Wacana Partai Islam Tunggal di Indonesia Bukan 'Barang' Baru

Jum'at, 28 Februari 2020 - 10:40 WIB
Wacana Partai Islam...
Wacana Partai Islam Tunggal di Indonesia Bukan 'Barang' Baru
A A A
JAKARTA - Direktur Eksekutif Indonesia Public Institut (IPI), Karyono Wibowo menilai usulan Ketua Dewan Pertimbangan MUI, Din Syamsuddin tentang perlunya satu partai politik Islam tunggal sebagai saluran aspirasi umat Islam di Indonesia bukan hal baru.

Menurut Karyono, wacana tersebut sesungguhnya sudah ada sejak dulu. Namun, sejak reformasi hingga saat ini belum pernah terealisasi karena tidak mudah menyatukan umat Islam dalam satu wadah partai Islam tunggal. (Baca juga: Usulan Partai Islam Tunggal Dinilai Mission Impossible )

"Pasalnya, di tubuh Islam sendiri banyak ragam aliran yang sulit disatukan. Ditambah lagi euforia demokrasi semakin mendorong berbagai pemimpin umat Islam lebih memilih mendirikan partai sendiri untuk mewadahi aspirasi umat masing-masing," tutur Karyono saat dihubungi SINDOnews, Jumat (28/2/2020)

"Oleh karenanya ceruk pemilih Islam tidak mudah disatukan dalam satu partai Islam tunggal karena mazhabnya memang berbeda," imbuh dia.

Karyono menyatakan satu-satunya yang pernah ada satu partai Islam adalah di saat rezim pemerintahan Orde Baru yang memaksa partai-partai Islam fusi ke dalam satu partai, yaitu Partai Persatuan Pembangunan (PPP).

"Itu pun tidak ada kata Islam, yang ada hanya gambar Kakbah sebagai salah satu simbul Islam," ucapnya. (Baca juga: Din Syamsuddin Usulkan Partai Politik Islam Tunggal )

Meski demikian, lanjut dia, dalam sejarah pemilu di era Orde Lama, Orde Baru dan pasca Reformasi tidak pernah menang pemilu. Oleh karenanya, ide Din Syamsuddin agar hanya ada satu partai Islam tunggal sulit direalisasikan dan belum tentu efektif.

"Sebab, faktanya, dalam sejarah pemilu pemenangnya selalu partai nasionalis moderat meskipun lebih dari 90 persen mayoritas warga negara Indonesia menganut agama Islam," terang dia.

Maka, Karyono menganggap peran umat Islam dalam menentukan kebijakan strategis kenegaraan tidak harus ditentukan ada tidaknya satu partai Islam tunggal. Bahkan Nur Cholis Madjid lebih tegas lagi mengatakan "Islam Yes Partai Islam No".

"Kalimat Cak Nur tersebut patut menjadi renungan kita semua," tandasnya. (Baca juga: Partai Islam di Indonesia Sudah Menjelma Menjadi Partai Sekuler ).
(kri)
Berita Terkait
Fatwa MUI: Salam Lintas...
Fatwa MUI: Salam Lintas Agama Bukanlah Makna Toleransi
Penembakan Kantor MUI...
Penembakan Kantor MUI Teror bagi Umat Islam, Motif Harus Diusut Tuntas
Peran MUI sebagai Takmil...
Peran MUI sebagai Takmil al-Kamil
MUI: 10 Prinsip Islam...
MUI: 10 Prinsip Islam Wasathiyah Modal Penting Lawan Terorisme dan Ekstremisme
Setengah Abad MUI Berkhidmat
Setengah Abad MUI Berkhidmat
Buka Konferensi Studi...
Buka Konferensi Studi Fatwa MUI, Kiai Marsudi Sampaikan 3 Dasar Perubahan Fatwa Jadi Budaya
Berita Terkini
Menag Sebut Pesantren...
Menag Sebut Pesantren Sekolah Paling Aman Dunia dan Akhirat
Said Aqil Siradj: Kebangkitan...
Said Aqil Siradj: Kebangkitan Umat Harus Dimulai dari Penguatan Iman yang Hakiki
Dharma Pongrekun Tanggapi...
Dharma Pongrekun Tanggapi Kemenkes: Kalau Semua Sudah Konstitusional, Mengapa Masih Perlu Meyakinkan Publik?
PM Singapura Lawrence...
PM Singapura Lawrence Wong Bertemu Presiden Prabowo Besok, Ini yang Dibahas
IM57+ Desak KPK Usut...
IM57+ Desak KPK Usut Tuntas Amplop Bupati Kuansing untuk Menhut
Wamenkomdigi Sebut 3...
Wamenkomdigi Sebut 3 dari 5 Anak Palsukan Usia untuk Akses Medsos
Infografis
Ranking FIFA Terbaru:...
Ranking FIFA Terbaru: Argentina Gusur Spanyol di Puncak, Indonesia Meroket 4 Tingkat
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved