Bukan Saatnya Bercanda

Jum'at, 03 April 2020 - 06:32 WIB
Bukan Saatnya Bercanda
Bukan Saatnya Bercanda
A A A
Komaruddin Hidayat
Rektor Universitas Islam Internasional Indonesia (UIII)

BANGSA ini dikenal santai, sering menertawakan dirinya sendiri. Bahkan juga bercanda dengan sebuah musibah. Tidak hanya rakyat kecil yang sering bercanda. Para pejabat tinggi pemerintah pun sering begitu.

Misalnya ketika Jakarta dilanda banjir, muncul pernyataan dan komentar pejabat pemerintah, lihat anak-anak pada gembira bisa berenang di halaman rumah. Warga yang terkena banjir, ketika direkam kamerawan TV malah tersenyum sambil melambaikan tangan. Ada lagi ibu-ibu yang bergaya seakan pesiar mengendarai perahu karet di atas genangan air.

Demikianlah, masih banyak cerita dan peristiwa yang menggambarkan bangsa ini senang bersikap santai dan bersahabat dengan bencana. Tentu saja hal ini ada positifnya. Minimal mengurangi stres.

Warga yang tinggal di sekitar Gunung Merapi, misalnya, sudah akrab dengan ledakan Gunung Merapi yang sering meletus dan menciptakan hujan abu serta hawa panas. Namun, mereka enggan untuk pindah tempat tinggal. Mereka sudah merasa bersahabat dengan bencana alam.

Tetapi sikap santai, suka berkelakar, dan meremehkan persoalan ini ternyata mendatangkan risiko besar ketika menghadapi wabah korona (Covid-19). Baik masyarakat maupun beberapa pejabat pemerintah awalnya masih memandang kecil terhadap virus korona ketika pemerintah China sudah mengumumkan ancaman virus korona yang terjadi di Wuhan pada Desember 2019.

Misalnya muncul pernyataan, Indonesia kebal virus karena letaknya di daerah tropis. Masyarakat Indonesia tidak mempan virus karena biasa makan nasi kucing. Virus korona tidak mempan karena masyarakat terbiasa minum jamu tolak angin dan kerokan.

Ada lagi sikap yang meremehkan, masyarakat Indonesia sudah terbiasa tinggal di daerah kotor dan kumuh, virus korona akan mati lebih dahulu sebelum menyentuh manusia. Dan masih banyak lagi ungkapan, pernyataan, dan sikap yang meremehkan.

Kalau itu disampaikan oleh rakyat biasa, hal itu bisa dimaklumi. Tetapi ketika pernyataan demikian keluar dari mulut pejabat tinggi negara hasil pemilu yang sedemikian mahal ongkos sosial, politik, dan ekonominya, maka sungguh kita sesalkan.

Akhirnya pemerintah terlambat membuat langkah antisipasi. Praktis kehilangan momentum sedikitnya dua bulan, sementara virus sudah menyebar ke berbagai penjuru.Ibarat api, ketika sudah membesar maka semakin sulit dipadamkan serta memakan ongkos yang mahal. Sekian banyak dokter dan tenaga medis meninggal, belum lagi yang ambruk berubah posisi menjadi pasien Covid-19.
Tentu saja saat ini bukan saatnya kita saling menyalahkan. Kita hargai kerja keras presiden. Ini sebuah tragedi kemanusiaan global. Sekian banyak negara yang tergolong maju dari segi ekonomi dan pendidikan seperti halnya Italia dan Amerika Serikat, juga kedodoran.
Halaman :
Komentar
Copyright © 2023 SINDOnews.com
berita/ rendering in 0.1267 seconds (10.101#12.26)