Memaknai RI sebagai Peringkat Ke-5 Global Islamic Economy

Selasa, 19 November 2019 - 07:41 WIB
Memaknai RI sebagai Peringkat Ke-5 Global Islamic Economy
Memaknai RI sebagai Peringkat Ke-5 Global Islamic Economy
A A A
H Sapta Nirwandar
Chairman of Indonesia Halal Lifestyle Center

Alhamdulillah, Kamis (14/11) lalu pada pembukaan INHALIFE Conference 2019 dalam rangkaian acara ISEF (Indonesia Syariah Ekonomi Festival) 2019, Dinar Standard dan Dubai Islamic Economy Development Center (DIEDC), merilis State of The Global Economy Report 2019/2020. Ini adalah laporan ketujuh yang menjadi referensi utama ekonomi Islam global.

Laporan ini diluncurkan langsung oleh Abdullah AL Awar, CEO DIEDC dan Rafi-uddin Shikoh dari Dinar Standard. Pada kesempatan itu, turut hadir Gubernur Bank Indonesia (BI) dan Executive Director KNKS (Komite Nasional Keuangan Syariah), Chairman IHLC (Indonesia Halal Lifestyle Center), serta Taleb Rifai––secretary general UNWTO 2008-2017.

Global Islamic Economy Report juga diluncurkan di beberapa kota lain yakni Madrid, New York, Dubai, dan Kuala Lumpur. Ringkasan laporan ini juga diluncurkan oleh IHLC dalam bahasa Indonesia. Indonesia tidak saja mendapatkan kehormatan menjadi tempat diluncurkannya laporan oleh CEO DIEDC dan Dinar Standard. Lebih dari itu, dalam laporan tersebut Indonesia naik peringkat dari peringkat 10 menjadi peringkat ke-5, setelah Malaysia, UEA, Bahrain, dan Arab Saudi.

Ini merupakan lompatan yang sangat berarti dalam pengembangan ekonomi Islam di Indonesia. Dalam laporan itu diketahui sektor apa saja yang berpeluang besar di Tanah Air. Mulai sektor modest fashion yang di peringkat ke-3, sektor islamic finance peringkat ke-5, dan muslim friendly travel peringkat ke-4.

Adapun sektor lainnya seperti makanan, media recreation, farmasi, dan kosmetik kita belum cukup dalam pasar global. Beberapa hal yang dilakukan oleh Indonesia sehingga dapat menaikkan peringkat pada laporan Global Islamic Economy (GIE) antara lain digenjotnya pembangunan infrastruktur di pusat dan berbagai daerah di Indonesia.

Selain itu, perluasan fasilitas wisata ramah muslim di berbagai destinasi serta diluncurkannya The Council of Modest Fashion untuk mempromosikan produk fashion yang inklusif, berkelanjutan sehingga mendukung tumbuhnya desainer-desainer modest fashion yang baru.

Oleh karena itu, seperti diutarakan Gubernur BI Perry Warjiyo dalam pidato pembukaan INHALIFE, Indonesia harus menjadi produsen produk halal dibandingkan menjadi konsumen. Peluang itu sebenarnya cukup besar apalagi jika kita melihat peluang bisnis halal industri global yang meningkat dengan pesat.

Dari laporan Global Islamic Economy 2019/2020, pengeluaran muslim global pada 2018 sebesar USD2,2 triliun diperkirakan mencapai USD3,2 triliun pada 2024 dengan pertumbuhan rata-rata mencapai 5,2%, dan bila dihitung secara kumulatif (CAGR) akan meningkat pertumbuhan sekitar 6,2% per tahun.

ISEF Pemersatu


Dewasa ini kondisi ekonomi Islam telah memiliki pijakan dan kemajuan pesat serta kian berperan penting dalam perekonomian global. Hal ini utamanya didorong oleh semakin meningkatnya permintaan terhadap produk dan jasa halal, oleh kaum muslim global.
Halaman :
Komentar
Copyright © 2022 SINDOnews.com
berita/ rendering in 0.1281 seconds (11.210#12.26)