Menunggu Mukjizat
Jum'at, 24 April 2020 - 08:15 WIB
loading...
Rektor Universitas Islam Internasional Indonesia Prof Dr Komaruddin Hidayat. Foto/Istimewa
A
A
A
Prof Dr Komaruddin Hidayat
Rektor Universitas Islam Internasional Indonesia
Menurut Worldometer, korban Covid-19 di seluruh dunia yang dinyatakan positif sudah melampaui angka 2,5 juta jiwa. Orang yang meninggal mendekati angka 200.000, sementara yang sembuh melampaui 700.000. Namun, orang yakin banyak korban lain yang belum tercatat dan dilaporkan. Meski relatif kecil persentase korban Covid-19 dibanding seluruh jumlah penduduk bumi yang mendekati angka delapan miliar orang, dampak yang ditimbulkan secara psikologis, ekonomis, serta politis amat sangat besar. Membuat dunia guncang dan oleng.
Ongkos yang dikeluarkan negara sangat tinggi, sementara kegiatan ekonomi terhenti sehingga pertumbuhan ekonomi dunia mandek, bahkan menurun.
Maka praktis per tumbuhanekonomi meng alami kontraksidan potensial mengarah padakebangkrutan kalau pandemi iniber ke lan jutan. Angka pengangguran tiba-tiba membengkak dengan sekian banyak implikasinya.
Sementara ini jumlah korban di Eropa dan Amerika lebih tinggi di banding negara-negara Pasifik, meskipun Covid-19 bermula dari Wuhan, China. Perbedaan ini telah mengundang berbagai analisis, faktor apa saja yang membuatnya berbeda, baik analisis dari sisi medis, sosiologis, politis, maupun ekonomis. Hal yang tak kalah menarik diikuti adalah munculnya berbagai teori konspirasi, siapa aktor di balik pandemi ini? Adakah ini murni perilaku alam, atau bikinan manusia, atau kehendak Tuhan? Bermunculan juga prediksi wajah dunia pascacorona.
Rektor Universitas Islam Internasional Indonesia
Menurut Worldometer, korban Covid-19 di seluruh dunia yang dinyatakan positif sudah melampaui angka 2,5 juta jiwa. Orang yang meninggal mendekati angka 200.000, sementara yang sembuh melampaui 700.000. Namun, orang yakin banyak korban lain yang belum tercatat dan dilaporkan. Meski relatif kecil persentase korban Covid-19 dibanding seluruh jumlah penduduk bumi yang mendekati angka delapan miliar orang, dampak yang ditimbulkan secara psikologis, ekonomis, serta politis amat sangat besar. Membuat dunia guncang dan oleng.
Ongkos yang dikeluarkan negara sangat tinggi, sementara kegiatan ekonomi terhenti sehingga pertumbuhan ekonomi dunia mandek, bahkan menurun.
Maka praktis per tumbuhanekonomi meng alami kontraksidan potensial mengarah padakebangkrutan kalau pandemi iniber ke lan jutan. Angka pengangguran tiba-tiba membengkak dengan sekian banyak implikasinya.
Sementara ini jumlah korban di Eropa dan Amerika lebih tinggi di banding negara-negara Pasifik, meskipun Covid-19 bermula dari Wuhan, China. Perbedaan ini telah mengundang berbagai analisis, faktor apa saja yang membuatnya berbeda, baik analisis dari sisi medis, sosiologis, politis, maupun ekonomis. Hal yang tak kalah menarik diikuti adalah munculnya berbagai teori konspirasi, siapa aktor di balik pandemi ini? Adakah ini murni perilaku alam, atau bikinan manusia, atau kehendak Tuhan? Bermunculan juga prediksi wajah dunia pascacorona.