola hingga mereka tidak bersemangat lagi turun ke lapangan. Di sisi lain, stakeholder yang berkontribusi menyokong dana dan sponsorship pun bukan tidak mungkin enggan kembali memberikan dukungan. Jika ini terjadi, klub maupun timnas sudah pasti akan kekurangan dana, dan akhirnya para pemain pun tidak mendapat perhatian, dengan contoh ekstrem dialami Diego.
Apabila Johar maupun La Nyala memahami kondisi ini, semestinya pertemuan yang digelar di Kantor Kemenpora bisa menjadi pintu masuk untuk menyelesaikan dualisme, termasuk melalui sejumlah solusi yang ditawarkan Kemenpora. Bila syahwat dan ego pribadi maupun kelompok tetap berkuasa, bukan tidak mungkin FIFA akan menjatuhkan sanksi untuk Indonesia. Jika ini yang terjadi, Johar maupun La Nyalla dkk sejatinya tidak sekadar menghancurkan dan menenggelamkan sepak bola Indonesia, tapi sebenar-benarnya mereka menampar dan mempermalukan Indonesia.
(hyk)