Demokrasi ala AS
Jum'at, 09 November 2012 - 10:53 WIB
Demokrasi ala AS
A
A
A
Barack Obama kembali memimpin Amerika Serikat (AS) setelah memenangkan persaingan ketat melawan kandidat Partai Republik, Mitt Romney. Terpilihnya Obama menjadi catatan tersendiri karena dia menjadi presiden yang terpilih lagi dalam kurun waktu 70 tahun ketika angka pengangguran di Negeri Pam Sam itu sangat tinggi yakni mencapai 7,9%.
Apa manfaat dan pelajaran yang bisa diambil Indonesia? Tentu saja terpeliharanya kedekatan negeri ini dengan negara adi daya itu sebagai dampak hubungan emosional Obama karena berayahtirikan orang Indonesia dan pernah bersekolah di Jakarta. Emotional-historical effect ini bukan sekadar isapan jempol.
Beberapa fakta bisa menjadi tolok ukur ada peningkatan simbiosis mutualisme kedua negara yang terbangun selama kepemimpinan Obama yakni hubungan budaya dan pendidikan yang semakin meningkat, kerja sama militer yang secara konkret terwujud dalam hibah pesawat F-16, dan bidang-bidang lainnya. Hubungan yang terbangun dalam bingkai comprehensive partnershipini tentu akan semakin meningkat karena Obama kembali memimpin untuk satu periode lagi ke depan.
Selain manfaat pragmatis, proses pemilu juga bisa dijadikan pelajaran Indonesia bagaimana membangun prosedur dan kultur demokrasi yang baik. Walaupun, harus diakui, demokrasi kedua negara tidak bisa dibandingkan satu sama lain. Demokrasi di AS sudah terbangun ratusan tahun dengan segala dinamikanya sehingga menjadi begitu matang, sedangkan Indonesia baru memulai pasca-Reformasi 1998.
Dari sisi teknis prosedural, misalnya, Komisi Pemilihan Umum (KPU) bisa belajar bagaimana hasil pemilihan presiden dapat diketahui pada hari yang sama, tidak ada persoalan daftar pemilih tetap (DPT) dan laporan pelanggaran sistematis akibat profesionalitas penyelenggara pemilu, hingga kemudian berujung ke mahkamah konstitusi. Dari sisi kultur,di level grass rootpemilu AS terasa begitu mulus.
Tidak ada noda akibat bentrokan antarsimpatisan selama kampanye atau kasak-kusuk pemilih yang menyerahkan hak suaranya karena motif uang (money politics). Sedangkan terkait tim sukses, juga tidak ada yang mengabarkan mereka bertindak dengan segala cara seperti melakukan black campaign, rasial, intimidasi, serangan fajar, dan jurus-jurus yang mendegradasi kualitas demokrasi.
Kultur, perilaku, dan sikap pemimpin di AS juga patut menjadi cermin bagi mereka yang merasa pantas memimpin Indonesia. Pasca kemenangan, walaupun demokrasi AS sudah begitu matang, Obama masih perlu menyerukan kepada pihak yang terlibat bahwa persaingan secara politik kembali bersatu membangun negara. Persatuan ditegaskan Obama sebagai kunci membangun bangsa.
Seruan persatuan ini bukanlah sebatas jargon. Lihat saja pada pemilu sebelumnya, Obama merangkul kandidat calon wakil presiden kompetitor, Hillary Clinton, sebagai menteri luar negeri. Indahnya, istri mantan Presiden Bill Clinton itu pun menerima dengan lapang dada. Mitt Romney pun sudah mengakui kekalahan dan memberikan ucapan selamat kepada Obama secara langsung.
Sekilas bisa disimpulkan, demokrasi di AS tidak lagi pada fase prosedural, tapi fase substantif yang ditopang kultur yang matang. Pemimpin bersaing bukan sebatas menang dan kalah yang berujung pada perebutan kekuasaan, melainkan memperebutkan satu tujuan, bagaimana berkontribusi untuk negara. Sedangkan di Indonesia, kualitas demokrasi belum beranjak dari kutukan Mpu Gandring kepada Ken Arok dan keturunannya akibat nafsu memiliki sebilah keris.
Demokrasi masih berujud saling tikam (tumpas kelor) politik. Dengan demikian, pemilu presiden hanya menghasilkan pemenang yang mendapat kekuasaan dan si kalah yang merasa sakit hati, tersingkirkan, dan berujung dendam kesumat tanpa henti.
Apa manfaat dan pelajaran yang bisa diambil Indonesia? Tentu saja terpeliharanya kedekatan negeri ini dengan negara adi daya itu sebagai dampak hubungan emosional Obama karena berayahtirikan orang Indonesia dan pernah bersekolah di Jakarta. Emotional-historical effect ini bukan sekadar isapan jempol.
Beberapa fakta bisa menjadi tolok ukur ada peningkatan simbiosis mutualisme kedua negara yang terbangun selama kepemimpinan Obama yakni hubungan budaya dan pendidikan yang semakin meningkat, kerja sama militer yang secara konkret terwujud dalam hibah pesawat F-16, dan bidang-bidang lainnya. Hubungan yang terbangun dalam bingkai comprehensive partnershipini tentu akan semakin meningkat karena Obama kembali memimpin untuk satu periode lagi ke depan.
Selain manfaat pragmatis, proses pemilu juga bisa dijadikan pelajaran Indonesia bagaimana membangun prosedur dan kultur demokrasi yang baik. Walaupun, harus diakui, demokrasi kedua negara tidak bisa dibandingkan satu sama lain. Demokrasi di AS sudah terbangun ratusan tahun dengan segala dinamikanya sehingga menjadi begitu matang, sedangkan Indonesia baru memulai pasca-Reformasi 1998.
Dari sisi teknis prosedural, misalnya, Komisi Pemilihan Umum (KPU) bisa belajar bagaimana hasil pemilihan presiden dapat diketahui pada hari yang sama, tidak ada persoalan daftar pemilih tetap (DPT) dan laporan pelanggaran sistematis akibat profesionalitas penyelenggara pemilu, hingga kemudian berujung ke mahkamah konstitusi. Dari sisi kultur,di level grass rootpemilu AS terasa begitu mulus.
Tidak ada noda akibat bentrokan antarsimpatisan selama kampanye atau kasak-kusuk pemilih yang menyerahkan hak suaranya karena motif uang (money politics). Sedangkan terkait tim sukses, juga tidak ada yang mengabarkan mereka bertindak dengan segala cara seperti melakukan black campaign, rasial, intimidasi, serangan fajar, dan jurus-jurus yang mendegradasi kualitas demokrasi.
Kultur, perilaku, dan sikap pemimpin di AS juga patut menjadi cermin bagi mereka yang merasa pantas memimpin Indonesia. Pasca kemenangan, walaupun demokrasi AS sudah begitu matang, Obama masih perlu menyerukan kepada pihak yang terlibat bahwa persaingan secara politik kembali bersatu membangun negara. Persatuan ditegaskan Obama sebagai kunci membangun bangsa.
Seruan persatuan ini bukanlah sebatas jargon. Lihat saja pada pemilu sebelumnya, Obama merangkul kandidat calon wakil presiden kompetitor, Hillary Clinton, sebagai menteri luar negeri. Indahnya, istri mantan Presiden Bill Clinton itu pun menerima dengan lapang dada. Mitt Romney pun sudah mengakui kekalahan dan memberikan ucapan selamat kepada Obama secara langsung.
Sekilas bisa disimpulkan, demokrasi di AS tidak lagi pada fase prosedural, tapi fase substantif yang ditopang kultur yang matang. Pemimpin bersaing bukan sebatas menang dan kalah yang berujung pada perebutan kekuasaan, melainkan memperebutkan satu tujuan, bagaimana berkontribusi untuk negara. Sedangkan di Indonesia, kualitas demokrasi belum beranjak dari kutukan Mpu Gandring kepada Ken Arok dan keturunannya akibat nafsu memiliki sebilah keris.
Demokrasi masih berujud saling tikam (tumpas kelor) politik. Dengan demikian, pemilu presiden hanya menghasilkan pemenang yang mendapat kekuasaan dan si kalah yang merasa sakit hati, tersingkirkan, dan berujung dendam kesumat tanpa henti.
(kur)