Hadiri Penutupan Kongres, Pengamat: Jokowi Ingin Nasdem Tetap 'Good Boy' di Koalisi

Senin, 11 November 2019 - 09:15 WIB
Hadiri Penutupan Kongres,...
Hadiri Penutupan Kongres, Pengamat: Jokowi Ingin Nasdem Tetap 'Good Boy' di Koalisi
A A A
JAKARTA - Istana mengonfirmasi bahwa Presiden Jokowi akan hadir dalam penutupan Kongres Partai Nasdem ke-2 nanti malam. Kehadiran Jokowi dinilai akan menambah dinamika peta politik di internal koalisi pemerintahan semakin seru mengingat, publik menunggu cara komunikasi dan 'gimmick' politik yang akan terjadi.

"Hal yang bagus jika Jokowi diundang dan menutup Kongres Nasdem. Artinya Nasdem sedang menjaga keseimbangan. Keseimbangan tetap menjaga koalisi dengan Jokowi dan berteman dengan partai oposisi seperti PKS," kata Analis Politik asal Universitas Al Azhar Indonesia, Ujang Komarudin saat dihubungi Sindonews, Senin (11/11/2019).

Ujang mengatakan, langkah Nasdem mengundang Jokowi dalam penutupan Kongres dinilai karena partai ini ingin bermain cantik. Meski kecewa dengan Jokowi, Nasdem tetap akan ada dikoalisi Jokowi. Karena jika keluar koalisi Nasdem sendiri yang rugi, lantaran sudah berkeringat dan berdarah-darah memenangkan Jokowi di Pilpres 2019 lalu.

Di sisi lain, kata Ujang, naik-turun hubungan dalam politik itu biasa. Menurutnya, hubungan panas-adem dengan Jokowi pun biasa. Sebab politik itu basisnya kepentingan yakni kepentingan yang sama.

Sehingga jika masih kepentinga yang sama, maka akan masih bersama-sama. Namun jika kepentingannya berbeda, maka akan mencela. "Jokowi sih berharap Nasdem tetap menjadi "good boy". Tidak menjadi "bad boy" di koalisi Jokowi. Jokowi berkepentingan Nasdem tetap ada dalam barisan koalisinya," ujar dia.

Direktur Indonesia Political Review (IPR) itu memprediksi, peta politik di internal koalisi tetap tak akan berubah. Menurutnya, tetap akan ada perang dingin sebagai strategi politik 'mengamankan diri' masing-masing partai politik.

Lebih lanjut, Ujang mengatakan, koalisi yang didasarkan kepentingan dan pragmatisme akan mudah luntur dan pecah. Namun koalisi yang dibangun atas dasar ideologi akan kuat dan kokoh. "Nah koalisi Jokowi itu kan koalisi berbasis kepentingan dan pragmatisme, maka yang terjadi bagi-bagi kekuasaan. Yang ada saling tikam sesama partai koalisi," tutur dia.

"Dan akan ditambahnya wamen 6 lagi. Memandakan Jokowi sedang menerapkan politik akomodatif. Dan ingin membagi jabatan bagi partai yang belum dapat kekuasaan. Dan ini melanggar dan menabrak sendiri pernyataannya yang ingin birokrasi ramping dan agar anggaran negara tidak boros," imbuh Ujang menandaskan.
(pur)
Berita Terkait
Reshuffle Kabinet, Partai...
Reshuffle Kabinet, Partai Demokrat: Kami Tidak Akan Mencampurinya
Isu Reshuffle Kabinet,...
Isu Reshuffle Kabinet, Ini Arahan AHY dan Sikap Partai Demokrat
Partai Demokrat Minta...
Partai Demokrat Minta Penanganan Wabah Corona Tidak Politis
Demokrat Pertanyakan...
Demokrat Pertanyakan Belum Ada Langkah Taktis Jokowi Setelah Marahi Menteri
Kinerja Menteri Rendah,...
Kinerja Menteri Rendah, Politikus Demokrat Nilai Perlu Reshuffle Kabinet
Demokrat Minta Pemerintah...
Demokrat Minta Pemerintah Jalankan Kebijakan Pro Growth, Pro Poor, Pro Job
Berita Terkini
6 Poin Pernyataan Roy...
6 Poin Pernyataan Roy Suryo dan Dokter Tifa setelah Penahanan Ditangguhkan
Tim Hukum Merah Putih:...
Tim Hukum Merah Putih: Tawaran RJ untuk Roy Suryo dan Dokter Tifa Bukan Ajakan Jokowi
Bukan Sekadar Insinyur,...
Bukan Sekadar Insinyur, Alumni ITS Didorong Kuasai Kepemimpinan dan Finansial
Roy Suryo-Tifa Tak Ditahan,...
Roy Suryo-Tifa Tak Ditahan, Relawan Jokowi: Ini Bukan Akhir dari Segalanya
Hadapi Masa Depan yang...
Hadapi Masa Depan yang Tak Pasti, Mahasiswa Diajarkan Kepemimpinan, Inovasi, dan Talenta Digital
APHI Dorong Pemegang...
APHI Dorong Pemegang PBPH Manfaatkan Permenhut untuk Kembangkan Proyek Karbon
Infografis
20 Universitas Terbaik...
20 Universitas Terbaik di Indonesia Versi QS WUR 2027
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved