DPR tak menarik lagi
Rabu, 21 November 2012 - 04:40 WIB
DPR tak menarik lagi
A
A
A
Sindonews.com - Survei Lingkaran Survei Indonesia (LSI Network) yang menyebutkan bahwa banyak warga yang tak ingin menjadi anggota Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) memang menggelitik kita semua.
Tema survei ini memang baru.Selama ini lembaga survei lebih menyoroti popularitas tentang tokoh/ lembaga atau menanyakan pendapat masyarakat tentang suatu kasus. Dari 1.200 responden yang disurvei LSI, 56,43 persen menyatakan diri mereka atau anggota keluarga mereka tak ingin menjadi anggota DPR. Sebaliknya, hanya 37,62 persen yang menyatakan diri atau anggota keluarga mereka menjadi anggota DPR.
Jika LSI menyimpulkan bahwa banyak orang tua di Indonesia yang tidak berkeinginan keturunan mereka menjadi anggota DPR, masyarakat bisa menyimpulkan bahwa DPR tidak menarik lagi. Kalau mau melihat jauh lagi, akan muncul pertanyaan, apakah banyak rakyat Indonesia yang merasa terwakili oleh anggota DPR? Jika disimpulkan bahwa banyak rakyat yang tak merasa terwakili oleh anggota DPR tentu ini sebagai peringatan keras bagi partai politik. Partai politik harus ikut bertanggung jawab atas ini karena merekalah penyuplai utama sumber daya manusia (SDM) untuk menjadi anggota DPR.
Sistem rekrutmen atau regenerasi yang dilakukan parpol tidak berjalan dengan benar sehingga menghasilkan produk yang dianggap masyarakat tidak berkualitas. Dalam menyikapi kondisi ini semestinya parpol melakukan perombakan besar-besaran pada organisasinya. Harus ada sebuah gaya baru dari parpol, terutama dalam melakukan perekrutan dan kaderisasi. Jika tidak, jumlah yang menganggap menjadi anggota DPR tidak menarik lagi bertambah banyak.
Dan akhirnya masyarakat semakin antipati terhadap politik bahwa sistem negara ini. Pendapat miring masyarakat ini memang tak lepas dari citra tak sedap yang menempel pada anggota DPR. Sebagai lembaga tinggi negara, DPR memang masih mempunyai pekerjaan rumah yang banyak untuk merenovasi citra mereka yang kurang bagus. DPR harus berubah untuk melawan image miring disematkan kepada mereka. Sebagai lembaga tinggi negara, penyematan citra yang kurang sedang memang sangat mengurangi kredibilitas lembaga legislatif ini. DPR harus sadar, bahwa cara-cara lama dalam menjalankan tugas dan kewenangannya memang kurang pas.
DPR harus sadar,telah muncul benih bahwa masyarakat merasa tidak terwakili kepentingannya. Pembenahan yang utama dilakukan DPR dan partai politik sebenarnya pada sisi eksternal, tapi lebih ke internal. Pembenahan internal harus gencar dilakukan DPR dan partai agar menghasilkan, menemukan, atau melahirkan produk-produk yang memang tepat duduk sebagai wakil rakyat. DPR maupun parpol tak perlu menyalahkan diri atau justru menyalahkan pihak luar.
Akan lebih baik melakukan koreksi ke dalam untuk membenahi apa yang kurang tepat. Sudah ada upaya dari beberapa anggota DPR maupun kader parpol yang ingin melakukan pembenahan ini. Kita semua yakin, bahwa DPR dan parpol sangat mengetahui apa yang harus dibenahi di internal mereka karena DPR dan parpol dihuni oleh sosok-sosok yang pintar.Survei LSI di atas harus menjadi cermin bagi DPR dan parpol untuk melakukan pembenahan. Dengan pembenahan kita meyakini, DPR yang tidak menarik akan kembali menjadi lembaga yang menarik.
Dan masyarakat akan menunggu apakah akan ada perubahan dalam tubuh DPR maupun parpol. Pembenahan yang positif akan semakin menggairahkan masyarakat untuk berpartisipasi pada pemilu 2014 nanti. Jika tidak, jangan harap masyarakat mempunyai harapan pada pemilu 2014 nanti.
Tema survei ini memang baru.Selama ini lembaga survei lebih menyoroti popularitas tentang tokoh/ lembaga atau menanyakan pendapat masyarakat tentang suatu kasus. Dari 1.200 responden yang disurvei LSI, 56,43 persen menyatakan diri mereka atau anggota keluarga mereka tak ingin menjadi anggota DPR. Sebaliknya, hanya 37,62 persen yang menyatakan diri atau anggota keluarga mereka menjadi anggota DPR.
Jika LSI menyimpulkan bahwa banyak orang tua di Indonesia yang tidak berkeinginan keturunan mereka menjadi anggota DPR, masyarakat bisa menyimpulkan bahwa DPR tidak menarik lagi. Kalau mau melihat jauh lagi, akan muncul pertanyaan, apakah banyak rakyat Indonesia yang merasa terwakili oleh anggota DPR? Jika disimpulkan bahwa banyak rakyat yang tak merasa terwakili oleh anggota DPR tentu ini sebagai peringatan keras bagi partai politik. Partai politik harus ikut bertanggung jawab atas ini karena merekalah penyuplai utama sumber daya manusia (SDM) untuk menjadi anggota DPR.
Sistem rekrutmen atau regenerasi yang dilakukan parpol tidak berjalan dengan benar sehingga menghasilkan produk yang dianggap masyarakat tidak berkualitas. Dalam menyikapi kondisi ini semestinya parpol melakukan perombakan besar-besaran pada organisasinya. Harus ada sebuah gaya baru dari parpol, terutama dalam melakukan perekrutan dan kaderisasi. Jika tidak, jumlah yang menganggap menjadi anggota DPR tidak menarik lagi bertambah banyak.
Dan akhirnya masyarakat semakin antipati terhadap politik bahwa sistem negara ini. Pendapat miring masyarakat ini memang tak lepas dari citra tak sedap yang menempel pada anggota DPR. Sebagai lembaga tinggi negara, DPR memang masih mempunyai pekerjaan rumah yang banyak untuk merenovasi citra mereka yang kurang bagus. DPR harus berubah untuk melawan image miring disematkan kepada mereka. Sebagai lembaga tinggi negara, penyematan citra yang kurang sedang memang sangat mengurangi kredibilitas lembaga legislatif ini. DPR harus sadar, bahwa cara-cara lama dalam menjalankan tugas dan kewenangannya memang kurang pas.
DPR harus sadar,telah muncul benih bahwa masyarakat merasa tidak terwakili kepentingannya. Pembenahan yang utama dilakukan DPR dan partai politik sebenarnya pada sisi eksternal, tapi lebih ke internal. Pembenahan internal harus gencar dilakukan DPR dan partai agar menghasilkan, menemukan, atau melahirkan produk-produk yang memang tepat duduk sebagai wakil rakyat. DPR maupun parpol tak perlu menyalahkan diri atau justru menyalahkan pihak luar.
Akan lebih baik melakukan koreksi ke dalam untuk membenahi apa yang kurang tepat. Sudah ada upaya dari beberapa anggota DPR maupun kader parpol yang ingin melakukan pembenahan ini. Kita semua yakin, bahwa DPR dan parpol sangat mengetahui apa yang harus dibenahi di internal mereka karena DPR dan parpol dihuni oleh sosok-sosok yang pintar.Survei LSI di atas harus menjadi cermin bagi DPR dan parpol untuk melakukan pembenahan. Dengan pembenahan kita meyakini, DPR yang tidak menarik akan kembali menjadi lembaga yang menarik.
Dan masyarakat akan menunggu apakah akan ada perubahan dalam tubuh DPR maupun parpol. Pembenahan yang positif akan semakin menggairahkan masyarakat untuk berpartisipasi pada pemilu 2014 nanti. Jika tidak, jangan harap masyarakat mempunyai harapan pada pemilu 2014 nanti.
(azh)